Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Nasional  
Nasional
indonesiana-Amirudin Mahmud
Amirudin Mahmud 
Senin 20 Maret 2017 10:51 WIB
Dibaca (218)
Komentar (0)

Mengenang KH Hasyim Muzadi

indonesiana-KH._Hasyim_Muzadi_(Wikipidia_.coma)_.jpg

 

Indonesia kembali berduka. Putra terbaik negeri ini telah meninggal dunia. KH Hasyim Muzadi mangkat meninggalkan kita semua. Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PBNU) tersebut wafat pada kamis pagi  kemaren (16/3)  dalam usia 72 tahun. Sebelumnya, KH Hasyim Muzadi telah menjalani perawatan intensif di RS Lavalette, Malang, Jawa Timur. Dari Malang,  janazah almarhum diterbangkan ke Jakarta. Di Pesantren Al Hikam 2 Depok, jenazah KH Hasyim Muzadi dikebumikan. Ribuan orang mengantarkannya ke peristirahatan terakhir. Sebagai penghormatan negara, pemakaman dilakukan secara militer dipimpin oleh Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla. JK  mengaku merasa sangat kehilangan tempat bertanya setelah wafatnya KH Hasyim Muzadi. JK mengaku memiliki banyak kenangan dengan almarhum.

Bernama lengkap  Ahmad Hasyim Muzadi, lahir di Tuban, Jawa Timur 8 Agustus 1944 adalah seorang tokoh Islam Indonesia dan mantan ketua umum Nahdlatul Ulama yang menjabat sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden sejak 19 Januari 2015. Dia juga merupakan pengasuh Pondok Pesantren Al-Hikam di Malang, Jawa Timur.  Hasyim Muzadi pernah mengenyam pendidikan di Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor (1956-1962). Muzadi menempuh jalur pendidikan dasarnya di Madrasah Ibtidaiyah di Tuban pada tahun 1950, melanjutkan pendidikan di Pondok Modern Gontor Ponorogo, ia lalu menuntaskan pendidikan tingginya di Institut Agama Islam Negeri  (IAIN) Sunan Ampel Malang, Jawa Timur pada tahun 1969.

Kiprah organisasinya mulai dikenal ketika pada tahun 1992 ia terpilih menjadi Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur yang terbukti mampu menjadi batu loncatan bagi Hasyim untuk menjadi Ketua PBNU pada tahun 1999. Tercatat, suami dari Hj. Muthomimah ini pernah menjadi anggota DPRD Tingkat I Jawa Timur pada tahun 1986, yang ketika itu masih bernaung di bawah Partai Persatuan Pembangunan. Muzadi pernah berposisi sebagai pendamping Megawati Soekarnoputri dalam pemilihan presiden Indonesia seawal November 2003. Ia resmi maju bersama Megawati pada 6 Mei 2004.  Dalam pemilihan umum Presiden Indonesia 2004, Megawati dan Muzadi meraih 26.2% suara di putaran pertama, tetapi kalah dari pasangan Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla di putaran kedua.

Presiden Joko Widodo mengaku merasa kehilangan atas wafatnya KH Hasyim Muzadi. Dalam akun Facebook-nya, Presiden mengungkapkan perasaanya, bangsa ini telah kehilangan salah satu ulama, guru, penjada terdepan kebhinekaan. Seorang tokoh yang hidupnya didedikasikan untuk agama dan bangsanya. Sungguh, saya sangat kehilangan. Semoga almarhum Kyai Hasyim Muzadi beroleh tempat nan lapang di sisi-Nya, dan keluarga yang ditinggalkan tetap tegar dan tabah..

KH Hasyim Muzadi tak hanya dikenal sebagai ulama kharismatik, beliau merupakan tokoh bangsa yang sangat berpengaruh. KH Hasyim Muzadi adalah seorang negarawan sejati. Menurut Prof. Mahfud MD,  mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) seperti ditulis kompas.com memberikan kesaksian bahwa KH Hasyim Muzadi bukan sekadar tokoh NU, melainkan juga tokoh bangsa. Sebab bagi Mahfud, Kiai Hasyim merupakan sosok yang bisa memberi teladan hidup sebagai orang Islam dan Indonesia secara bersamaan.

Mengenangnya

Sebagai umat Islam sekaligus bangsa Indonesia, saya juga anda pasti sulit melupakan jasa-jasa KH Hasyim Muzadi. Pikiran dan gagasannya sangat cemerlang. Beliau seorang tokoh bangsa yang memiliki visi melesat jauh ke depan. Menurut hemat saya, berikut beberapa gagasan besar dan warisan pemikiran dari beliau yang  sepantasnya diingat, dijaga dan diamalkan. Pertama, Islam rahmatan lil alamin. Islam bagi beliau tak hanya untuk internal umat. Islam merahmati semua manusia. Tak mengenal ras, suku, bangsa bahkan agama. Di Indonesia, bagi beliau Islam Nusantara adalah pilihan tepat dalam memaknai kehidupan dalam berbangsa dan beragama. KH Hasyim Muzadi mendorong semangat pluralisme. Beliau merangkul semua elemen bangsa dari berbagai latar belakang.

Bagi Hasyim, umat Islam Indonesia wajib mengembangkan dan mengamalkan tak hanya ukhuwwah Islamiyah (persatuan karena ikatan Islam). Lebih jauh, ukhuwah wathoniyah dan ukuwah basyariyah juga sebaiknya dilakukukan dan dijadikan pegangan. Ukhuwah wathoniyah adalah persatuan dan persaudaraan sesama anak bangsa. Kerukunan antara umat beragama, antara ras dan suku kudu selalu dijaga. Kita dibiasakan saling menghargai , menghormati segala perbedaan yang ada.  Saling membantu, tolong menolong dan saling melengkapi. Perbedaan pandang dalam berbangsa dan bernegara dijadikan sebagai modal, potensi dan kekayaan yang harus dimanfaatkan. Kemudian ukhuwah basyariyah yakni persaudaraan sesama manusia. Prinsip ini yang mendasari beliau dalam memandang dunia global. Kita berkewajiban menjaga perdamaian dunia. Kekerasan, perang, permusuhan antar bangsa atau negara selayaknya dhindari secara bersama.

Kedua, Islam dan nasionalisme. Islam, bagi Hasyim tak boleh dipertentangkan dengan negara. Islam sejatinya dapat berdampingan secara harmonis dengan negara. Islam menopang negara. Sebaliknya, negara melindungi dan menjaga kehormatan Islam. Pancasila dinilai sebagai intisari Islam. Dalam Pancasila ada ketuhanan, keadilan, kemanusia, persatuan, dan demokrasi. Semua diajarkan oleh Islam. Maka Pancasila itu sangat Islami. Tak sepantasnya ditolak dengan mengatasnamakan Islam. Pancasila sudah menjadi keputusan final bangsa ini. Umat Islam berkewajiban menjaganya.

Ketiga, mengembangkan humanisme. Humanisme adalah pandangan yang menyatakan bahwa manusia dapat memahami dunia serta keseluruhan realita dengan menggunakan pengalaman dan nilai-nilai kemanusiaan bersama. Kita bisa hidup baik tanpa agama sekalipun. Dalam menghadapi dan menyelesaikan persoalan keagamaan maupun kebangsaan, Hasyim Muzadi senantiasi melakukannya dengan menggunakan pendekatan yang sangat humanis. Bahkan beliau dikenal sangat humoris. Leluconnya mencairkan permasalahan. Mendinginkan suasana. Contohnya,  saat beliau menanggapi cerita Dimas Kanjeng yang mampu menggandakan uang. Kiai Hasyim lantas menanyakan, kalau Dimas Kanjeng bisa menggandakan uang kenapa malah mengumpulkan uang dari orang lain untuk digandakan. Begitulah, KH Hasyim Muzadi. Sangat cair dalam memandang setiap persoalan.

Akhir kata, KH Hasyim Muzadi telah tiada. Pemikiran dan gagasanya yang cemerlang menjadi warisan berharga bagi umat Islam dan bangs Indonsia. Saya berkeyakinan beliau telah melahirkan penerus, Hasyim-Hasyim muda yang akan menggantikannya. Pengabdian beliau membina umat dan bangsa telah paripurna. Selamat jalan KH Hasyim. Semoga amal ibadahmu diterima di sisi-Nya. Amin. Wa Allahu Alam

 

         

 




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.