Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Nasional  
Politik
indonesiana-tempoid-default
Arif Utama
Rabu 15 Februari 2017 14:46 WIB
Dibaca (1337)
Komentar (0)

Mengapa Harus Menghentikan Guyonan terhadap SBY?

indonesiana-sby1.jpg

Saya tidak setuju dengan maksud TD Tempino kala secara persuasi mengatakan untuk Hentikan Guyonan Terhadap Presiden SBY. Saya memang mengerti bahwa memang seharusnya seorang mantan Presiden, dengan segala kepeduliannya, harus dihormati. Namun, kala beliau mengtakan pergeseran budaya akibat di Internet, hal ini sangat mengganggu.

Satu pertanyaan membumbung di kepala saya: bagaimana caranya menganut budaya ketimuran di dunia maya yang seringkali dipandang sebagai identitas negeri ini?

Karena pasalnya begini, ada hal yang terjadi di dunia nyata yang takkan padu jika dilakukan di dunia maya. Andaikata SBY mengungkapkan kalimat ini di forum di mana ia dihormati sebagai mantan Presiden - maksud saya, cuitan "saya bertanya" itu - ia mungkin dipandang hormat. Karena hal tersebut ia katakan di ranah nyata, di mana orang-orang memandang nilai ketimuran di mana seorang negarawan macam SBY patutnya di hormati.

Namun, ketika di ranah maya, hal ini takkan berlaku. Karena dunia maya sendiri adalah wilayah yang berbeda - memiliki adat dan tata kramanya sendiri yang membuatnya berbeda di dunia nyata.

Pandangan McLuhan, sedikit banyaknya, mungkin akan membuat anda mengerti mengapa hal ini dapat terjadi. McLuhan, pada 60-an, pernah menjabarkan konsep Desa Global - global village. Di kala itu ia katakan, bahwa desa global adalah dunia di mana kita tak lagi memiliki batas waktu dan tempat dengan jelas. Informasi dapat menyebar secara viral melalui media daring ke seluruuh dunia. Dan kalau anda pahami, budaya tentu saja tak hanya soal darah. Namun juga tentang wilayah. Internet kemudian memiliki budayanya sendiri, yang kerapkali gagal dipahami oleh manusia-manusia yang baru menyentuh internet.

Internet adalah sebuah ranah bebas di mana anda bisa mengutarakan kesukaan atau ketidaksukaan anda. Anda bebas mengekspresikan diri dan menyebarkan apapun di ranah maya. Anda boleh mengutarakan opini anda, dan juga, adalah hak orang lain untuk menyebarkan reaksi anda. Sebebas itu hingga bagaimana gelar, prestasi, atau predikat yang disandang oleh seseorang bisa terlihat samar-samar di dunia nyata. Orang-orang Indonesia, yang menggunakan internet, jelas dipengaruhi oleh kultur internet di mana mereka bebas berekspresi. Dan begitu juga di negara-negara lain bernasib serupa.

Dan inilah yang terjadi pada SBY.

SBY, menurut hemat saya, telah sangat salah menggunakan medium twitter sebagai cara dia mengutarakan opininya. Medium is a message, dan ia gagal memahami karakterisitik Twitter sebagai medium komunikasinya. Coba anda lihat Trump dan kekonyolannya yang tak jauh beda dengan SBY, apakah salah apabila ia pada akhirnya juga berbuah sebagai meme? Lalu mengapa berharap meminta orang-orang berhenti menjadikannya sebagai guyonan di kala ia tak dapat beradaptasi dengan budaya di internet? Tentu saja tidak. Itu adalah suatu konsekuensi yang ia dapat dari aksinya.

Setidaknya, sebagai orang yang jago strategi dan seorang negarawan, SBY harusnya belajar tentang budaya internet. Tentang do or dont perihal apa yang bisa ia laksanakan di ranah nyata namun tak berlaku di ranah maya. Ia harusnya sadar bahwa caranya berkomunikasi itu macam selebtwit, selebgram, youtuber yang hanya mengejar popularitas di dunia maya. Patutnya ia memahami bagaimana cara menyampaikan aspirasi tanpa harus berujung menjadi meme sehingga kredibilitasnya sendiri menurun di ranah maya.

Dan selama ia tak memahami tentang hal ini, orang-orang akan terus menjadikan apa yang ia cuitkan sebagai guyonan dan memandangnya sebagai selebtwit. Kalau ia memang tak ingin menjadi guyonan, setidaknya, ia perlu beradaptasi. Karena jika menunggu satu internet untuk beradaptasi dengan beliau, tanpa mengurangi rasa hormat, butuh berapa puluh tahun kira-kira?




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.