Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Bisnis  
Analisa
indonesiana-Mohamad
Mohamad Cholid
Senin 20 Maret 2017 07:43 WIB
Dibaca (245)
Komentar (0)

#SeninCoaching: Managing Uncertainty

indonesiana-images.jpg

Leadership Growth:

Siap Menjadi Petarung di Level Global?

Tantangan global menuntut revolusi di bidang leadership

Mohamad Cholid

Practicing Certified Business and Executive Coach

 

A warrior accepts that we can never know what will happen to us next. We can try to control the uncontrollable by looking for security and predictability, always hoping to be comfortable and safe. But the truth is that we can never avoid uncertainty. This not-knowing is just part of the adventure. It’s also what makes us afraid.” -- Pema Chodron dalam Comfortable with Uncertainty.

Pemimpin ibarat petarung, yang diharapkan memiliki kemampuan menghadapi dan mengelola ketidakpastian. Dalam konteks organisasi institusi bisnis atau pun lembaga pemerintah, pemimpin bisa seorang supervisor, kepala unit, manajer, direktur sampai CEO.

Perkembangan ekonomi, bisnis, teknologi, sosial, dan budaya global melahirkan banyak peluang sekaligus ketidakpastian. Untuk menghadapinya diperlukan pemimpin yang siap melakukan paradigm shift.

Kita perlu memberikan apresiasi terhadap Inisiatif Menteri BUMN Rini. M. Soemarno menyelenggarakan Executive Leadership Program (ELP) untuk meningkatkan human capital BUMN agar memiliki kepemimpinan yang visioner, professional, dan memiliki wawasan kebangsaan.

Pertengahan Maret ini kegiatan yang memadukan seminar, diskusi, dan perkuliahan tersebut tengah berlangsung – setiap batch dua hari.

Dengan tema Creating Global Leaders for Globalized SOEs, forum ELP diupayakan akan memperkuat efektivitas kepemimpinan yang berkesinambungan dalam menghadapi kompetisi global, demikian penjelasan resminya.

Tentu kita dapat membuat asumsi, sekiranya 118 BUMN meliputi 13 sektor industri semuanya atau sebagian besar dipimpin secara lebih efektif dan siap bersintuhan – atau berkompetisi – di pasar global, positive impact bagi perekonomian nasional akan signifikan.

Ada dua hal penting yang patut kita cermati lebih dalam terkait program Kementrian BUMN tersebut. Yaitu, kompetisi global dan efektivitas kepemimpinan yang berkesinambungan.

Per hari ini, sebagaimana kita amati bersama, dinamika ekonomi global sudah demikian menggetarkan. Kebijakan pemerintah sebagai regulator mendadak mendapatkan tantangan-tantangan baru dengan bermunculannya model bisnis yang sangat disruptive – dan lebih menguntungkan konsumen – didukung perkembangan teknologi informasi.

Para pelaku bisnis, di swasta maupun lingkungan BUMN, sekarang ini menghadapi banyak front dan tantangan – tentunya sekaligus peluang, kalau mau berpikir jernih.

Hari-hari kegiatan bisnis yang memintas dengan cepat seperti menegaskan perlunya paradigma baru, karena pola pikir dan pendekatan manajemen yang selama ini diterapkan jadi kurang relevan.

Kepemimpinan cara lama, apalagi yang sekarang ini masih menggunakan gaya masa Industrial Age, tidak hanya kurang relevan, bahkan membahayakan semua pihak, termasuk si pemimpin.

Tantangan globalisasi telah mendorong revolusi di bidang leadership. Untuk mengantisipasnya, lebih dari 15 tahun silam para thought leaders dan praktisi bersepakat melakukan riset dan interview terhadap 200 eksekutif dan para kandidat CEO dari 120 perusahaan multinasional di enam benua.

Disponsori Accenture, panel para leaders kelas dunia yang antara lain melibatkan Henry Kissinger, mantan menteri luar negeri AS yang legendaris, menyusun rumusan metode survei dan pendalamannya.

Berdasarkan survei dan penggalian selama dua tahun, pada 2003 mereka menerbitkan Global Leadership, The Next Generation, ditulis Marshall Goldsmith, Cathy L. Greenberg, Alastair Robertson, dan Maya Hu – Chan. Ini jadi salah satu buku wajib bagi setiap Certified Coach Marshall Goldsmith Stakeholder Centered Coaching.

Menurut hasil survei, transformasi kualitas kepemimpinan di bidang bisnis – dan institusi lain yang memiliki dampak besar bagi kehidupan bermasyarakat – agar dapat berperan di level global memerlukan pendalaman dan penguasaan atas 15 kompetensi kepemimpinan.

Dalam praktiknya, seorang leader kemungkinannya tidak sanggup menguasai ke-15 kompetensi tersebut dengan excellent dan tereksekusi secara optimal.

Program coaching atau mentoring selama 15 tahun untuk itu belum tentu juga cukup. Silakan renungkan, dalam perjalanan penempaan diri salama itu sejumlah kompetensi yang sudah dikuasainya bisa saja dalam lima tahun sudah harus ditingkatkan lagi, untuk menghadapi tantangan baru.

Oleh karena itu, diantara 15 kompetensi tersebut ada sharing leadership. “Global leaders of the future must have the ability to manage organizations in a non-hierarchical and multidimensional way,” demikian salah satu point dari buku Global Leadership.

Apa kaitan cerita diatas dengan inisiatif ELP Kementrian BUMN?

Ini upaya untuk mengingatkan kita semua, kawan dan relasi yang terbiasa dengan leadership training kilat, untuk aware adanya pilihan-pilihan program. Ada yang baik, ada yang lebih baik, dan ada yang efektif dengan metode yang sudah proven dan terukur, serta memberikan long lasting impact.

Mengembangkan kepemimpinan yang efektif ke taraf mahir menjadi petarung di arena global -- dengan metode yang terbukti sudah membantu ribuan perusahaan kelas dunia -- merupakan proses penempaan berkesinambungan. Perlu proses 12 sampai 18 bulan untuk tiga sampai lima kompentensi, tergantung pada level keterbukaan hati dan pikiran masing-masing eksekutif.

Maka, mudah-mudahan Anda setuju, program Kementrian BUMN berupa pembekalan dua hari per batch tersebut, sebagai inisiatif yang bagus, dapatlah kita anggap merupakan langkah buka pintu yang signifikan menuju Creating Global Leaders for Globalized SOEs -- sebagaimana diniatkan.

Penempaan untuk mengembangkan kepemimpinan para eksekutif perlu proses panjang karena lebih banyak berkenaan dengan sikap dan perilaku, bukan skills lagi. Apalagi di level direksi, untuk skills umumnya sudah jago.

Menyangkut mindset dan perilaku urusannya beda. Untuk kompetensi sharing leadership, misalnya, diperlukan “ability to manage organizations in a non-hierarchical and multidimensional way”. Bersediakah para pimpinan tersebut mengubah perspektif mereka tentang hirarki?

Di institusi pemerintah, di kalangan pelaku usaha, dan dari interaksi sekian tahun dengan kalangan direksi perusahaan yang sudah lama berdiri, utamanya BUMN, sering saya dapati hirarki organisasi masih dijadikan salah satu “benteng perlindungan” bagi pimpinan untuk menyembunyikan keterbatasannya – “hoping to be comfortable and safe ” di situ.

Sebenarnya mereka memerlukan orang-orang dari luar organisasi – sebagai mentor atau coach – yang, demi kebaikan dan benefit para stakeholders, bisa selalu berterus terang mengingatkan pentingnya perspektif baru dalam eksekusi kepemimpinanya. Keterbatasan diri sebagai manusia itu wajar, tak perlu ditutupi, dan dapat diubah jadi keunggulan, asal tahu metodenya.

Tugas coach membantu mereka mencapai target secara sistematis, juga menantang mereka untuk bertindak lebih hebat. Untuk menjaga dan meningkatkan prestasi, sebagaimana kata pegolf professional kelas dunia Tiger Wood, “Setangguh apa pun seseorang, tetap memerlukan coach.”

Menjadi lebih terbuka, membongkar benteng mental atau mengubah sikap defensif menjadi progresif, merupakan kebutuhan setiap pemimpin yang mau berkembang. Apalagi bagi yang ingin jadi petarung di level global. “… the truth is that we can never avoid uncertainty. This not-knowing is just part of the adventure.”

 

Mohamad Cholid adalah Head Coach di Next Stage Consulting.

  • Certified Executive Coach at Marshall Goldsmith Stakeholder Centered Coaching

  • Certified Marshall Goldsmith Global Leader of the Future Assessment

Alumnus The International Academy for Leadership, Jerman

 

 




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.