Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Metro  
Balaikota
indonesiana-tempoid-default
Agung Wicaksono 
Kamis 20 April 2017 19:21 WIB
Dibaca (2489)
Komentar (0)

Terus Bekerja Pak Ahok, Buktikan Diri Mas Anies!

indonesiana-551117

Oleh Agung Wicaksono

Sore tadi, sebuah pesan WA masuk dari seorang teman, "Waduh Gung, bagaimana ini, besok boss-mu Anies-Sandi dong." Saya menjawab, "Boss saya? Boss saya adalah Rakyat Indonesia, terutama warga Jakarta yang ingin transportasi publik massal yang modern dan bisa beroperasi dengan standar seperti di mancanegara"

Dan kebetulan memang, adalah seorang Gubernur bernama Basuki Tjahaja Purnama yang menandatangani surat pengangkatan saya, meski yang bersangkutan tidak pernah mengenal saya sama sekali sebelum interview fit and proper test dilakukan. Kebetulan juga, adalah Gubernur dengan panggilan Ahok tersebut yang di saat menjadi Wagub bagi Jokowi, membuat terjadinya groundbreaking pembangunan MRT Jakarta di 2013 setelah hampir 30 tahun sejak dimulainya studi Sitramp di tahun 1986. Ya, adalah Ahok yang banyak merealisasikan hal-hal yang diharapkan warga dari sebuah pemerintahan dengan good governance, open government, atau apa pun itu judulnya.

Ahok, adalah seorang gubernur yang bekerja, dan ingin anak buah yang juga bekerja. Tentunya, kita sebagai rakyat juga ingin seorang Gubernur sebagai "anak buah" yang mewakili rakyat, untuk kerja dengan benar. Sebagai anak buah dari Gubernur di BUMD yang 100% sahamnya dikuasai Pemerintah Provinsi, kita juga senang punya atasan yang mau dan bisa kerja. Seorang atasan yang berjanji dengan tegas dalam rapat bahwa, "Kalau kewajiban Pemprov DKI ke MRT tidak dikerjakan sampai dengan rapat berikutnya, silakan lapor ke saya untuk saya ambil tindakan."

Tak Cukup dengan "Kerja, Kerja, Kerja", Tapi Juga "Jaga Bicara"

Namun ternyata pelajaran berharga dari Pilkada hari ini adalah: bekerja dengan baik saja tidak cukup dalam memimpin bangsa ini, terutama warga Ibukota yang demikian beragam. Sang pekerja keras ternyata tidak terpilih lagi hari ini. Ada yang bilang karena pepatah "mulutmu harimaumu". Tapi ada juga yang mengatakan karena "nasibmu lahir bukan bagian dari mayoritas."

Politik identitas -yang bukan hanya gejala di Indonesia tapi mulai dari Amerika dengan "America First" dan Eropa dengan "Brexit"- tak pelak adalah alasan kuat ditolaknya seorang Ahok menjadi pemimpin di ibukota. Sebuah ulasan menarik oleh seorang surveyor di Radio Elshinta pasca quick count tadi sore menyebutkan, ternyata sekitar 33% umat Islam di Jakarta yang disurvei menyebutkan bahwa tidak masalah dipimpin oleh seorang beragama non-Islam selama berkinerja baik. Artinya, mayoritas menilai ini suatu masalah. Angka ini turun 8% dari angka 41% saat survey dengan pertanyaan yang sama dilakukan pada saat Pilkada putaran pertama.

Karena itu, apakah artinya seorang Ahok memang terlahir tidak mungkin diterima menjadi pemimpin? Sebenarnya tidak juga. Toh yang bersangkutan juga pernah menang Pilkada menjadi Bupati Belitung Timur yang juga mayoritas muslim. Namun faktor "jaga bicara", selain "kerja, kerja, kerja" juga harus lebih diperhatikan.

Politik Identitas dan Perjalanan Panjang Bangsa Indonesia

Ada juga yang bilang, "Tapi kan Ahok bicara demikian karena lelah akibat dia disudutkan secara masif, terstruktur dan sistematis." Memang, di setiap khotbah Jumat atau momen keagamaan lainnya -sejak sebelum kejadian itu hingga terus sampai menjelang hari H - rasanya kita ingin bertanya: Apakah hanya karena satu orang ini, maka seperti tak ada topik lain yang layak dipelajari umat untuk materi khotbah?

Ahok boleh complaint apa pun karena lelah digempur, tapi kalau sudah menjadi figur publik maka harus siap menghadapinya. Bukan lagi jadi manusia biasa. Apalagi, seorang minoritas yang jadi figur publik. Manusia luar biasa yang juga luar biasa tantangannya. Jadi, pelajaran bagi Ahok hari ini -dan bagi bangsa Indonesia yang selama 6 bulan terakhir dihabiskan energinya- luar biasa mahalnya.

Namun pelajaran lain bagi bangsa ini yang lebih besar adalah bukan di persoalan perbedaan agama. Analis dari surveyor yang sama mengatakan, bahwa sebenarnya pertentangan lebih kuat di masyarakat adalah atas pandangan tentang berhak tidaknya seorang warga negara Indonesia keturunan -yang sering disebut sebagai "non-pribumi"- untuk menjadi pemimpin publik. Pertentangan sejarah soal ini cukup panjang, sejak zaman sebelum kemerdekaan hingga pernah dituangkannya pasal terkait itu dalam UUD 1945 sebelum diamandemen. Dalam hal ini, harus diakui kita "kalah" dari Amerika Serikat yang sudah bisa menerima "non-pribumi" dan minoritasnya jadi Presiden dengan hadirnya seorang bernama Barack Hussein Obama selama 2 periode berturut-turut. Begitu besar pekerjaan rumah bangsa ini untuk merajut dan memformulasikan pola hubungan antara mayoritas-minoritas yang menjamin keadilan struktural dan kesamaan hak, sehingga tidak ada lagi dikotomi yang demikian kuat mempolarisasi.

Meneruskan Penuntasan Kerja, Membuktikan Janji Merajut Tenun Kebangsaan

Banyak yang kemudian mengucapkan terima kasih dan selamat tinggal kepada Ahok-Djarot. Tapi sesungguhnya, hei, tugas mereka belum selesai! Masih ada 6 bulan hingga Oktober 2017 di mana Ahok-Djarot masih berkewajiban menyelesaikan tugasnya. Mereka masih "boss saya" selama 6 bulan ke depan. Dan mereka masih punya banyak tanggung jawab kepada "boss mereka", para warga Jakarta. Salah satunya, untuk memastikan kewajiban regulasi yang memungkinkan MRT beroperasi di kuartal pertama 2019. Kebijakan yang antara lain berupa Peraturan Gubernur yang memfasilitasi pembangunan berorientasi transit (Transit Oriented Development/TOD) berbasis angkutan rel. Kebijakan yang juga perlu berupa Perjanjian Penyelenggaraan dengan MRT Jakarta yang akan memberikan kepastian hukum dalam transaksi komersialnya. Masih banyak tugas kita bersama, hingga tiba saatnya Mas Anies Baswedan berhak benar-benar duduk di Balai Kota nantinya.

Untuk Mas Anies Baswedan dan Mas Sandiaga Uno -boss baru mendatang yang telah lebih dahulu kukenal sebelum boss yang sekarang- dengan salut yang luar biasa kuucapkan selamat atas sebuah kemenangan fenomenal. Kualitas mereka berdua sudah tak perlu dipertanyakan lagi. Kiprah Mas Anies telah kukenal sejak sebelum jadi Mendikbud, saat sesama masih menjadi akademisi dan dirinya menginspirasi anak-anak muda seantero negeri. Kiprah Mas Sandi juga telah melekat erat, dengan determinasinya sebagai pelaku usaha di sektor energi, dan kontribusinya juga bagi dunia pendidikan. Dua proyek terbesar pembangkit listrik yang lekat kuamati dan terfasilitasi dengan baik progressnya -PLTP Sarulla 330 MW sebagai proyek panas bumi terbesar di dunia dan PLTU Batang 2000 MW sebagai pembangkit batubara rendah emisi terbesar di Asia Tenggara- adalah hasil kerja Mas Sandi dengan kelompok usahanya.

Tak ada keraguan soal kemampuan mereka mengelola sektor infrastruktur dan menginspirasi untuk membangun manusia warga Jakarta. Namun keraguan yang harus ditepis -dan harus dibuktikan bahwa itu salah- adalah sebuah ujaran yang pernah saya dengar terlontar: "Anies Baswedan menang jadi gubernur, hanya karena beragama Islam". Sebuah komentar yang jelas tak enak didengar, namun sekali lagi, harus betul-betul dibuktikan bahwa itu tak benar.

Merajut tenun kebangsaan Indonesia, adalah janji yang harus dibuktikan oleh Mas Anies Baswedan. Dan saya siap untuk mendukung boss baru, dalam membuktikan janji maha besar itu. Karena meski KTP saya provinsi sebelah, ini adalah soal janji agar Indonesia tak terbelah.

*) Penulis adalah seorang "desersi" dosen PNS, untuk mengelola BUMD DKI




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.