Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Nasional  
Nasional
indonesiana-tempoid-default
Dian Basuki 
Jumat 17 Februari 2017 20:28 WIB
Dibaca (505)
Komentar (0)

Dan Suara Cendekiawan Pun Kian Senyap

indonesiana-intelektual_hacbardedu.jpg

 

Dalam masyarakat manapun, selalu ada orang-orang yang disebut cendekiawan, intelektual, pemikir, ataupun ilmuwan. Umumnya, mereka menjalankan peran masing-masing dengan bertumpu pada kemandirian berpikir dan integritas individu. Kedua hal ini menjadi standar yang mereka jaga agar tidak luntur oleh apapun—terutama bias-bias kekuasaan dan preferensi politik yang partisan.

Mereka mengritisi apa yang mereka pandang tidak benar dilihat dari bingkai penalaran dan ukuran etika mereka. Mereka melakukan kritik tanpa beban, sebab niat dan tujuannya sangat jelas: kemaslahatan masyarakat—keadilan, kesejahteraan, kemerataan ekonomi, di antaranya. Mereka mampu bergerak mandiri karena terbebas dari tautan-tautan dengan kekuasaan—pemerintah, partai politik, elit oligarki, maupun militer.

Namun ternyata kekuasaan demikian penuh pesona. Dalam setiap rezim kekuasaan di manapun, tak terkecuali di negeri ini, saat ini, pesona kekuasaan telah menarik masuk para cendekiawan ke dalam orbitnya. Sangat jarang cendekiawan yang kuasa menampik tarikan ini, pesona kuasa begitu kuat. Begitu memikat. Di dalamnya ada sejenis godaan untuk merasakan ‘sensasi berada dalam lingkaran kekuasaan’. Sebagian masuk ke dalam orbit tanpa peduli apakah perannya seiring dengan ideal yang lama mereka gaungkan.

Kekuasaan berpotensi baik dan diperlukan, tapi juga mengandung unsur bahaya di dalamnya, terutama bila berada di tangan yang mudah silau oleh pesona kuasa. Dalam banyak kasus, kekuasaan lebih mengendalikan pemegangnya ketimbang sebaliknya—bekerja layaknya cincin utama dalam kisah fiksi The Lord of the Rings. Ketika seseorang memakai cincin ini, ia akan dirasuki hasrat berkuasa yang luar biasa—merasa dirinya kuat, paling benar, dst.

Kisah fiksi itu agaknya memperoleh topangan ilmiah. Sukhvinder Obhi, ahli saraf di Wilfrid Laurier University, Ontario, Kanada, menyebutkan: kekuasaan mengubah secara mendasar bagaimana otak manusia bekerja. Kekuasaan mendongkrak egosentrisitas, menurunkan rasa empati, dan meningkatkan kecenderungan memandang orang lain sebagai instrumen untuk mencapai tujuan.

Deborah Gruenfeld dan sejawatnya di Universitas Stanford, AS, menemukan bukti serupa. Tatkala seseorang menapaki jenjang kekuasaan yang lebih tinggi, ia cenderung memandang orang lain dalam konteks utilitas—seberapa bermanfaat orang lain bagi dirinya. Karakter mulia, seperti kecondongan untuk bersikap adil, mulai tergerus. Inilah fenomena ‘paradoks kekuasaan’ yang perlahan turut menghinggapi sebagian cerdik cendekia yang tertarik oleh gravitasi kekuasaan dan terserap ke dalam orbitnya.

Terjun ke dunia politik dan kekuasaan bukanlah hal buruk bagi cendekiawan, sebab di sanalah tersedia peluang untuk mewujudkan gagasan dan cita-cita yang mereka angankan sebelumnya bagi masyarakatnya. Di saat yang sama, mereka dihadapkan pada tantangan besar: terus berpihak kepada gagasan idealnya dan berusaha mewujudkan dengan kuasa yang ada di tangannya ataukah terserap, perlahan-lahan maupun cepat, oleh pesona kekuasaan. Dalam rezim kekuasaan manapun, termasuk di negeri ini, saat ini, betapa banyak mereka yang sebelumnya kerap disebut atau menyebut diri intelektual publik telah terpikat oleh pesona kuasa dan kemudian menjadi pembela yang tidak lagi kritis terhadap kekuasaan.

Dalam banyak peristiwa yang menuntut keberpihakan kepada keadilan, suara mereka sayup-sayup senyap. Pesona kuasa itu pula yang sukar ditampik oleh sebagian cendekiawan yang hidup di masa sekarang. Alih-alih memperadabkan kontestasi politik dan mensubversi konsensus-konsensus yang hanya memuaskan sebagian kecil orang, mereka justru ikut menikmati permainan. Gagasan ideal yang pernah mereka usung, mereka lipat di bawah bantal. Mereka bersikap seolah tidak melihat apa-apa, tidak mendengar apa-apa.

Sungguh mencemaskan bila kecerdasan yang mereka miliki tidak lagi diabdikan sepenuhnya untuk memikirkan kemaslahatan rakyat banyak, melainkan untuk membenarkan setiap tindak kekuasaan, memberi legitimasi rasional bagi tindakan yang tidak adil, kehilangan sikap kritis bahwa kekuasaan pun bisa salah. Menyedihkan bila cerdik cendekia kita tak punya daya lagi untuk memandu masyarakatnya dan menyuarakan yang tak berdaya. Inilah tragedi yang menawan banyak cendekiawan kita. (Sumber ilustrasi: hac.bard.edu) **




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.