Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Ruangbaca  
Seni Budaya
indonesiana-tempoid-default
Rachman Wellmina 
Senin 15 Mei 2017 18:33 WIB
Dibaca (1011)
Komentar (0)

Apakah Hidup Ini Masih Berarti?

indonesiana-Arti.jpg

Leo tolstoy, salah satu novelis terbesar Rusia, dalam salah satu maha karyanya, Ana Karenina, seolah menggugat apa arti kehidupan ini sebenarnya. Anna Karenina, setelah tak tahan dengan problem hidupnya, akhirnya memilih melemparkan tubuh moleknya ke atas rel kereta api. ia mati bunuh diri.

Setelah kematian Anna, Tolstoy terus bertanya tentang arti hidup lewat tokoh rekaannya yang lain, Levin : Apakah ada kepastian dalam hidup ini ? kebaikan pun belum tentu dibalas dengan kebaikan. Tak selalu ada penyelesaian memuaskan dalam persoalan hidup ini. Bahkan penderitaan juga tak kuasa menguak jawaban.

Kehidupan ini, bagi Tolstoy adalah perubahan dan perjuangan terus menerus. Menuju kepada sesuatu yang tidak kita ketahui". Dan kadang akal manusia, tak kuasa menahan beban seperti ini. Dan akhirnya memilih apa yang dilakukan oleh Anna Karenina. Bunuh Diri. Baginya bunuh diri adalah pembebasan. Dari beban hidup yang terus menghimpit. Albert Camus, senada dengan Anna, misalnya, dia bertanya tanya, kenapa tak banyak orang yang memilih jalan Anna saja, untuk mengakhiri hidup yang menyedihkan ini dengan bunuh diri.

 

Novelis terbesar tanah air, Pramoedya memiliki pandangan tersendiri dalam memandang kehidupan. Baginya kehidupan adalah sekumpulan keberanian. Keberanian menghadapi hidup, sebagaimana kata Pramoedya, perlu untuk dilatih, tanpa dilatih kita akan takut menghadapi hidup. Bagi Pram resep menumbuhkan keberanian hidup hanya satu. Hadapi! Jangan pernah lari dari setiap persoalan yang datang. Otot akal kita, jika tidak dilatih, maka akan melapuk kekuatannya. Kita tak lagi mampu mengabstraksi ketika himpitan tuntutan materi semakin menjadi jadi setiap hari. Jika tak kita latih, maka otot otot akal kita akan mati. Dan kita akan mengikuti Anna Karenina, memilih bunuh diri. Tapi (mungkin) dalam bentuk yang berbeda. Kita memilih bunuh diri psikologis. Ketika kita tak lagi mau memilih apa yang kita kehendaki, ketika segala hal kita serahkan kepada kekuasaan struktur sosial keagamaan dan budaya yang ada. Dan kita menjadi kehilangan kemampuan memilih kita. Bukankah hidup tanpa kuasa memilih serupa dengan bunuh diri ?

Bagaimanapun, Anna Karenina merupakan gambaran dari cara pandang penulisnya. Yang dipengaruhi oleh corak berpikir filsafat di zamannya. Nampaknya, Tolstoy ingin berkata kepada pembacanya, terimalah saja hidup ini apa adanya. terimalah nasib ini dengan penuh keberanian menghadapi apapun kenyataan yang menyapamu. Sebagaimana Sisyphus, Raja daerah Corinth dalam mitologi Yunani. Yang menjalani nasibnya dengan penuh suka cita. Ia mendorong batu yang sangat besar menuju puncak bukit. Hanya untuk kemudian menyaksikan batu tersebut tergelincir ke bawah. Dan Sisyphus harus kembali menuruni bukit, mengejar batu tersebut. kemudian mendorongnya lagi ke puncak atas bukit. Demikian seterusnya, tanpa henti. Tanpa jeda sama sekali.

 

Maka jika suatu saat akalmu menemui jalan buntu, tak mampu menemukan jawaban atas semua persoalan hidupmu, dan meskipun seperti kata Soe Hok Gie, tak seorang setanpun tahu tentang arti dan tujuan hidup ini. Tetaplah bersuka cita dan bersemangat. Dan teriakkan kata-kata  Victor Frankl berikut dalam hatimu, ia mengatakan,"Bukan hidup yang memberikan jawaban kepada setiap pertanyaan kita, tapi kitalah yang harus memberikan jawaban kepada kehidupan". Bahwa diri kita, dalam rimba jagad raya ini, memiliki peran khusus yang hanya dan hanya bisa dijalankan oleh kita. Oleh kita satu-satunya. Bukan oleh orang lain. Sehingga kita layak dan berhak mengutip puisi terkenal Chairil Anwar, Sekali berarti sesudah itu mati.

Oleh : Rachman Wellmina

Penikmat Filsafat, Ketua Komunitas Epistemis “Percikan” Jakarta




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.