Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Nasional  
Nasional
indonesiana-tempoid-default
M Alfan Alfian 
Jumat 17 Februari 2017 15:36 WIB
Dibaca (579)
Komentar (0)

Media, Hoax, dan Siluman Ular~M. Alfan Alfian

indonesiana-hoax.jpg

M. Alfan Alfian

Dosen Pascasarjana Ilmu Politik Universitas Nasional, Jakarta

Ketika media massa memberitakan kehadiran Presiden Jokowi dalam peringatan Hari Pers Nasional di Ambon, pekan lalu, serial sinetron Naagin di sebuah televisi swasta tiba pada adegan-adegan menegangkan. Serangkaian adegan tersebut tampak paralel dengan pesan penting Presiden bahwa media arus utama harus meluruskan kabar di media sosial yang bengkok. Presiden berharap media arus utama berperan melawan berita bohong alias hoax yang banyak muncul di media sosial.

Siluman ular dalam sinetron India itu terus beraksi mengelabui semua orang. Ketika saya berada di depan televisi yang menyiarkannya, adegan menegangkan itu divisualisasikan dengan seekor ular kobra besar yang tengah melilit perempuan tua. Tentu sang perempuan berteriak-teriak minta tolong. Tapi suaminya tak segera menolong. Sang suami justru sibuk berdebat dengan anak laki-lakinya.

Sang ayah melarang anaknya menolong sang ibu. Sang ayah berpendapat, bisa saja ular kobra maupun istrinya adalah jelmaan siluman ular. Dia yakin si siluman tengah berusaha mengelabuinya. Tapi anaknya berpendapat sebaliknya bahwa perempuan tua itu asli ibunya, sedangkan ular kobra adalah siluman. Perdebatan keduanya keras dan bertele-tele. Sementara itu, sang perempuan tua terus merintih.

Saya hanya melihat sepotong adegan dan potongan-potongan adegan serupa terdahulu. Jelaslah yang membuat keluarga itu terpecah-pecah dalam ketidakpercayaan satu sama lain adalah faktor siluman ular yang bisa menjelma siapa saja. Ia bak jin yang menyamar sebagai manusia dalam kaset serial Anglingdharmo karya Ketoprak Mataram Yogyakarta yang populer pada 1970-an dan 1980-an. Jin yang menyamar itu merusak pakem dan mengobrak-abrik kemapanan yang ada melalui tipuan-tipuan yang sepertinya benar.

Siluman ular atau jin yang menyamar juga lazim hadir dalam kisah-kisah 1001 Malam dan versi sejenis. Manusia, yang memang tidak berkemampuan mengenali manusia hasil kamuflase jin, cepat tergiring ke lorong labirin konflik yang bertele-tele. Kalau direfleksikan dengan konteks pesan Presiden Jokowi di Ambon, hoax merupakan efek pekerjaan sang siluman ular atau jin yang menyamar dalam kisah-kisah fiksi tersebut.

Hoax dibuat agar masyarakat masuk perangkap labirin konflik. Istilah labirin berasal dari mitologi Yunani, labyrinthos, yang merupakan struktur rumit rancangan Daedalus untuk Raja Minos. Fungsinya adalah menjebak Minotaur, si manusia berkepala kerbau, yang akhirnya bisa dibunuh Theseus. Daedalus begitu cerdik dalam membuat labirin, sampai-sampai ia sendiri hampir tidak bisa keluar dari bangunan yang berlorong-lorong itu. Untungnya, dia menyertakan tali panjang sebagai petunjuk jalan keluar.

Para "siluman ular" pembuat hoax sengaja membuat perangkap-perangkap. Melalui aneka variasi berita bohong sebagaimana lazim diklasifikasikan dalam teori propaganda, mereka berkepentingan mengacak-acak kemapanan untuk meraih tujuan-tujuan politik. Cara kerjanya nyaris seperti orang melempar bom atom. Atom-atom hoax itu menyebar sedemikian cepatnya melalui media sosial. Orang yang meyakininya sebagai kebenaran cenderung ikut-ikutan menularkannya, sehingga daya sebar dan rusaknya super-efektif. Orang tergiring ke dalam jebakan labirin benar-salah: seolah-olah diri sendiri dan kelompoknya yang paling benar, sementara semua yang di luar salah.

Perbedaan pendapat yang terpicu hoax mendorong divergensi politik dan sosial lebih luas. Ujungnya, muncul kekacauan. Inilah yang dalam konteks tertentu diingatkan Eric Schmidt dalam bukunya, The New Digital Age (2013). Pada abad digital baru ini,

Schmidt mencatat, media digital menyediakan peluang sama bagi semua orang untuk seluas-luasnya berbuat kebaikan atau kejahatan. Potensi perbuatan baik sebanding dengan perbuatan jahat.

Tapi kita tahu, "sang siluman ular" begitu pandai dan licik dalam menyamar. Dia bisa tampil sebagai sosok-sosok yang baik hati, protagonis, pahlawan, atau pembela kebenaran. Dia bisa menjelma artis, politikus, tokoh agama, birokrat, aparat keamanan, wartawan, siapa saja. Dia bisa membuat hoax halus hingga kasar dan menentukan sejauh mana kadar efektivitas hasutannya ke masyarakat.

Lantas, di mana posisi media arus utama dalam sengkarut hoax ini? Mereka diharapkan menjadi pemandu dan rujukan agar masyarakat tidak terjerembap ke dalam labirin konflik akibat hoax. Mereka diharapkan bisa menjadi lawan tanding "sang siluman ular" pembuat onar itu dan tampil sebagai pendekar sakti yang dipercaya masyarakat. Namun, dapatkah? Jawabannya bergantung pada sejauh mana mereka konsisten dan mampu bekerja dalam kerangka etika jurnalistik serta tidak larut dalam politik praktis.

Tak hanya Presiden, masyarakat juga berharap besar pada media arus utama. Harapan itu janganlah dipudarkan oleh hal-hal yang justru menjauhkan media dari kepercayaan masyarakat. Media arus utama tak dimungkiri dalam kadar tertentu punya kepentingan bisnis dan politik. Karena itu, masyarakat tetap mencermati kadar obyektivitas dan sudut pandang pemberitaan masing-masing, apakah mereka cenderung tampil sebagai pendekar sakti atau malah bagian integral dari "siluman ular".




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.