Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Nasional  
Nasional
indonesiana-tempoid-default
Dian Basuki 
Sabtu 10 Desember 2016 17:15 WIB
Dibaca (914)
Komentar (0)

Ziarah Politik

indonesiana-sunset-pixabay.jpg

 

Mengapa orang-orang yang maju ke gelanggang kompetisi politik menyempatkan diri berziarah ke makam tokoh tertentu? Apa yang mereka cari dan dapatkan, dan apa yang ingin mereka tunjukkan? Ziarah mereka bukan aktivitas dalam sunyi, melainkan diwarnai—bila bukan sarat—publikasi.

Makam, tentu saja, merujuk kepada masa lampau—yang dekat maupun yang jauh dalam konteks waktu. Dalam masa lampau itu hidup figur-figur yang menorehkan jejak sejarah di negeri ini, yang auranya masih menguar hingga kini. Masyarakat masih mengenang tokoh-tokoh ini sebagai sosok pejuang yang inspiratif, yang ide-idenya masih kerap dikutip atau diceritakan.

Boleh jadi, mereka yang terjun ke arena kompetisi politik ingin mentautkan diri dengan figur yang sudah tiada, bila tidak secara ideologis, mungkin tekad dan semangat, mungkin pula sepak terjang. Mereka  ingin menunjukkan sedang menyerap spirit sosok-sosok kharismatik masa lampau: Soekarno sebagai proklamator, Sudirman sebagai simbol kegigihan perlawanan gerilya, atau si Pitung sebagai pembela kaum lemah. Atau siapapun.

Mentautkan diri dengan figur historis memang tidak selalu berhasil, bahkan bisa jadi terkesan dipaksakan untuk menciptakan citra tertentu. Sebagai sumber inspirasi, para figur historis itu niscaya akan selalu dapat digali semangatnya, namun secara aktual tidak serta merta akan diwujudkan oleh para peziarah ini. Pada diri peziarah, kecondongan ideologi tak akan serta merta berubah; bahkan spirit keberpihakan para figur sejarah itu kepada wong cilik bisa jadi juga tak akan diserap.

Ziarah hanya mencapai tataran permukaan, sebab tak sanggup menyentuh apa lagi menyerap substansi dari ketokohan figur sejarah itu—tentang mengapa mereka dicatat dalam sejarah bangsa ini. Tataran permukaan itu memang muncul dalam slogan, jargon, kutipan, namun sayangnya tanpa ruh. Barangkali, ziarah itu pun tidak mendatangkan inspirasi apapun.

Tidak mudah untuk menghindar dari menyebut kunjungan itu sebagai ziarah politik, sebab secara faktual terjadi pada momen-momen politik. Ziarah dilakukan untuk menunjukkan tautan dengan figur yang sudah tiada. Ziarah dilakukan untuk menunjukkan kepada siapa mereka mengambil inspirasi, semangat, dan gagasan.

Para pemain dalam kompetisi politik itu berusaha mentautkan tantangan masa kini dengan kebesaran masa lampau yang diwakili oleh figur-figur yang diziarahi. Para peziarah ini ingin terlihat mewarisi spirit dan ideologi figur-figur itu. Pada akhirnya, masyarakatlah yang akan menimbang. (sumber foto ilustrasi: pixabay.com)**




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.