Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

indonesiana-tempoid-default
Dian Basuki 
Minggu 19 Maret 2017 17:00 WIB
Dibaca (1559)
Komentar (0)

Perempuan Mata-mata di Tangan Paulo Coelho

indonesiana-Coelho-SPY_jacket.jpg

 

Judul Buku: The Spy
Penulis: Paulo Coelho
Penerbit: Alfred A. Knopf
Edisi: I, 2016
Tebal: 192 halaman

 

Di akhir pekan ini, saya membaca The Spy, novel terbaru Paulo Coelho. Saya ingin berbagi pembacaan saya:

Hampir 100 tahun yang silam—15 Oktober 1917. Menjelang pukul 5 pagi, seregu orang berjumlah 18—sebagian besar perwira tentara Prancis—menaiki lantai dua Saint-Lazare, penjara perempuan di Paris. Dipandu seorang petugas yang membawa lampu penerangan, mereka berhenti di depan pintu sel 12.

Perempuan penghuni sel itu dibangunkan, dengan tenang mengenakan baju, dan berkata: “Saya siap.” Ia kemudian dibawa ke tempat lain, di luar kompleks penjara.

“Haruskah saya mengenakan ini?” tanya perempuan itu kepada biarawati yang menemaninya, yang segera berpaling kepada perwira Prancis. “Jika Nyonya lebih suka tidak memakainya, tak ada kewajiban,” jawab letnan itu.

Tanpa tangan diikat dan tanpa penutup kepala, perempuan itu menghadapi regu tembak. Pendeta, biarawati, dan pengacanya bergerak menjauh. “Siapp!!” teriak komandan regu. “Tembak!”

Perempuan itu tergeletak. Untuk memastikan tahanan itu sudah mati, seorang perwira mengeluarkan revolver, menempelkan ujungnya ke pelipis perempuan yang sudah tidak lagi bergerak, dan menarik pelatuknya. Ia lalu berpaling ke semua orang di sekelilingnya dan berkata dengan khidmat: “Mata Hari sudah mati.”

Begitulah Paulo Coelho membuka novel terbarunya, The Spy. Coelho mengangkat kisah perempuan yang mashur dituding sebagai mata-mata dan mengguncang Eropa semasa Perang Dunia I. Dialah Mata Hari—perempuan Belanda yang lahir sebagai Margaretha Geertruida Zelle pada 1876 dan datang ke Hindia—Belanda mengikuti suaminya, perwira tua yang ditugaskan ke tanah Jawa.

Tak tahan oleh perlakuan suaminya yang pecandu alkohol, Margaretha sempat lari dari suaminya dan belajar tari Jawa dan berganti nama jadi Mata Hari. Atas permintaan suaminya, ia kembali. Mereka lalu pulang ke Belanda, memiliki anak, namun bercerai pada 1902. Mata Hari pergi ke Paris tanpa membawa apapun, hingga beberapa bulan kemudian namanya disebut-sebut sebagai penari eksotis paling populer yang dekat dengan kalangan paling kaya dan paling berkuasa di kota ini.

Coelho menulis The Spy dengan berbekal ‘segunung’ dokumen mengenai penari yang dituding oleh Barat sebagai mata-mata. Sepanjang dua puluh tahun terakhir, dinas intelijen di Inggris, Jerman, dan Belanda telah membuka dokumen-dokumen tentang Mata Hari—bahan yang kaya di tangan Coelho. Ia menawarkan sudut pandang lain dalam melihat perempuan misterius ini, dan seperti karya-karya Coelho sebelumnya, ia menyajikan narasi yang meninggalkan jejak kedalaman.

Coelho memakai sudut pandang Mata Hari untuk mengisahkan novel yang meramu dokumen historis dengan imajinasinya. “Saya harus menciptakan sejumlah dialog, menggabungkan adegan-adegan tertentu, mengubah urutan sedikit kejadian, dan meniadakan apa yang saya pikir tidak relevan dengan narasi,” kata Coelho.

Tapi, benarkah Mata Hari seorang mata-mata? Jika ya, ia bekerja untuk siapa? Apakah kecurigaan telah membesar-besarkan peran Mata Hari lebih dari seorang penari? Ataukah ia hanya dimanipulasi oleh orang-orang dekatnya? “Aku tidak tahu apa yang akan terjadi di akhir pekan ini,” tulis Mata Hari dalam suratnya kepada seseorang. “Aku selalu menjadi perempuan yang optimistis, tapi waktu telah meninggalkanku dalam keadaan getir, sendirian, dan sedih.”

“Aku perempuan yang dilahirkan pada waktu yang salah dan tidak ada yang bisa dilakukan untuk memperbaikinya. Aku tidak tahu apakah masa depan akan mengingatku, tapi jika demikian, mungkin masa depan tak pernah melihatku sebagai korban, tapi sebagai seseorang yang melangkah ke depan dengan keberanian, tanpa rasa takut membayar harga yang harus ia bayar,” kata Mata Hari. Kedekatannya dengan orang kaya dan berpengaruh di Paris menimbulkan kecurigaan dan membuatnya diawasi, hingga akhirnya ia ditahan atas tuduhan mata-mata.

Coelho mengisahkan hidup perempuan yang menabrak konvensi-konvensi yang berlaku pada masanya, walaupun untuk itu akhirnya ia harus membayar apa yang harus dibayar. Maka jadilah Mata Hari, dalam gambaran Coelho, ‘salah satu feminis yang pertama’. Dia memilih hidup independen yang tidak konvensional pada masanya. Dan, bagi Coelho, itulah satu-satunya kejahatan Mata Hari. **




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.