Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Ruangbaca  
Seni Budaya
indonesiana-tempoid-default
Bimo  Wiwoho
Jumat 17 Februari 2017 16:50 WIB
Dibaca (230)
Komentar (0)

Mainstream karena Kamu Antimainstream

indonesiana-563398

Pernah dicap penyuka mainstream? Sebetulnya, sudah basi jika kita diberi atau bahkan kita memberi stempel demikian oleh dan kepada seseorang. Tetapi, masih ada lho. Jidat saya korbannya. Terlepas dia orang asing atau teman sendiri, gemas betul saya dibuatnya. Padahal agamanya pun mainstream. Huh, sungguh istimewa beliau itu.

Besarnya gema penggunaan cap mainstream dan antimainstream sempat menyeruak. Cap itu biasanya digunakan kalangan remaja nanggung yang masih mempedulikan hal yang maha tidak penting semacam itu.

Golongan antimainstream cenderung lebih ofensif. Senantiasa memfatwakan hal-hal yang mainstream itu sebagai sesuatu yang bernilai kacangan. Kavling tempat bermainnya yaitu di sekitar aktivitas. Dalam hal ini pekerja kantoran yang kerap terkena. Teknologi, yaitu penggunaan gadget yang disebutnya milik sejuta umat. Terakhir karya seni, seperti musik dan film yang digandrungi sebagian besar orang hingga menghegemoni. Dalam tulisan ini, saya ingin mengomentari tingkah seorang antimainstream terhadap selera musik saya.

Saya pribadi mengharamkan timbangan mainstream antimainstream untuk menyukai musik. Saat lagu yang saya sukai mengalun di warteg lalu dinyanyikan bersama oleh kolega asing di sana, apakah saya akan lantas membenci lagu tersebut? Tidak. Jika lagu tersebut memang baru pertama kali saya kenal, apakah saya lantas langsung menyukainya karena orang-orang turut menyanyikannya? Tidak juga.  

Saat saya dicap mainstream, saya hanya menjelaskan bahwa saya tidak mempersoalkan hal tersebut. Mainstream, antimainstream. Arus utama, anti arus utama. Apalah denotasi itu semua kalau saya memang menyukainya. Lebih lanjut, selepas memberi penjelasan itu, saya kemudian didakwa sebagai orang dengan selera rendahan. Wadaaw.

Bagi saya, itu semua hanya perbedaan selera. Tetapi olehnya, kata “hanya” jadi dibuat panjang. Perbedaan kesukaan jenis lagu dijadikan adonan untuk dimasak atau didebatkan. Alih-alih ingin tampak elegan, justru saya menilainya sebagai orang yang krisis pujian dan ingin dijadikan panutan tetapi selalu kandas. Dia sempat menasihati seolah menganggap saya pengemis wejangan. Saya iya-iyakan saja dengan senyuman sambil manggut-manggut lalu menyeruput kopi. Untung kopinya sudah agak dingin. Kalau masih panas, bahaya.

Saya kira, orang-orang seperti ini mengalami krisis yang tidak disadari. Krisis apa? Krisis motif dan tujuan dalam bertindak. Coba, apa alasan dia memvonis saya berselera rendahan berdasarkan lagu yang saya suka?  Apakah selera saya begitu tajam hingga melukai dirinya? Melukai keluarganya? Hellaaaaw. Lalu, apa tujuannya merekomendasikan saya lagu-lagu yang menurutnya bagus? Bukankah jika dia selalu bertindak demikian maka selera yang dia punya akan menjadi mainstream? Mengapa dia melakukan hal yang nantinya dapat menjelma menjadi sesuatu yang dia dihindari atau bahkan dibenci selama ini?

Seseorang di masa lalu mengatakan bahwa ada dua hal yang tidak patut diperdebatkan, yaitu agama dan selera. Kalimat itu selalu saya genggam dengan teguh sentosa sebagai bekal menuntut ilmu di sekolah yang sebenarnya, yaitu masyarakat. Bekal itu selalu bermanfaat bagi saya. Terutama agar terhindar dari perdebatan yang sama sekali tidak penting, kosong, dan hanya membuang-buang waktu. Saya lebih memilih dicap mainstream daripada dianggap sepemikiran dengan spesies yang sedari tadi saya bicarakan. 




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.