Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Dunia  
Timteng
indonesiana-tempoid-default
Ibnu Burdah 
Selasa 10 Januari 2017 15:02 WIB
Dibaca (3689)
Komentar (0)

Islam dan Pedang

indonesiana-561194

            Para orientalis generasi awal berpandangan bahwa Islam memang disebarkan dengan pedang, dengan kekerasan. Bahkan jika kita mencermati buku-buku sejarah, termasuk yang ditulis sejarawan muslim, maka sulit menghindarkan kesan bahwa sejarah Islam itu memang berdarah-darah. Buku-buku sejarah Islam mulai tingkat dasar hingga buku referensi, sekali lagi yang ditulis umat Islam sendiri pun, sangat menekankan pada konflik dan perang  baik dengan orang lain maupun dengan sesama muslim.  Karena itu, mudah dimengerti jika kemudian terbentuk pemahaman kuat di luar muslim bahwa Islam itu disebarkan melalui pedang. Para penulis muslim pun berupaya menyangkal tesis itu dengan kegamangan atau dengan argumen yang apologetik.

            Salah satu argumen yang seringkali dikemukakan adalah muslim pada masa awal itu berperang dalam rangka untuk mempertahankan diri (defensif), bukan untuk melakukan penyerangan (ofensif). Argumen ini sama sekali tidak bisa diterima jika kita mencermati fakta sejarah secara sungguh-sungguh. Pada masa Sahabat Abu Bakar misalnya, perang terjadi di Suriah di bawah pimpinan Amr bin Ash dan di Iraq  di bawah pimpinan Khalid bin Walid. Jadi perang terjadi di luar wilayah muslim yang saat itu berpusat di Madinah.

Pada masa Sahabat Umar saat perluasan wilayah berlangsung secara intensif, perang juga tidak pernah terjadi di kota Madinah, namun pecah di sebagian Suriah sekarang, Palestina, Mesir, Persia dan sekitarnya. Semuanya di luar wilayah muslim saat itu. Pada masa Sahabat Ustman, perang juga terjadi di Tripoli dan Ciprus bukan Madinah. Pada masa Umayyah yang beribu kota di Damaskus, perang juga tidak pernah terjadi di kota tersebut namun di wilayah-wilayah yang sangat jauh seperti Afrika Utara (al-maghrib al-Arabiy), Vandal/Andalusia Spanyol, Boerdoex Prancis, Asia kecil, Turkistan dan lainnya.

            Bagaimana mungkin kita menyatakan bahwa perang yang dilakukan muslim seperti itu untuk bertahan atau mempertahankan wilayah semata, sementara para pejuang muslim “ngluruk” ke negeri-negeri yang cukup jauh dari wilayahnya. Jadi, argumen yang menyatakan muslim berperang karena diserang, atau untuk mempertahankan wilayahnya semata sulit diletakkan dalam konteks sejarah itu.

Era Konfrontatif

            Ledakan sejarah muslim[i] terjadi paska meninggalnya Nabi SAW. Istilah itu tidaklah berlebihan menilik gerak dan sepak terjang pejuang Islam dalam perluasan pengaruhnya baik ke sisi Utara, Barat, maupun Selatan.  Dalam waktu kurang dari satu abad, umat Islam yang semula adalah entitas kecil di Mekah menjelma menjadi kekuatan yang mampu memperluas wilayahnya ke Afrika Barat hingga Eropa, seluruh dunia Arab saat ini, Asia Tengah, Ciprus, Sind, Turkistan, dan negeri-negeri sekitarnya. Padahal di Barat dan Timur, kekuatan Persia dan Romawi mencermati dengan seksama kekuatan baru yang sedang bertumbuh ini dan bersiap untuk “menerkamnya”.

Sejarah mencatat bahwa  masa-masa abad ketujuh hingga delapan masehi, saat perluasan wilayah muslim/al-fath/pembebasan secara spektakuler- adalah masa-masa konfrontatif. Pada  masa itu, lahirnya entitas dan kekuatan baru berarti ancaman bagi eksistensi kekuatan besar yang sudah ada. Dalam teori Hubungan internasional saat ini, situasi itu digambarkan sebagai realisme ekstrem yakni situasi di mana antarkekuatan saling berebut kekuasaan secara fulgar menggunakan kekuatan mentah. Sikap diam berarti dalam ancaman sedangkan sikap agresif adalah keniscayaan zaman.  Jika umat Islam tidak melakukan serangan hampir pasti mereka yang akan diserang. Pada masa sekarang pun, hubungan internasional masih diwarnai dengan semangat semacam itu kendati kemudian retorikanya menjadi sangat halus seperti demokratisasi, HAMisasi, pembebasan sipil, dan sebagainya.

Jadi, sebagai muslim kita perlu bersikap fair terhadap sejarah kita sendiri dan tidak membelanya secara membabi buta dengan mengabaikan fakta. Sikap itu justru merugikan umat Islam sendiri dan generasi selanjutnya. Umat Islam harus mengakui bahwa penyebaran Islam juga diwarnai dengan konflik dan perang, namun itu adalah sesuatu yang tidak mungkin dihindarkan sebab ia adalah tuntutan dan bahasa zaman.

Namun, penaklukan-penaklukan muslim untuk ukuran saat itu memiliki distingsi dan karakter yang amat berbeda. Umat Islam menyebut penaklukan itu sebagai al-fath yakni upaya pembebasan wilayah-wilayah itu dari  penindasan politik, eksploitasi ekonomi, dan penggerusan agama dan budaya dari kekuatan besar seperti Persia dan Romawi ataupun dari penguasa yang lebih kecil. Potret penaklukan Islam seperti penaklukan Umar di Yerussalem,  kendati tidak keseluruhan demikian, menunjukkan bahwa Islam memiliki daya tarik luar biasa sehingga banyak orang memercayainya. Etika perang Islam sebagai contoh kecil melarang merusak tanaman ataupun karya peradaban yang lain, apalagi melukai dan membunuh anak-anak dan wanita, termasuk larangan membunuh atau melukai tawanan perang. Itu saja sesungguhnya adalah catatan yang cukup berharga tentang distingsi perang Islam di tengah kekejian Romawi dan Persia.

Kekuatan Islam awal itu, terletak pada  karakter intrinsik Islam itu sendiri, bukan pada pedang, yang antara lain[ii] : Pertama, kesederhanaan baik teologi maupun ritual-ritualnya. Orang biasa sekalipun akan dengan mudah “mengunyah” teologi Islam tanpa penalaran yang berat dan panjang. Kedua adalah visi keadilan yang dibawanya yang berarti membuat kekuatan baru itu berada di garis terdepan dalam membela masyarakat kecil baik secara politik, ekonomi, maupun sosial. Daya tarik kesetaraan dan keadilan ini begitu menonjol pada masa-masa awal perjuangan Nabi. Ketiga adalah cara pandang agama ini yang tidak membelakangi dunia namun juga tidak mempertuhankannya. Keseimbangan cara pandang ini adalah visi baru yang tidak dimiliki agama-agama sebelumnya.

Singkatnya, kendati sebagian sejarah Islam awal memang diwarnai konflik dan perang, hal itu tidak bisa digunakan sebagai bukti bahwa Islam menyebar dan disebar dengan pedang sebagaimana gambaran orientalis awal; pedang di tangan kanan Qur’an di tangan kiri. Semua entitas dan kekuatan saat itu tidak bisa terhindar dari bahasa zaman yang penuh kekerasan. Namun demikian, karakter dan kualitas etika perang Islam telah melampaui zamannya, bahkan lebih humanistik daripada perang-perang yang disebut sebagai perang humanitarian atau perang untuk kebebasan/demokrasi sekarang ini.


[i]   Akbar S. Ahmed, Rekonstruksi Sejarah Islam Di Tengah Pluralitas Agama dan Peradaban, (penerj. Amru Nst, ed. Ahmad Norma P.),  (Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru, 2003).

[ii] Akbar S. Ahmed (2002),

 

Dr. Ibnu Burdah, MA, adalah dosen UIN Sunan Kalijaga, guru ngaji, dan penulis buku 1. Melejitkan Kemampuan Bahasa Arab Aktif Strategi Debat 2. Pendidikan Karakter Islami untuk anak SD/ SMP/ SMA, 2. Kristal-Kristal Cinta  Para Filsuf, Sufi, dan Nabi. 3. Metode Baca al-Qur’an ramah Anak Iqra’ Tartila. 4. Menjadi Penerjemah: Metode dan Wawasan Menerjemah. 5. Islam  Kontemporer: Revolusi dan Demokratisasi. 6. Bahasa Arab (untuk Hubungan) Internasional. 7. Segitiga Tragedi Tanah Palestina. 8. Wajah Baru Yahudi Orthodox vs Zionisme Zionisme. 9. Puisi-Puisi Nakal dari Pesantren: Setengah Humor Setengah Cendekia. Tulisan ini dikutip dari buku Ibnu Burdah, Islam Kontemporer: Revolusi dan Demokratisasi, Malang: Intrans Publishing.




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.