Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Gaya  
Keluarga
indonesiana-syarifuddin abdullah
Syarifuddin Abdullah 
Jumat 21 April 2017 17:08 WIB
Dibaca (583)
Komentar (0)

Kartini di Mata Goenawan Mohamad: Anak Jadah yang Terhormat

indonesiana-2017-04-21_Kartini,_Anak_Jadah_yang_Terhormat.jpg

Kartini yang bergelar Raden Ajeng atau Raden Ayu itu adalah anak dari seorang ibu bernama Ngasirah, yang merupakan “salah satu” istri selir RM Adipati Ario Sosroningrat, Bupati Jepara yang hidup dan berkuasa di akhir abad ke-19 di Jepara, Jawa Tengah.

Jika membaca berbagai sumber tentang ulasan sejarah keluarga Kartini, akan muncul kesan bahwa sumber-sumber itu tampaknya malu-malu atau nggak tega menyebut Ngasirah sebagai istri selir, dan kemudian menjelaskan posisi Ngasirah sebagai “...istri pertama RM Adipati Ario Sosroningrat, tetapi bukan istri yang utama... She was his first wife but not the most important one".

Dan barangkali saja saya keliru atau tidak mampu memahaminya secara utuh, namun beberapa tulisan Goenawan Mohamad (GM) di rubrik Catatan Pinggir-nya di Majalah Tempo, mengirim pesan yang nyaris konsisten: menyindir figur Kartini dan pengagungan yang disematkan kepada Kartini, yang oleh WR Soepratman disebutkan dalam bait lagunya: harum baunya itu.

“Kartini meninggal di tahun 1904. Umurnya baru 25. Ia meninggal sebagai seorang ibu.  Di akhir hidupnya yang pendek, ia isteri kedua seorang bupati” (Catatan Pinggir GM: “Monginsidi, Chairil, Kartini”, 25 Desember 2006).

Pada peringatan Hari Kartini 2007, GM kembali menyindir Kartini: kali ini tentang gelar ningkrat Raden Ajeng. “Apa arti ‘Raden Ajeng’ bagi seorang Belanda?... Apa arti gelar itu bagi seorang gadis Jawa yang tahu dirinya tak 100% berdarah ningrat?... Kepada Stella, Kartini mengatakan, ‘Ibuku masih sangat terhubung dengan Kerajaan Madura.’ Tapi Kartini tahu, dan Stella tidak, bahwa ‘Ibu’ di sini bukanlah ibunya sendiri, melainkan ibu tirinya, permaisuri Bupati Jepara. Status ibu kandung Kartini [adalah] seorang dari kelas bawah, hanyalah selir. (Catatan Pinggir GM: “Surat”, 23 April 2007).

Bahkan GM, seolah ingin mengingatkan pembaca bahwa Kartini yang diagung-agungkan itu adalah seorang yang gagal dalam perjuangannya, figur yang terbelah jatidirinya. “…yang bagi saya menyentuh dalam sosok Kartini justru dirinya yang terbelah: ia menjerit dan sebab itu didengar, ia korban dan sebab itu jadi lambang. Kita tahu akhirnya ia gagal: seorang penentang poligami yang mati muda sebagai seorang madu” (Catatan Pinggir GM: “Surat”, 23 April 2007). Tegasnya, Kartini adalah penentang poligami, yang karena tradisi sosialnya, hidupnya juga akhirnya berujung dengan menjadi istri ke sekian juga.

Tentu saya tidak dalam posisi untuk memprotes atau menyanggah pandangan Goenawan Mohammad tentang Kartini. Malah ingin menambahkan bahwa dalam tradisi Jawa di akhir abad ke-19, dan juga mungkin sampai hari-hari ini, seorang anak dari istri selir adalah anak yang lahir di luar nikah, dan karena itu, juga sering diposisikan sebagai anak jadah. Kartini adalah salah satunya.

Bagi sebagian orang, penghormatan kepada seseorang mungkin harus disyarati tentang asal-usul dan sejarah kelahiran orang itu: apakah dia anak sah berdasarkan proses pernikahan yang sah menurut agama dan disahkan pejabat terkait, atau dia anak selir alias anak jadah yang lahir di luar nikah.

Jika syarat ini dijadikan pra syarat penghormatan kepada seorang tokoh, tampaknya kita harus meninjau ulang banyak sekali penghormatan yang terlanjur disematkan kepada tokoh.

Apapun itu, sebagian besar orang mungkin akan sepakat bahwa latar belakang kehidupan pribadi seorang tokoh sejarah, memang harus dibedah, dan jika perlu ditelanjangi dari dua sisi: positif dan negatifnya.

Syarifuddin Abdullah | Jumat, 21 April 2017 / 24 Rajab 2017




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.