Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Nasional  
Nasional
indonesiana-tempoid-default
Dian Basuki 
Jumat 17 Februari 2017 22:04 WIB
Dibaca (897)
Komentar (0)

Anatomi Hoax

indonesiana-hoax-1_concequensofsoundnet.jpg

 

Pada mulanya adalah niat buruk untuk memperdaya siapapun yang membaca kabar bohong (hoax, fake news), hingga kemudian pecah kekacauan. Orang-orang kehilangan pegangan dan tersesat jalan. Niat atau iktikad menggambarkan dengan jelas tujuan yang ingin dicapai oleh si pembuat kabar: memperdaya, memperolok, menyesatkan, memprovokasi, mendistorsi pemahaman, memanipulasi persepsi, membangkitkan rasa sentimen. Di dalam kabar bohong atau palsu tidak terkandung niat baik sedikitpun, sebagaimana tidak ada tujuan baik sedikitpun di dalamnya.

Siapapun dapat membuat kabar bohong: individu, institusi, kelompok—masing-masing dengan tujuannya. Ketika seseorang sengaja mengirim rute jalan yang salah menuju puncak gunung dan mereka yang mengikuti rute itu ternyata tersesat di rimba lebat, maka orang itu telah melakukan aksi penyesatan (dis-informasi yang mengandung unsur kesengajaan, bukan lagi mis-informasi yang terjadi lebih karena kelalaian). Melalui praktik dis-informasi, pembaca diarahkan untuk mengambil kesimpulan yang salah tentang suatu fenomena.

Penyesatan kadang-kadang dilakukan dengan metode yang lebih halus, yakni insinyuasi. Contoh kabar insinyuatif: ‘Sopir Prabowo ditemukan tewas di ranjang’. Judul kabar ini menggiring pembaca pada momen pertama ke arah sopir Prabowo yang figur publik. Ketika kita membaca isi beritanya, barulah kita tahu bahwa ini Prabowo yang lain. Penulis berita ini menyadari benar ‘nilai’ nama Prabowo untuk menarik perhatian pembaca, tapi sungguh ia telah melakukan penyesatan pula dengan judul yang bersifat insinyuatif.

Kecondongan insinyuatif bukan hanya dijumpai pada media sosial, blog pribadi maupun blog di media online, tapi juga di media cetak. Kata-kata dan tanda baca, khususnya tanda-tanya (?), dimainkan untuk menggiring persepsi pembaca ke arah tertentu. Ini tergolong manipulasi persepsi yang mengarahkan pembaca kepada preferensi tertentu. Mengapa ini menyesatkan? Karena di dalam isi berita tidak ada pernyataan yang konklusif, melainkan mengambang tapi cukup mampu mengarahkan persepsi pembaca yang tidak kritis.

Dengan cara-cara tertentu, sebuah kabar yang dibungkus dengan cermat akan mampu mengusik unsur-unsur sensitif dalam keyakinan ataupun kecondongan seseorang. Unsur-unsur sensitif yang relatif mudah diprovokasi oleh kabar palsu atau bohong bukan hanya suku, ras, dan agama, tapi juga semangat kelompok, organisasi, korps, partai, bahkan juga pemujaan terhadap figur—lihatlah sekeliling, ini terjadi; baik dalam kabar yang mendiskreditkan maupun kabar yang memuja.

Secara anatomis, kabar bohong atau palsu bekerja bagai parasit yang dapat muncul di tempat manapun yang bisa menjadi inangnya. Parasit ini cepat menjalar ke (tubuh) masyarakat melalui keunggulan teknologi—kemampuan amplifikasinya (penguatan) maupun kemampuan penyebarannya (viral). Di tangan pembaca yang tidak kritis, parasit ini semakin kuat karena dibumbui oleh komentar-komentar yang pro maupun kontra tapi kedua-duanya tidak dilambari oleh sikap kritis dengan menguji kebenaran kabar itu. Sungguh mencemaskan ketika ternyata berita bohong diproduksi oleh sekelompok orang dalam format jejaring dan direproduksi oleh banyak orang yang tidak memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi. Amplifikasi dan viralisasi, yang memang dikehendaki oleh produsen, menjadi sukar dikendalikan terlebih lagi ketika berita bohong itu menyerang secara tepat sasarannya.

Sasaran yang dengan tepat diserang oleh kabar bohong adalah ketidaktahuan, kemalasan, kekebalan yang rentan, dan kohesivitas sosial yang tengah rapuh oleh perselisihan. Ketidaktahuan terjadi karena terisolasi dari arus informasi, atau memperoleh informasi hanya dari sumber tertentu dan tidak terbuka terhadap sumber yang lain. Kemalasan diwujudkan oleh ketidakmauan untuk menguji kebenaran sebuah kabar. Individu yang memiliki preferensi tertentu (politik, misalnya) tanpa menyimpan cadangan sikap kritis cenderung memiliki kerentanan untuk diserang kabar bohong. Perselisihan pendapat dalam isu-isu sosial juga rapuh untuk dihantam kabar bohong.

Yang paling mengenaskan ialah ketika produsen kabar bohong memproduksi apa yang ingin banyak orang dengar, baca, maupun lihat. Sahdan, di televisi dua orang artis beradu mulut, dan kejadian itu adalah setting-an, sebab adu mulut itulah yang ingin ditonton pemirsa. Apa sesungguhnya yang sedang terjadi dalam masyarakat kita ketika mereka justru menanti persepsinya dimanipulasi oleh kabar bohong sebab kabar semacam itulah yang ingin mereka dengar, baca, dan lihat? (Sumber ilustrasi: consequenceofsound.net) **




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.