Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Nasional  
Nasional
indonesiana-tempoid-default
Munawir 
Jumat 17 Maret 2017 15:37 WIB
Dibaca (2969)
Komentar (0)

Manuver Anies Merobek Tenun Kebangsaan

indonesiana-anis4.jpg

Anies Baswedan sedang menulis dirinya dalam proses politik dan gebyar demokrasi di Pilkada DKI Jakarta. Setelah sebelumnya menjadi referensi publik dengan citra reformis, intelektual dan penjaga kebhinekaan, kini ia terperosok pada labirin politik untuk ambisi kekuasaan.

Merapatnya Anies Baswedan ke markas FPI di Petamburan pada 1 Januari 2017 lalu, menjadi catatan publik. Anies dirasa telah mengkhianati komitmennya sebagai pengusung Islam yang menolak kekerasan dan penjaga kebhinekaan. Kata-kata penuh semangat Anies di beberapa forum—sebelum ia bergulat di DKI Jakarta—dikenang sebagai catatan penuh motivasi untuk menjaga Indonesia. Namun, mengapa ia merangsek ke ormas yang selama ini menjadi penggerak kekerasan dan penyumbang terbesar pelanggaran kebebesan beragama?

Anies Baswedan pernah mengungkap pentingnya menjaga tenun kebangsan. “Republik ini tidak dirancang untuk melindungi minoritas. Tidak juga untuk melindungi mayoritas. Republik ini dirancang untuk melindungi setiap warga negara, melindungi setiap anak bangsa,” ungkap Anies Baswedan, dalam esainya.

Lebih lanjut Anies menulis: “Menjaga tenun kebangsaan dengan membangun semangat saling menghormati serta toleransi itu baik dan perlu. Di sini pendidikan berperan penting. Namun, itu semua tidak cukup dan takkan pernah cukup. Menjaga tenun kebangsan itu juga dengan menjerakan setiap perobeknya. Bangsa ini dan pengurus negaranya mempermalukan diri sendiri di hadapan penulis sejarah, bahwa bangsa ini gagah memesona saat mendirikan negara bhineka tetapi lunglai saat mempertahankan negara bhineka,” demikian tulis Anies di Kompas (12/09/2012). Lalu, apakah Anies masih konsisten merawat tenun kebangsaan, atau dirinya dengan sadar merobeknya?

Ancaman Kekerasan

Front Pembela Islam yang dikomando Ustadz Rizieq Syihab selama ini menjadi ormas yang menggunakan label keagamaan untuk melakukan tindak kekerasan. FPI mendapatkan dukungan dari sebagian warga, dari mereka yang merindukan cara cepat memberantas ‘kemungkaran’. FPI memilih cara keras untuk menenggelamkan apa yang diangggapnya sebagai maksiat publik. Namun, mereka lupa, bahwa model dakwah yang menjadi teladan Nabi, yakni amar ma’ruf bil ma’ruf dan nahi munkar bil ma’ruf, memerintahkan kebaikan dengan cara yang baik, dan melarang kemungkaran dengan cara yang baik. Keduanya dilakukan dengan cara yang ma’ruf, baik dalam ukuran personal dan publik.

FPI dideklarasikan pada 17 Agustus 1998 di Halaman Pesantren al-Um, Ciputat, Tangerang Selatan. Hingga kini, FPI melakukan serangkaian kekerasan berbasis agama. Serangkaian kekerasan yang dilakukan jaringan militant FPI sepanjang 2001-2003  menjadi data criminal di kepolisian. Bahkan, FPI sempat dibebukan pada 06 November 2002. Kemudian, pada 20 April 2003, Ustadz Riziq Syihab ditahan pihak kepolisian karena aksi kekersan yang dilakukan. Pada 1 Juni 2008, FPI menyeang massa Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKK-BB) yang memperingati Hari Kelahiran Pancasila di Monas. Banyak orang terluka akibat penyerangan ini. Pada tahun-tahun selanjutnya, FPI juga melakukan tindak kekerasan dengan berbagai varian.

Menurut laporan Wahid Foundation, Front Pembela Islam merupakan ormas yang paling banyak melakukan tindak kekerasan. FPI dan massa merupakan aktor non-negara yang paling banyak melakukan pelanggaran atas kebebasan beragama dan berkeyakinan. “FPI dan massa terbanyak melakukan pelanggaran, keduanya sama yakni 24 tindakan. Disusul Majelis Ulama Indonesia Daerah yakni 22 tindakan,” ungkap peneliti Wahid Foundation, sebagaimana dilansir CNN Indonesia (28/02).

Sejumlah tindak kekerasan yang dilakukan FPI, tentu berseberangan dengan misi Anies Baswedan sebagai perawat ‘tenun kebangsaan’. Apakah ini bentuk pragmatism politik Anies atau manuver untuk mendapatkan dukungan? Tentu saja, manuver Anies dengan merapat ke barisan Keluarga Cendana perlu jadi catatan penting. Pada Sabtu (11/3) Anies-Sandi merayakan Haul Soeharto dan Supersemar pada pengajian di Masjid at-Tien, TMII Jakarta. Sebelumnya, pada Februari 2017 lalu, Anies juga bertemu dengan Titiek Soeharto dalam pertemuan politik, yang didampingi Prabowo Subianto (Ketum Partai Gerindra).

Manuver Anies dengan menggandeng kekuatan FPI dan jaringan Keluarga Cendana, apakah berlawanan dengan misinya ‘merawat tenun kebangsaan’? Ataukah, ia lupa apakah tentun ini masih utuh dalam warna kebhinekaan, atau sudah mulai direbok dengan manuver politik? (*) 




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.