x

Iklan

Adjat R. Sudradjat

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Prabowo Kembali Tabuh Genderang Kegaduhan?

Pernyataan Ketua Umum partai Gerindra baru-baru ini, mengingatkan kembali pada suasana Pilpres 2014 lalu yang gaduh dan penuh intrik

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Entah apa yang ada di benak Prabowo Subianto, pensiunan Letnan Jenderal TNI AD, dalam menyikapi Pilkada DKI Jakarta 2017. Tiba-tiba saja ia menyatakan ada calon yang maju dengan cara licik.

Pernyataan ketua umum partai Gerindra ini, tanpa menudingkan telunjuknya pada salah satu pasangan calon gubernur dan wakil gubernur memang. Tidak pada AHY-Silvy, tidak pada Ahok-djarot, dan mustahil pada pasangan Anies-Sandi yang jelas-jelas dukungannya duet partai Gerindra dengan PKS. Bisa jadi yang dimaksud Prabowo antara AHY-Silvy dan Ahok-Djarot.

Hanya saja kalau ditelaah lebih jauh, rasanya tidak mungkin kalau telunjuk Prabowo mengarah pada pasangan AHY-Silvy. Paslon nomor satu ini tampaknya sama sekali belum ada masalah dengan penguasa Hambalang ini. Kalau pun ada, paling rivalitas antara partai Gerindra dengan partai Demokrat. Tapi dalam Pemilu 2014 lalu, perolehan suara partai Gerindra mampu mengungguli partai pimpinan SBY yang notabene ayah dari calon Gubernur nomor urut satu itu. Malahan kalau boleh dibilang, hubungan antara  Prabowo dengan SBY selama ini tokh adem-adem saja.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Maka dugaan publik pun mengerucut pada paslon nomor urut dua, Ahok-Djarot. Terutama calon Gubernurnya sendiri, yakni Basuki Tjahaja Purnama, alias Ahok. Betapa tidak, beberapa fakta sahih menguatkan dugaan dengan yang dikatakan Prabowo sebagai calon yang licik itu.

Bermula saat Pilkada DKI 2012. Duet Jokowi-Ahok didukung PDIP dan partai Gerindra. Jelasnya pasangan itu, Jokowi sebagai calon Gubernur diajukan PDIP, dan Ahok yang menjadi calon wakil Gubernurnya diusung partai Gerindra, karena memang ketika itu mantan Bupati Belitung timur tersebut merupakan kader partainya Prabowo.

Hanya saja, saat Jokowi maju dalam pilpres 2014, dan bersaing dengan Prabowo, Ahok menyatakan keluar dari partai Gerindra. Bisa jadi ketika itu penyebab pecah kongsi Ahok dengan partai Gerindra, karena kemungkinan besar gara-gara Ahok berpaling, tidak mendukung Prabowo, dia justru malah mendukung Jokowi.

Secara manusiawi, saat itu, wajar kalau Prabowo merasa ditusuk dari belakang oleh orang yang telah dibesarkannya  itu. Bisa jadi Ahok dianggap sebagai orang yang tidak tahu terima kasih. Tetapi bisa jadi juga Ahok sendiri tidak setolol itu. Dirinya kemungkinan besar memiliki pertimbangan sendiri, mengapa saat itu dia tidak mendukung Prabowo, dan mengapa dia keluar dari partai Gerindra.

Memang dinamika, dan kalau boleh disebut juga kegaduhan, baik menjelang, saat, dan sesudah Pilpres 2014 lalu, ditambah dengan pecah kongsi antara Ahok dengan Prabowo (partai Gerindra), lambat laun, seiring dengan berjalannya waktu, sudah kembali adem-ayem. Apalagi dengan intens-nya pertemuan antara Jokowi dengan Prabowo, baik di Hambalang maupun di Istana Merdeka, seakan menyiratkan perseteruan, atawa rivalitas kedua kubu itu sudah kembali sirna.

Ya, usai berjabat tangan, berpelukan, bahkan saat di Hambalang dua ‘musuh’ itu sudah berhaha-hihi saat menunggang kuda, publik pun ikut gembira. Beban dalam dada musnah seketika. Tak sedikit yang memuji Prabowo sebagai tokoh nasional yang elegan. Bahkan ada pula yang menyebutnya negarawan yang berjiwa besar.

Sungguh. Bagaimanapun rakyat sudah sedemikian lelahnya disuguhi kegaduhan demi kegaduhan yang terjadi selama ini, di negeri ini. Dan dengan sikap Prabowo tempo hari, rakyat pun merasa sedikit bernapas lega lagi.

Akan tetapi, usai berorasi dalam acara kampanye untuk pasangan calon gubernur dan wakil gubernur  DKI Jakarta nomor urut pemilihan tiga, Anies Baswedan dan Sandiaga Uno, betapa publik dibuat terhenyak oleh pernyataannya itu.

Dengan tegas dan lugas, dikatakannya ada calon yang maju pada Pilkada DKI Jakarta dengan cara yang licik. Dan tudingan itu kemungkinan besar akan menyulut timbulnya kegaduhan, atawa paling tidak gesekan atara satu kubu dengan  yang lain, sebagaimana yang telah terjadi selama ini, akan semakin  meruncing. Apalagi bagi para pendukung yang bersumbu pendek.

Memang, terlepas dari suatu kewajaran dalam suasana kampanye dalam sistem demokrasi, saling mengadu program, saling cela kelemahan, bahkan saling menjatuhkan mental satu sama lain, akan tetapi statemen yang dilontarkan seorang Prabowo, yang sudah diberi predikat sebagai negarawan berjiwa besar, terasa naif terdengar. Bahkan tidak menutup kemungkinan, predikat pendendam, dan bersumbu pendek akan kembali terulang ditudingkan.

Ikuti tulisan menarik Adjat R. Sudradjat lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler