Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Ruangbaca  
Seni Budaya
indonesiana-tempoid-default
Hendra Friana 
Jumat 17 Februari 2017 15:00 WIB
Dibaca (224)
Komentar (0)

Darma Sepiring Nasi Soesilo Toer

indonesiana-bw2.jpg

RUANG seluas 5x4 meter persegi itu disesaki buku. Sebagian berjejer rapi, lainnya bertumpuk tak tertata. Temboknya penuh dengan berbagai gambar dan foto berbingkai. Ada Kartosoewirjo, Soekarno, Samin Surosentiko, dan lain-lain. Di samping meja baca yang menghadap langsung ke jendela, seorang laki-laki meluruskan punggungnya di kursi.

Cahaya di ruangan begitu suram, tapi kami masih bisa melihatnya cukup jelas. Ia berkaos putih bergambar, dan mengenakan sarung sebagai bawahan. Rautnya keras. Rambutnya putih tak tersisir. Sesekali helaan nafasnya terdengar. “Itu Optima. Hadiah Pram buat adiknya supaya orangnya optimis,” katanya sambil menunjuk sebuah mesin tik tua.

Laki-laki itu adalah Soesilo Toer. Kami menemuinya di PATABA, perpustakaan yang ia bangun di jalan Sumbawa 40, Jetis, Blora, pada suatu malam. Letaknya agak menyamping dan menyatu dengan bangunan rumah yang dibangun di atas tanah seluas 3.250 meter persegi. Diberi nama PATABA—akronim dari Pramoedya Ananta Toer Anak Semua Bangsa—untuk mengenang almarhum Pram, kakak kandungya.

Soesilo Toer lahir di Jetis, Blora pada 17 Febuari 1937. Ketika umurnya masih belasan, atas ajakan Pram, ia pindah ke Jakarta bersama beberapa saudaranya yang lain. Tapi di Jakarta, hidupnya ternyata tak seperti yang diiming-imingkan oleh sang kakak. “Dulu, Pram ngajak ke Jakarta bertiga. ‘Kamu nanti saya sekolahkan dari mister-mister, dokter-dokter.’ Tahu-tahu tuh sebulan cuma dikasih uang 10 rupiah. Sisanya? Cari sendiri,” kenangnya.

Maka, untuk mencukupi kebeutuhan dan biaya pendidikannya ketika itu, ia mulai bekerja sebagai penulis. “Tadinya disuruh jadi tukang jual rokok, tapi tukang jual rokok di Jakarta kan sudah dimiliki orang-orang betawi... Mau jaga sepeda, juga sudah dikuasai orang betawi. Kemana lagi? jalan satu-satunya ya nulis,” katanya.

Sejarah kepenulisan Soesilo Toer teramat panjang. Ia telah mengerjakan berbagai tulisan sejak usia 13 tahun, mulai dari cerpen hingga nasihat perkawinan. Hingga kini, tak terhitung lagi berapa jumlah karyanya yang telah terbit, baik di media masa maupun dalam bentuk buku. Ia juga pernah bekerja sebagai redaktur di majalah IPPI (Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia) bersama Emil Salim dan Mahbub Junaidi.

Kegemarannya membaca buku membuatnya memiliki banyak bahan untuk ditulis. Sebuah buku berjudul “Hectormelot” karya Sugiarmo yang ia pinjam dari perpustakaan Pram, merupakan salah satu yang paling berpengaruh dalam dunia kepenulisannya. “(Buku, red) itu menceritakan seorang anak kecil yang dijual kepada pemain monyet keliling. Zaman itu, saya dapat bahan cerita dari situ. Semacam ide lah,” kenangnya.

Suatu ketika, pernah ia menulis tentang keluarga Pram. Tulisan itu dimuat di Lembar Indonesia, koran pimpinan HB. Jassin, dengan honor tertinggi. Oleh Pram, tulisannya lalu dibilang bagus, “pendek-pendek kayak Thomas Man, padat kayak Gorky.” Tapi sayang, tak lama kemudian kakak sulungnya itu meradang, karena merasa dikritik. “Kamu ngritik saya ya? Kalo kamu nggak suka, pergi kamu dari rumah!” kata Pram seperti dikisahkannya.

Dalam kesusastraan, nama Soesilo Toer memang tak sementereng Pram, tapi pengalaman dan pengetahuannya dalam banyak hal boleh jadi melampaui sang kakak. Ia pernah menempuh master ekonomi dan politik di universitas Patrice Lumumba dan meraih gelar doktor untuk bidang yang sama di Institut Plekhanof, Uni Soviet (sekarang Rusia) pada kurun 1962-1971.

Hal itu tentu bukan perkara mudah. Untuk meraih gelar doktor saja, ia mengatakan disertasinya harus diujikan di empat perguruan tinggi. “Kalo cuma satu gak akan dikasih. Gak akan lulus saya,” ujarnya. Makanya, ia sempat marah ketika disertaisnya—Republik Jalan Ketiga—oleh seorang wartawan dianggap menjiplak “The Third Way”, karya Antony Giddens. “Giddens bicara masalah sosiologi, saya bicara masalah ekonomi, kan beda. Dia nulis tahun 80, saya nulis tahun 67, kok saya jiplak?”

Pada sebuah wawancara yang dimuat di harian Suara Merdeka, dirinya menjelaskan bahwa disertasi tersebut merupakan kritik sekaligus sintesis dari sosialisme dan kapitalisme. Menurutnya, kedua ideologi itu tidak harus bersebrangan tetapi saling menguatkan. Karena tujuannya sama: mensejahterakan. Jika sosialisme menekankan pembangunan masyarakat dari industri ringan ke berat, sedangkan kapitalisme sebaliknya, maka jalan ketiga yang ia tawarkan adalah melalui industri lokal yang sesuai dengan kapasitas dan kapabilitas wilayahnya.

Ia mengambil contoh Cina dan Rusia sebagai negara sosialis yang menerapkan sistem kapitalistik—dengan memberlakukan zona ekonomi bebas. Sebaliknya, ia mengatakan, Amerika dan negara-negara Skandinavia yang mengelola ekonomi industri secara kapitalistik, justru memberlakukan sistem sosialis dalam distribusi pendapatan, misalnya lewat jaminan sosial, kemudahan mengakses pendidikan, pelayanan kesehatan, dan lain-lain.

Lebih lanjut, dalam kritiknya, ia mengatakan bahwa kapitalisme telah berkhianat dan berubah menjadi imperealisme lantaran mengabaikan kesejahteraan, memberlakukan jam kerja lebih panjang, mengurangi pendidikan, dan sebagainya. Namun kini hal itu disadari oleh orang-orang kapitalis. “Makannya di Amerika itu ada orang-orang kiri. Dibiarkan mereka. Bukan dimusuhi seperti di Indonesia, tapi diajak kerjasama.” Sebab jika tak diperbaiki, lanjutnya, kapitalisme tak ubahnya sedang “menggali kuburnya sendiri.”

Sebelum berangkat ke  Rusia, Soesilo Toer menyelesaikan pendidikannya di Akademi Keuangan di kota hujan, Bogor. Saking semangatnya, waktu itu ia bahkan juga sempat menjadi mahasiswa Universitas Indonesia (UI) dan Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Jakarta, serta mengambil pendidikan nonformal: kursus perbukuan. “Di UI dulu satu tahun, terus di IKIP. Dulu namanya B1, terus berubah jadi IKIP. Sekarang kan jadi universitas negeri kan,” ucapnya.

Di Rusia, Soesilo termasuk mahasiswa yang unggul. Ia menyelesaikan tesisnya lebih cepat setengah tahun dari tenggat waktu yang ditentukan universitas. Padahal, ia merupakan salah satu yang datang terlambat saat permulaan tahun ajaran baru. Ia sampai di Rusia pada akhir oktober, sementara kuliah telah berjalan sejak memasuki September. “Mereka sudah cas cis cus, saya masih ngowoh aja, enggak ngerti. Jadi saya paling terbelakang waktu itu. tapi ternyata waktu akhir tahun pelajaran, saya paling duluan ujian.”

PASCA 1965

SEBELUM G30S meletus, Soesilo Toer dan anak-anak Indonesia lainnya merupakan anak emas di kampus Lumumba. Ia menceritakan, seorang tokoh Rusia bernama Kursov yang pernah berkuliah di Universitas Gadjah Mada, Jogjakarta, telah membangun kampus itu karena melihat antusiasme orang Indonesia yang besar terhadap pendidikan. “Tapi ketika 65 terjadi, kita dari anak emas jadi anak tiri,” kata Soesilo.

Sejak itu, dengan seketika polarisasi terjadi di kalangan mahasiswa Indonesia. Suasana memanas, terlebih setelah dicabutnya paspor para mahasiswa Indonesia yang dianggap “kiri” atau simpatisan Soekarno. Soesilo sendiri sebenarnya bukan golongan manapun, “Saya orang netral,” ujarnya. Tapi tiba-tiba saja, oleh rezim Soeharto paspornya juga ikutan dicabut. Hal itu, menurutnya, salah satunya karena waktu itu ia tidak mengikuti tahlilan untuk mengenang para jendral yang terbunuh di Jakarata. Sebabnya sepele: ia tidak menerima surat undangan acara tersebut.

Selain itu, barangkali lantaran seorang bernama Tantyo yang merupakan keponakan Njoto, wakil ketua CC PKI, pernah mendatangi kamarnya pada suatu malam. “Tantyo itu bawa adjudannya Aidit ke kamar. Saya sendiri gak kenal. Datang bawa apel sekilo, ngobrol. Apa maksudnya ini? Nah itulah, kemudian saya dituduh pro Cina, karena Aidit kan pro Cina."

Setelah tak memiliki paspor, anak ketujuh dari sembilan bersaudara keturunan Mastoer itu lalu mencari suaka ke pemerintah Rusia. Dan ketika masa studinya selesai, agar bisa kembali ke Indonesia, Soesilo wajib melapor selama dua tahun seperti mantan narapidana. Setelah itu, baru ia mendapat paspor Indonesia dengan masa berlaku tiga bulan.

Ia mengakui, dalam tempo tiga bulan itu, sebenarnya ia bisa saja pergi dan menetap di Belanda. Apalagi, secara historis, sebenarnya ia merupakan warga negara Belanda—Belanda baru mengakui kedaulatan Indonesia pada 1947, sehingga orang Indonesia yang lahir sebelum tahun tersebut dianggap sebagai warga negara Belanda—tapi ia menolak. “Dulu saya masuk Trikora mau ngelawan Belanda, kok sekarang ngemis-ngemis di sana? kan kayak apa rasanya. Makanya saya enggak mau. Saya pilih pulang.”

Tahun 1973, pesawat sipil bernomor PU114 yang membawanya pulang mendarat di Bandara Internasional Kemayoran. Ia ingat betul ketika baru mendarat saat itu, ia langsung dibekuk oleh beberapa petugas dan digiring ke tempat penahanan. Di antara para petugas itu, ia mengenali wajah salah satu teman sekampusnya di Lumumba. Belakangan, saat meraka bertemu dalam acara perkumpulan lulusan Rusia, sang temannya itu mengaku kalau dirinya terpaksa melakukan hal tersebut “ya kalo saya gak nangkap kamu ya, saya yang ditangkap,” katanya.

Tapi baginya, tak pernah ada bara dalam sekam. Bahkan di masa Orde Baru, meski telah berkali-kali dimangsa tuduhan dan prasangka, ia tetap pasrah dan bersikap biasa. “Jadi semua yang merendahkan saya, saya nikmati sebagai kekuatan,” ucapnya.

Misalnya, ia bercerita, suatu waktu di tahun 1998, ia pernah disoraki orang-orang dengan nada hinaan “PKI-PKI...” Hal itu terjadi ketika tanah negara yang ia manfaatkan sebagai taempat usaha di Bekasi, hendak dijual oleh Lurah setempat.

Awal ceritanya bermula saat Kementrian Pekerjaan Umum memperbolehkan masyarakat untuk memanfaatkan tanah-tanah negara yang terbengkalai. Soesilo kemudian menggambil satu lokasi di daerah Bekasi, namun, menurut tradisi di tempat itu, hak pakai tanah diberikan kepada orang yang tinggal atau memiliki tanah bersebelahan dengan tanah yang terbengkalai itu.

Mau tak mau, akhirnya Soesilo bekerjasama dengan lurah di daerah tersebut. Tapi pada suatu waktu, lantaran membutuhkan uang, sang lurah lalu ingin menjual tanah tersebut dan membatalkan perjanian secara sepihak. Ia meminta Soesilo untuk pindah, tapi permintaan itu ditolak oleh Soesilo. Adu mulut terjadi dan orang-orang pun berkerumun menyaksikan peristiwa emosional itu.

“Becak, taksi, semua pada berhenti. Mereka nonton, dengerin. Ya kalau dia bilang gua pukul terus mukul, kan malu sendiri orangnya. Dia gede saya kecil. Ya kan?  Hitung aja pakai psikologi. Terus dibawa ke (kantor) RW, kira2 jalan 100 meter.. Ooh disoraki itu. PKI, hore... PKI!” kisahnya.

Sepiring Nasi

CERITA lainnya datang dari seorang bernama Chan Chen Pui. Ketika itu, Soesilo masih dipenjarakan di daerah Kebayoran Lama. Selama hampir enam tahun, berangsur-angsur statusnya meningkat dari tahanan isolasi hingga kepala blok. Kerjaannya adalah mencuci piring dan mengisinya dengan nasi untuk para narapidana. Sementara Chen yang datang dari Kalimantan entah bagaimana suatu waktu mengalami kelaparan. Soesilo lalu membantunya mecuci piring sehingga Chen bisa mendapatkan sepiring nasi untuk sarapan.

Uniknya, sepiring nasi ini kemudian menjadi darma yang sangat berarti dalam hidupnya hingga sekarang. Ketika bebas dari penjara, pada suatu hari secara tak sengaja mereka kembali bertemu. Soes yang ketika itu tak memiliki pekerjaan lalu ditawari oleh Chen untuk menjualkan produk dari pabirik buku tulis di daerah Grogol. Seketika, tawaran itu lalu diterima.

Selama setengah tahun, ia kemudian bekerja sebagai penjual buku dan berbagai alat tulis. “Saya pernah jualkan satu gudang map. 220.000 map. Ditawarkan pada saya 23 rupiah, saya jual laku 28 rupiah. Tak hitung lagi untung satu juta.” Dari hasil penjualan itu, ia pun dapat membeli beberapa meter tanah di Bekasi dan Bogor. Ia lalu mempercayai bahwa kata-kata Budha telah berlaku dalam hidupnya: berbuatlah darma, dan anda akan dibimbing oleh darma itu seumur hidup. “Jadi saya hidup dari 1980 sampai sekarang itu dari sepiring nasi, karma saya sepiring nasi pada orang tionghoa tadi,” ungkapnya.

Selain pekerjaan tadi, semasa hidupnya Soesilo geluti telah menggeluti banyak pekerjaan: dari juru ketik Bahasa Belanda sampai kuli di Siberia. Yang disebut terakhir itu, ia lakukan ketika libur musim panas di Rusia. Ia bersama timnya yang berjumlah tiga puluh orang mengambil proyek pembangunan rel kereta Trans-Siberia yang dicanangkan pemerintah Uni Soviet itu dalam tempo dua bulan.

“Kami ambil proyek membetulkan rel kereta api trans Siberia. Rel kereta api terpanjang di dunia, dari Moskow sampai Hanoi, Vietnam. Iya, Vietnam. (Perjalanan Moskow-Hanoi) Naik kecepatan kereta api seratus kilo per jam itu setengah bulan. Bayangin aja!”

Ia juga pernah menjadi dosen di Universitas 17 Agustus, Jakarta. Kepada kami bahkan, ia mengaku pernah menjadi Rektor, singkatan dari ngorek yang kotor-kotor. “Jadi dosen kan budak saya, harus berangkat tepat waktu, pulang tepat waktu, nggak enak. Jam 12 saya keluar nanti malam, tahu mas? Cari sampah, santai. Kalo mau makan enak ya kerja yang keras, gitu aja kok. semua pekerjaan mulia buat saya, bentuknya apapun yang penting kerja yang menciptakan nilai tambah atau nilai lebih,” ungkapnya.

Kini, pekerjaan itu ia lakoni hampir tiap malam selama sekitar dua jam. Sesekali pula ia menjual hasil ternak yang ia pelihara di halaman rumahnya yang luas. Untuk lelaki seumurannya, Soesilo masih jauh dari kesan lelaki tua yang renta. Apalagi dengan embel-embel ringkih. Bersama anak semata-wayangnya, Bene Santoso, ia masih suka berpergian ke luar kota—Jogja, Magelang, Semarang dan sebagainya ia tempuh dengan mengendarai sepeda motor.

Di akhir wawancara, adik bungsu Pram ini mengatakan bahwa salah satu obsesinya adalah hidup lebih lama dari sang kakak. “Saya dulu sama pram bedanya kan 12 tahun. Pram meninggal umur 81, sekarang saya 79, sebentar lagi 80. Tingal satu lompatan lagi kan? Walaupun Cuma satu hari pram harus saya kalahkan dalam umur, itu obsesi saya.” Jika telah mencapai umur seratus tahun “saya mau panen jati,” lanjutnya sambil terkekeh.




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.