Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Nasional  
Nasional
indonesiana-FX Wikan
FX Wikan Indrarto
Minggu 19 Maret 2017 18:05 WIB
Dibaca (1254)
Komentar (0)

Tembakau dan Pembiayaan Kesehatan ~ FX. Wikan Indrarto

indonesiana-117028

 

Dr. FX. Wikan Indrarto, Sp.A

 

Terdapat 4 jenis penyakit kronis atau penyakit tidak menular (NCD atau Non Communicable Diseases) yang menjadi penyebab kematian utama. Penyakit tersebut adalah kardiovaskular (seperti serangan jantung dan stroke), kanker, penyakit pernapasan kronis (seperti asma) dan diabetes. Apa yang sebaiknya kita lakukan?

 

Sekitar 16 juta kematian karena NCD terjadi dini, yaitu sebelum usia 70 tahun. Dari jumlah tersebut, 82% terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah, termasuk di Indonesia. Faktor risiko yang berkontribusi terhadap NCD adalah diet yang tidak sehat, kurangnya aktivitas fisik, paparan asap rokok dan penggunaan alkohol. Globalisasi gaya hidup yang tidak sehat menyebabkan peningkatan tekanan darah, glukosa darah, lipid darah, dan BB atau obesitas. Penggunaan tembakau menyebabkan 6 juta kematian global setiap tahun, dan diprediksi meningkat menjadi 8 juta pada tahun 2030, termasuk perokok pasif, bayi dan anak.

 

Untuk mengurangi dampak dari NCD pada individu dan masyarakat, diperlukan pendekatan komprehensif, yaitu kerjasama semua sektor, termasuk kesehatan, keuangan, perdagangan luar negeri, pendidikan, pertanian, perencanaan dan lain-lain. Program utama untuk mengurangi faktor risiko NCD, serta mempromosikan intervensi untuk mencegah dan mengendalikannya, yaitu untuk mengurangi faktor risiko yang dapat dimodifikasi, terutama penggunaan tembakau. Negara berpenghasilan rendah umumnya memiliki kapasitas dana lebih kecil, untuk program pencegahan dan pengendalian NCD. Sebaliknya, negara berpenghasilan tinggi hampir 4 kali lebih mungkin, untuk memiliki layanan NCD dalam jaminan asuransi kesehatan. Namun demikian, proses pembiayaan asuransi kesehatan di Filipina, perlu kita semua ketahui.

 

Sejak Mei 2015, Filipina memberlakukan aturan pajak ‘dosa’, yaitu "Sin Tax", atas tembakau dan alkohol, sehingga memungkinkan warga Filipina termiskin dan paling rentan, untuk memperoleh pelayanan kesehatan dalam jaminan pembiayaan oleh negara. Setidaknya 1 dari 4 orang Filipina meninggal karena penyakit jantung, stroke atau penyakit tidak menular lainnya (NCD), sebelum mencapai usia 70. Dalam 2 tahun sebelumnya, cadangan keuangan untuk membiayai perawatan NCD sangat terbatas. Masyarakat miskin hanya memiliki dua pilihan pahit, yaitu tidak menjalani pengobatan karena tidak mampu membayar untuk itu, atau dipaksa berhutang lebih banyak. ‘Kalusugan Pangkahatan’, program ‘Universal Health Care’ di Filipina tidak menjamin pembiayaan populasi yang paling rentan dan terpencil. Selain itu, program tersebut juga tidak memiliki sumber daya untuk mendanai premi asuransi, merekrut petugas kesehatan baru, dan membangun fasilitas kesehatan tambahan di daerah miskin dan terpencil.

 

Namun, pada Desember 2012 sistem pembiayaan kesehatan di Filipina berubah drastis. Dengan diundangkannya RUU Reformasi Pajak ‘Dosa’ (Sin Tax Reform), yang mengatur peningkatan pajak pada semua produk tembakau dan alkohol, telah memberikan suntikan pendanaan baru yang luar biasa besar. Sejak itu, pemerintah Filipina mampu menjamin lebih banyak warga dalam perawatan kesehatan universal, bahkan layanan pencegahan NCD pada fasilitas kesehatan primer atau puskesmas. Dalam tahun pertama berlakunya UU Reformasi Pajak ‘Dosa’ (Sin Tax Reform), telah terkumpul lebih dari USD $ 1.200 juta, sehingga memungkinkan pemerintah Filipina menjamin pembiayaan perawatan kesehatan untuk tambahan 14 juta keluarga atau sekitar 45 juta orang. Empat tahun sebelumnya, baru sekitar 74% populasi yang dijamin oleh ‘Philhealth’, program asuransi kesehatan nasional. Setelah ada tambahan dana dari pajak itu, saat ini sudah 82% dari sekitar 100 juta orang yang tinggal di Filipina, telah dijamin. "Kesehatan adalah hak semua orang. Kejahatan dan dosa seperti merokok dan minum alkohol, telah kami ubah menjadi baik, "kata Jeremias N. Paul, Jr, Wakil Menteri Keuangan. "Pajak ‘dosa’ tidak hanya kemenangan bagi kesehatan, tetapi kemenangan bagi kaum miskin di Filipina, yang selama ini tidak mampu membayar pelayanan kesehatan."

 

Dalam waktu dua tahun, anggaran Departemen Kesehatan Filipina meningkat dari US $ 1,25 miliar menjadi hampir US $ 2 miliar. Peningkatan ini berasal dari pendapatan pajak ‘dosa’ yang dialokasikan untuk program kesehatan. Saat ini, 15% dialokasikan pada program untuk membantu para petani tembakau dan pekerja yang terkait, untuk mencari alternatif mata pencaharian. Sisanya, 85% dialokasikan untuk mendanai jaminan perawatan kesehatan universal, perbaikan fasilitas medis, dan pelatihan dokter dan perawat.

 

UU Pajak tidak mudah untuk disusun. Pemerintah Filipina memulai reformasi struktur pajak, terutama untuk menerapkan pajak dosa, cukai tembakau dan alkohol pada tahun 1997, namun lobi industri rokok yang kuat, menghambat upaya tersebut. Pada tahun 2012, dilakukan kampanye masyarakat sipil secara besar-besaran, dengan semboyan ‘mengurangi tembakau, meningkatkan kesehatan’, sehingga membantu mempengaruhi para legislator dan opini publik, sampai akhirnya disahkan menjadi UU. "Menghentikan orang dari kebiasaan merokok dan mendorong perokok untuk berhenti, terbukti menyelamatkan nyawa dan menghemat uang, yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah kesehatan lainnya, termasuk mengurangi kematian ibu, bayi, dan anak, kejadian HIV, dan memperkuat jaringan pelayanan kesehatan lainnya”, kata Dr. Julie Lyn Hall, Perwakilan WHO di Filipina.

 

Pada 2013, hanya 50% negara yang memiliki rencana nasional dan anggaran untuk mencegah dan mengendalikan NCD. Inovasi pendanaan masih sangat terbatas, selain pajak dosa (Sin Tax) atas tembakau di Filipina yang layak dicontoh, demi tujuan untuk mengurangi kematian dini akibat NCD sebesar 25%, pada tahun 2025.

 

Sudahkah kita terinspirasi?

 

 

Sekian

Yogyakarta, 11 Mei 2015




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.