Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Nasional  
Politik
indonesiana-tempoid-default
Ranang  Aji SP
Senin 13 Maret 2017 21:00 WIB
Dibaca (1771)
Komentar (0)

Labirin Politik Kekuasaan dan Soehartoisme

indonesiana-soehartoisme.jpg

Soeharto, esensinya, oleh mereka yang kemudian berkuasa di masa Reformasi adalah alat bagi keberlangsungan sistem politik demokrasi model saat ini. Soeharto menjadi musuh yang diciptakan bersama demi berlangsungnya hegemoni politik reformasi yang berbasis pada demokrasi liberal. Persis sama ketika Soeharto menjadikan PKI sebagai musuh bersama demi terwujudnya hegemoni politik pembangunan.

Soeharto, mungkin memiliki dosa politik yang ia sandang dari kebutuhan demokrasi yang dianut dari kalangan reformis. Ia mungkin juga memiliki dosa kemanusiaan dan korupsi yang dituduhkan selama ia berkuasa. Hanya saja kesalahan itu menjadi sangat relatif ketika masyarakat di masa reformasi tidak sepenuhnya mendapatkan hasil dari harapan reformasi.

Ketika orang berbicara buruk tentang Soeharto sebagai seorang tiran yang antidemokrasi, masyarakat pada faktanya juga mencela dengan sistem dan hasil demokrasi yang didapatkannya saat Reformasi. Selama Reformasi, masyarakat hampir senantiasa pesimis bahkan apatis terhadap partisipasi politiknya. Hal ini bisa tercermin dari angka golongan putih yang senantiasa tinggi meskipun kemudian terkoreksi lebih baik setelah penilu 2014 lalu yang menawarkan harapan baru dengan lahirnya pemimpin model Jokowi dan Ahok.

Masyarakat juga mulai sebal dengan keriuhan elit politik yang sering dianggap bukan bagian dari kerja yang diinginkan masyarakat. Pada titik ini, masyarakat merasa dalam krisis kepercayaan terhadap para pemimpinnya atau hasil demokrasinya, baik yang berada di eksekutif atau legislatif. Kasus-kasus korupsi yang terus terkuak di pelbagai lembaga negara semakin membuat masyarakat kehilangan kepercayaan dan sebagiannya akhirnya menerima propaganda pembanding di masa Orde Baru.

Bagi banyak masyarakat, Soeharto, menjadi bagian romantisme masa lampau yang terus dirindukan. Tentu saja, mereka adalah para penyesal yang tidak mampu merasakan atau menemukan kebaikan dari masa kebebasan bicara, namun mampu merasakan beratnya hidup karena tekanan ekonomi saat ini, ketimbang di masa Soeharto. Bagi mereka, kepemimpinan Soeharto, meskipun nir demokrasi, tetaplah menjadi sosok yang ideal sebagai pemimpin yang dianggap dapat menjawab kebutuhan masyarakat.

Pada kondisi tersebut, bila kemudian diulam layaknya ayaman masalah dan ditambah dengan kecenderungan peta politik yang juga mulai bergeser isunya dari antidemokrasi Soeharto dan PKI pada isu Islam Nusantara dan Arab serta Syiah, maka wajar saja bahwa kemudian hegemoni dari stigma buruk tentang memori muram Soeharto menjadi semakin pudar. Isu-isu tersebut, pada dasarnya memberikan keuntungan bagi berjalannya propaganda pendukung Orba yang masih sangat besar.

Hasil jejak pendapat media online di Yogyakarat tahun 2015 lalu (misalnya) di kalangan mahasiswa angkatan 2012-2013 menunjukkan kondisi tersebut. 500 responden dari pelbagai universitas di Yogyakarta seperti UGM, UNY, Sanata Darma, UPN Veteran, Atmajaya, Ahmad Dahlan, 53,80% memiliki kesan baik terhadap Soeharto, sementara 46,80% setuju bila Soeharto mendapatkan gelar pahlawan.

Pudarnya memori buram Soeharto tersebut, barangkali bisa pula sebagai pengingat bahwa memang tidak ada yang abadi di dunia ini. Semua bergerak atas waktu dan kepentingan dimana kekuasaan dan kepentingan menjadi panglima di dalam politik kekuasaan. Waktu mengukir sendiri takdir penguasa politik.

Demikianlah model politik yang tampaknya kita anut, kekuasaan masa lalu, pada akhirnya sering menjadi bayang-bayang buruk bagi setiap rezim yang berkuasa dan harus diruntuhkan. Sadar atau tidak, semua pertarungannya akan membawa masyarakat pada perpecahan terus menerus dan hidup dalam sebuah bayang-bayang harapan tanpa mampu mendapatkannya sebagai kenyataan.

Tentu saja, kondisi demikian bila terus dibiarkan akan sangat menguras energi dan membuat bangsa kita terjebak dalam sebuah labirin politik kekuasaan tanpa ujung. Bergerak dari kepentingan menuju kepentingan kekuasaan semata.

Demokrasi kita, meskipun memiliki kesan yang baik di hadapan bangsa-bangsa lain yang membutuhkan keuntungan dari sistem demokrasi, tetapi tidak akan membuat kita beranjak dari keadaan yang sebenarnya terus dikeluhkan masyarakat. Kesenjangan sosial, kesenjangan ekonomi,kesenjangan budaya dan akhirnya kesenjangan peradaban. Sebaliknya, bila demokrasi kita melahirkan pemimpin yang membumikan harapan rakyat, maka tak ada lawan apapun yang mampu menamatkannya.




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.