Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Nasional  
Politik
indonesiana-tempoid-default
Goenawan Mohamad
Kamis 20 April 2017 06:44 WIB
Dibaca (4705)
Komentar (0)

Stigma ~ Goenawan Mohamad

indonesiana-ahok.jpg

Ahok kalah; pilkada DKI 2017 sudah menentukan itu. Segera, apa yang terjadi dengan hiruk pikuk selama ini, akan jadi sejarah.  

Banyak yang lega -- karena Anies menang ataupun karena kita akhirnya melampaui kebencian yang meracuni udara kampanye, suasana yang meretakkan banyak pertemanan.

Tapi saya harap satu hal tak dilupakan.

Ahok maju ke dalam arena dengan belenggu di tubuhnya: belenggu sebagai "penista agama". Ia bisa bergerak dan bisa bicara, tapi ia tak sepenuhnya bebas. Prestasinya sebagai kepala daerah, yang diakui sebagian besar warga -- yang membuat ia sebenarnya tak tertandingi -- nyaris tak tampak dan terdengar lagi.

Dalam sejarah politik Indonesia, mungkin apa yang dicapkan pada Ahok merupakan teknik membuat stigma yang paling berhasil.  

Stigma itu bermula dari fitnah. Ia tak menghina agama Islam, tapi tuduhan itu tiap hari diulang-ulang; seperti kata ahli propaganda Nazi Jerman, dusta yang terus menerus diulang akan jadi "kebenaran". Kita mendengarnya di masjid-masjid, di media sosial, di percakapan sehari-hari, sangkaan itu menjadi bukan sangkaan, tapi sudah kepastian.

Ahok pun harus diusut oleh pengadilan, dengan undang-undang "penistaan agama" yang diproduksi rezim Orde Baru -- sebuah undang-undang yang batas pelanggarannya tak jelas, dan tak jelas pula siapa yang sah mewakili agama yang dinista itu.

Walhasil, Ahok diperlakukan tidak adil dalam tiga hal: (1) difitnah, (2) dinyatakan bersalah sebelum pengadilan, (3) diadili dengan hukum yang meragukan.

Mengakui adanya ketidak-adilan di dalam kasus ini tapi bertepuk tangan untuk kekalahan politik Ahok -- yang tak bisa diubah -- adalah sebuah ketidak-jujuran.

Ahok kalah, ia bahkan masih bisa di jatuhi hukuman dalam proses pengadilan yang di bawah tekanan aksi massa itu. Jangan-jangan kebenaran juga kalah -- di masa yang merayakan "pasca-kebenaran" kini.[*]

Baca Juga:

Anies-Sandi Menang, Intoleransi Melenggang?

Pilkada Jakarta 2017: Kalau Ahok atau Anies Menang




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.