Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Nasional  
Nasional
indonesiana-tempoid-default
Cristie 
Kamis 22 Desember 2016 06:34 WIB
Dibaca (17381)
Komentar (0)

Jokowi Lagi Amnesiakah?

indonesiana-559975

 

Presiden Jokowi sepertinya sedang mengidap amnesia (kondisi terganggunya daya ingat). Dihadapan kader Partai Hanura, Jokowi menyebutkan dulu subsidi BBM mencapai Rp300 triliun diam semua, tapi sekarang ada subsidi Rp800 miliar untuk Papua pada rame.

Pernyataan Jokowi ini sangat aneh. Bukankah dulu saat ada upaya mengurangi subsidi BBM dengan menaikkan harga akan dilakukan pemerintah, partainya Jokowi (PDI P) sangat getol mengkritik. Aksi unjuk rasa terjadi hampir diseluruh daerah, bahkan ada ancaman pencabutan mandat Presiden saat itu (SBY). Apakah itu yang disebut dengan diam? dan Jokowi sendiri pada tanggal 27 Maret 2012 juga menyebutkan kalau rakyat tidak ingin harga BBM naik. Itu artinya juga Jokowi sendiri juga menyadari kalau ada aspirasi masyarakat agar subsidi BBM jangan dikurangi dulu.

Kok Jokowi ngomong dulu diam saja. Apakah Jokowi sendiri lupa dengan apa yang dia ucapkan dan partainya lakukan?. Tol dalam kota pernah lumpuh oleh para demonstrans saat terjadi aksi penolakan kenaikan harga BBM. Itu masih kurang rame pak Jokowi?

Sekarang Jokowi menyebutkan subsidi Rp800 miliar pada rame. Yang mengherankan, rame dimana? Pemberitaan media juga terkesan tidak banyak, aksi unjuk rasa juga sedikit. Lalu rame nya dimana, apakah itu hanya halusinasi Jokowi saja?

Mari kita lihat rincian harga minyak mentah dunia mulai dari tahun 2010 sampai 2014. Pada tahun 2010 sebesar USD77,11 per barel, pada 2011 kembali naik ke USD91,39 per barel. Pada tahun 2012 minyak mentah turun menjadi USD88,95 per barel. Sedangkan di 2013, harga minyak mentah berhasil naik ke USD 92,41 per barel. Sedangkan hingga November 2014, rata-rata harga minyak mentah dunia berada di kisaran seharga USD89,08 per barel.

Disaat harga minyak dunia masih tinggi, pemerintah berencana untuk menaikan harga BBM yang secara otomatis akan mengurangi subsidi BBM. Tapi saat rencana itu diwacanakan, semuanya langsung rame. Yang paling rame tentu PDI P, dengan alasan akan membebankan hidup rakyat kecil. Atas pertimbangan kondisi dan aspirasi masyarakat, pemerintah tidak jadi menaikkan dan memilih untuk tetap memberikan subsidi besar bagi BBM.

Anehnya, saat harga minyak dunia turun, Jokowi yang telah menjadi Presiden malah menaikkan harga BBM. Pada awal Januari, harga minyak mentah Brent untuk pengiriman bulan Februari ditetapkan US$49.92 per barel. Inilah kali pertama minyak mentah dunia menyentuh harga di bawah US$50 per barel sejak Mei 2009.

Selama empat bulan masa pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi), total sudah menaikan tiga kali harga BBM dan dua kali menurunkan harganya. Pertama, belum sebulan Jokowi menjadi Presiden, BBM naik Rp 2.000 pada 17 November 2014. Meski sempat menurunkan BBM dua kali menjadi Rp 6.600/ liter, pemerintah kembali menaikkan harga BBM 200/liter menjadi Rp 6.800 bulan lalu (28/2). Kini, 28 Maret, Pemerintah kembali naikkan harga bbm ketiga kalinya sebesar Rp 500 menjadi Rp 7.300.

Apakah Jokowi sudah benar-benar lupa dengan kejadian masa lalu, sehingga tidak bisa membedakan mana yang rame dan diam. Dan apakah Jokowi juga sudah lupa kalau dulu pernah berjanji untuk tidak mencabut subsidi untuk BBM. Kenaikkan harga BBM telah diikuti kenaikan harga barang barang kebutuhan pokok masyarakat. Oleh karena itu, kenaikan harga BBM, dipastikan akan semakin membebani masyarakat.




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.