Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Ruangbaca  
Seni Budaya
indonesiana-tempoid-default
Rachman Wellmina 
Rabu 17 Mei 2017 14:58 WIB
Dibaca (1412)
Komentar (0)

Krisis Epistemologi Kaum Muslim

indonesiana-Sains_Islam.jpg

             Terlepas apakah kita setuju atau menolak dengan istilah filsafat Islam, namun saya sangat yakin akan kegunaan filsafat Islam bagi kaum muslim dan publik di tanah air. Seandainya tradisi keilmuan filsafat Islam dihidupkan di tengah-tengah kita, maka ajaran-ajaran agama Islam akan sangat efektif untuk memompa semangat intelektual rakyat, dan juga untuk menangkal maraknya penjaja spiritualitas palsu di tanah air. Selain itu ajaran Islam yang rasional akan mampu berdialog secara kritis dengan perkembangan sains, ilmu pengetahuan dan teknologi modern. Dan bagi orang-orang yang masih menganggap filsafat bertentangan dengan ajaran Islam. Maka perlu untuk merenungkan makna dan arti dari Sabda Kanjeng Nabi yang sangat filosofis, “Ya Allah singkapkanlah padaku hakikat tertinggi segala sesuatu”(Allahuma arina haqa’iq al-asyya’ kama hiya). Juga Sabda yang lainya, “Tidak ada agama bagi orang yang tak berakal”. UNESCO sendiri telah menetapkan tanggal 21 November sebagai World Philosophy Day, hal ini menunjukkan adanya pengakuan akan keabsahan dan dibutuhkannya filsafat dalam peradaban umat manusia. Dan umat Islam, jika ingin berperan dalam percaturan peradaban, maka mau tidak mau harus memperkuat basis pemikirannya. Tanpa memperkuat basis pemikiran, maka umat Islam tidak akan mampu menjadi umat yang mandiri dan otonom. Tetapi akan selalu bergantung kepada perabadan lain. Dan salah satu titik kunci untuk membangun filsafat Islam adalah melalui pembahasan epistemologi.

Pengertian dan Arti Penting Epistemologi Islam :

            Apa itu epistemologi ? Secara sederhana epistemologi dapat diartikan sebagai, teori pengetahuan. Menurut Syahid Murthada Muthahari, masalah yang paling urgen kita hadapi di abad ini adalah soal epistemologi, hal ini karena kita hidup di zaman isme-isme. Sebut saja kapitalisme, sosialisme demokratik, nihilisme, materialisme, empirisme dan isme-isme yang lain yang sangat banyak. Isme-isme yang beraneka ragam tersebut, akarnya ada pada pandangan dunia atau world view (welstanchaung). Yang jika kita tarik lagi lebih mendalam, maka akarnya ada pada bangunan epistemologinya. Maka perbedaan, atau keunikan, kelebihan dan sifat manusiawi dari filsafat Islam, dapat kita lihat pada kecanggihan bangunan epistemologinya. Dan secara kritis kita dapat bersanding atau bertanding dengan bangunan epistemologi Barat. Dengan kecamata pikiran yang terbuka kita akan melihat betapa rapuhnya bangunan pemikiran dalam epistemolohi Barat. Bukan hanya rapuh saja, namun juga berbahaya bagi kelangsungan spiritualitas dan nilai-nilai luhur non-material yang diusung oleh Islam sebagai agama, maupun Islam sebagai aliran pemikiran, yang dalam hal ini filsafat Islam.

            Dari sisi kitab suci, Al Quran merupakan kitab suci yang sangat memberikan penekanan kepada pentingnya epistemologi. Hal ini misalnya dapat dilihat dari ayat yang pertama kali turun berbunyi, Iqra (bacalah), juga ayat-ayat lain yang mengajak kepada umat manusia untuk berpikir. Misalnya afala yatafakarun, afala ta’kilun, cukup banyak kita jumpai. Juga pada Surat Yunus : 101, Al Quran mengajak umat manusia agar memperhatikan segala yang ada di langit dan yang ada di muka bumi. Jadi sebagai sumber utama ajaran agama Islam, maka Al Quran sangat mengapresiasi pada kegiatan keberpikiran dan keilmuan. Bandingkan dengan  misalnya kitab Taurat dikatakan bahwa Tuhan melarang Adam untuk mencari mendapatkan epistemology. Dan karena Adam akhirnya tetap meraih epistemologi (pengetahuan) maka akhirnya Tuhan mengusir Adam dari Surga. Jelas sekali perbedaannya dalam dua narasi di atas antara Al Quran dan Taurat dalam bersikap terhadap epistemologi atau ilmu pegetahuan. Bahwa Al Quran sangat menganjurkan kepada epistemologi, sedangkan bagi Taurat justru terkesan memusuhi epistemologi. Epistemologi sangat penting, karena secara per definisi manusia adalah hewan “yang berakal”.

Keberpikiranlah yang menjadi ciri pembeda antara manusia dan makhluk lainnya. Jika berhenti berpikir, maka sejatinya seseorang telah kehilangan substansi dasar dari kemanusiaannya. Faktanya banyak orang yang tidak berpikir. Menurut Syeikh Taqi Misbach Yazdi, banyak orang tidak memikirkan mengapa dalam perbuatannya, dan tidak membangun hidupnya di atas dasar gagasan-gagasan yang telah ia pikirkan dengan baik. Sebaliknya yang banyak terjadi justru sekedar ikut-ikutan dengan arus besar budaya dan lingkungan. Dalam istilah jawa rubuh-rubuh gedang, atau surgo nunut neroko katut, artinya orang yang hanya ikut-ikutan saja dengan apa yang terjadi secara masal dan kolosal di dalam hidupnya tanpa ia bertanya atau berani memilih sesuatu yang berbeda untuk dirinya dan keluarganya.

Dari uraian di atas, maka mungkihkah seseorang tidak membutuhkan epistemologi dalam hidupnya. Jawabannya sangat jelas itu tidak mungkin. Namun ada orang yang menyadari, dan ada orang yang tidak menyadari akan kebutuhannya terhadap epistemologi. Hal ini karena dalam hidup ini, kita pasti akan membangun persepsi kita terhadap diri kita sendiri, terhadap alam dimana kita hidup, dan juga terhadap Tuhan. Tiga hal tersebut, alam, Tuhan, dan manusa merupakan tema mendasar dalam pembahasan filsafat. Dan bagi orang-orang yang menolak atau anti terhadap filsafat, juga tetap akan membahas atau setidaknya mempersepsi ketiga hal tersebut. Namun sayangnya pembahasan epistemologi, saat ini masih didominasi oleh pemikiran Barat. Jika kita lihat buku-buku filsafat ilmu yang beredar di pasaran, maupun yang dijadikan text book di perguruan tinggi umum maupun perguruan tinggi Islam masih sangat Barat oriented. Fakta ini tentunya menjadi pertanyaan besar. Ada apa denga epistemologi Islam. Dan jika kita mencoba mencari buku-buku yang membahas epistemologi Islam, memang masih sangat sedikit dan tidak mudah menemukannya. Cukup ironis memang, tema yang sedemikian krusial, mendasar dan sangat penting, namun agaknya tidak banyak pihak yang secara serius memikirkan dan berusaha memenuhi kekosongan teks epistemologi Islam tersebut.

Sumber Epistemologi & Krisis Epistemologi :

            Mungkinkah manusia mengetahui. Pertanyaan tersebut menjadi isu mendasar dalam diskursus epistemologi. Dalam sejarah filsafat Yunani kita mengenal kaum Sophis yang menolak kemampuan manusia untuk mendapatkan pengetahuan. Bagi kaum Sophis, jikapun manusia mendapatkan pengetahuan, maka pengetahuannya meruakan pengetahuan yang salah, tidak sesuai dengan realitas. Untuk membedakan diri dengan kaum Sophis, maka Socrates menggunakan istilah baru yaitu philosophia, yang artinya Cinta akan kebajikan. Berbeda dengan para Sophis, kaum philosophia (filsuf) meyakini kemampuan manusia untuk mendapatkan pengetahuan. Dan sumber untuk mendapatkan pengetahuan tersebut melalui beberapa cara.

            Secara umum sumber-sumber pengetahuan atau epistemologi dapat dikategorikan menjadi beberapa hal, diantaranya yang utama adalah indra, akal, dan hati. Sayangnya Barat modern membatasi pengetahuan yang absah hanya sebatas yang indrawi saja 6. Hal ini menjadi persoalan dan tantangan bagi kaum. Karena keyakinan religiusnya menjadi berantakan jika status ontologis objek pengetahuan dibatasi menjadi sebatas yang inderawi saja. Berbeda dengan pandangan Barat, dalam epistemologi Islam ada hierarki ontologism yang diyakini dapat menjadi objek ilmu pengetahuan. Objek ilmu pengetahuan dalam pandangan epistemologi Islam tidak terbatas pada yang fisik inderawi saja. Namun juga yang metafisika. Bahkan status ontologi metafisika dalam khazanah intelektual Islam, memiliki posisi yang utama dan mulia. Dengan hierarki seperti itu, maka kalangan ilmuwan muslim telah berhasil menyusun  hierarki ilmu 7. Tingkatan ilmu berdasarkan urutan kemuliaan objek ilmu pengetahuan. Dimulai dengan metafisika, kemudian disusul matematika, dan yang terakhir ilmu-ilmu fisik. Dari trikotomi  ilmu tersebut, kemudian dapat lahir berbagai disiplin ilmu rasional lainnya, seperti ontologi, teologi, kosmologi, angegologi, eskatologi, yang termasuk tema metafisika.

            Sedangkan kategori matematika meliputi diantaranya geometri, aljabar, aritmetika, musik dan trignometri. Sedangkan ilmu-ilmu fisik berupa kiia, geologi, geografi,astronomi dan lain lain. Sehingga dengan pembagian hierarki yang jelas seperti itu, maka seorang peneliti moluska tidak sama derajat spiritualnya dengan posisi seorang peneliti tentang malaikat (angegology). Karena tanpa adanya hierarki ilmu tersebut, maka status ilmu akan dianggap sama dan setara, dan ini dikritik oleh para filsuf muslim modern, misalnya oleh Seyyed Hossein Nasr. Seandainya status hierarki ilmu dalam dunia intelektual muslim tidak pecah berantakan, maka saya yakin wacana integrasi ilmu  atau Islamisasi Ilmu model Al Faruqi, dan juga integrasi interkoneksi yang dikembangkan oleh Amin Abdullah tidak lagi relevan dibicarakan.

            Dengan pembatasan status ontologis menjadi sebatas yang empiris saja, maka konsekuensi logisnya metode memperoleh pengetahuan dibatasi pada apa yang disebut sebagai metode ilmiah dimana paradigma positivisme sangat dominan. Adapun kriterianya kebenaran menurut paradigma positivisme diantaranya adalah sebagai berikut, Pertama objektif, dimana teori-teori haruslah bebas nilai. Kedua, fenomenalisme. Ilmu pengetahuan hanya dapat bicara tentang semesta yang dapat diamati. Ketiga, reduksionisme, alam semesta direduksi menjadi fakta-fakta keras yang dapat diamati. Keempat, naturalisme, alam semesta adalah objek yang bergerak mekanis seperti bekerjanya sebuah jam. Dengan kriteria-kriteria tersebut maka metafisika disingkirkan oleh paradigma positivisme. Tidak ada ruang bagi pembicaraan hal-hal yang non empiris dan tak kasat mata.

            Menurut Dr. Haidar Bagir, pakar filsafat Islam tanah air, dimana dia mengutip Morris Berman, apabila kita mengkaji sejarah ilmu pengatahuan, maka apa yang disebut dengan metode ilmiah tersebut paling banter baru berusia lima abad, dari keseluruhan total sejarah umat manusia. Yang dimulai sejak zaman yang disebut Revolusi Ilmiah. Sebelum zaman Revolusi Ilmiah, metode yang digunakan oleh umat manusia adalah dengan menggunakan metode holistik. Yang mengintegrasikan intuitif dan Mistis dengan yang rasional empiris. Dengan memasukkan unsur mistis, dan intuitif maka dimensi ilmu pengetahuan manusia akan semakin luas. Tidak terbatas hanya pada aspek kehidupan empiris saja. Dan hal ini memang sejalan dengan Fitrah manusia itu sendiri yang memang tidak hanya terdiri dari aspek fisik semata, namun juga ada aspek psikis, dan ruh spiritual. Upaya untuk memasukkan wilayah spiritual ke dalam wacana ilmu pengetahuan modern, diantaranya juga pernah diupayakan oleh Henry Corbin dengan wacana mundus imajinalis (alam imajinal). Dimana jika dilacak, ide Corbin berakar pada pemikiran Syeikh Isyraq Suhrawardi. Bagi Corbin, sumbangan terbesar Suhrawardi adalah, telah memungkinkannya untuk dilakukan dialog antara tradisi filsafat Islam dengan sains modern. Dimana keabsahan objek-objek non material atau non empiris dapat dibuktikan oleh Suhrawardi, dan bahwa pengelaman mistis dan religious adalah absah secara ilmu pengetahuan, dan dapat pula menyumbangkan bagi upaya penelitian dan pengembangan ilmu untuk kemanusiaan.

                Uraian di atas berupaya menunjukkan bagaimanakah perbedaan  sumber epistemology antara Islam dan Barat. Jika di Barat hanya membatasi sumber epistemologi pada Indera saja dan sebagian rasio. Maka dalam  tradisi filsafat Islam sumber perolehan pengetahuan juga meliputi hati dan intuisi. Objek-objek ilmu pengetahuan pun di Islam lebih luas, karena tidak terjeak pada sensasi indrawi yang fisikal dan empiris semata. Reduksi epistemologi dalam tradisi Barat pada gilirannya menghasilkan depresi missal bagi umat manusia. Karena Barat telah menyingkirkan Tuhan dalam filsafatnya. Metafisika telah mereka penggal dan bunuh.  Maka menurut Seyyed Hossein Nasr, itulah awal mula petaka di Barat. Ketika Tuhan telah disingkirkan dari ranah kehidupan dan ranah ilmu pengetahuan. Maka filsuf semacam Albert Camus menjadi heran kenapa manusia masih saja terus bertahan hidup dan tidak memilih untuk bunuh diri secara missal untuk mengakhiri kehidupannya. Bagi Camus, ketika hidup hanya berisi absurditas, tanpa ada tujuan, maka jawaban yang paling ideal terhadap kehidupan adalah bunuh diri secara masal. Dan Camus tak pernah bisa mengerti, bahwa manusia tak hanya urusan fisik dan empiris saja, namun ada hal-hal non empiris yang serupa gunung es, justru lebih besar pengaruhnya dan dampaknya. Dan gunung es tersebut adalah sisi-sisi spiritualitas manusia yang dilupakan Barat.

            Albert camus tidak sendirian di Barat, Sigmund Freud yang berangkat dari sudut pandang epistemologi empiris, positivistik, dan reduksionis dalam memandang manusia juga terjebak pada sensasi inderawi saja.  Baginya manusia tak lebih dari makhluk yang digerakkan oleh dorongan seksualitas 13. Bagi Freud manusia telah gila jika ia mencari makna dalam hidupnya. Makna hidup dilempar oleh Freud ke tong sampah. Karena makna tidak ada artinya. Di Barat sendiri reaksi kritik terhadap Freud cukup keras, misalnya Victor Frankl yang secara diametral menganggap manusia dapat bertahan hidup dengan baik jika ia mendapatkan makna 14. Freud juga menganggap Tuhan dan agama adalah hasil imajinasi manusia. Yang tak lain adalah ilusi atau delusi manusia sendiri.

            Pertanyaannya, mengapa Albert Camus, Sigmund Freud dapat terjerembab kepada kesimpulan-kesimpulan yang mengerikan terkait manusia dan kehidupan. Hal ini jika kita lacak, berakar pada epistemologinya. Dalam bangunan epistemology empiris, positivistik, reduksionis, tidak ada tempat pada hal-hal yang bersifat spiritual. Mereka telah mengebiri kehidupan manusia hanya sebatas aspek fisik, inderawi dan empiris saja. Dan telah membunuh metafisika sebagai sebuah realitas ontology yang absah keberadaannya. Bisa kita bayangkan betapa parahnya bangunan keberagamaan kita, jika problem epistemology umat Islam mengacu kepada Barat secara membabi buta tanpa kritik sama sekali. Kita mungkin tidak pernah berpikir bahwa, bangunan epistemologi yang terlihat sangat simple dan seolah sepele itu ternyata memiliki dampak yang sangat luar biasa dalam keseluruhan bangunan pengetahuan seseorang. Karena itulah, upaya membenahi sengkarut peradaban dapat dimulai dari entry membenahi problem epistemologi yang mendominasi pandangan umat saat ini sebagai titik prioritas utama. Tanpa membenahi problem epistemis, maka solusi-solusi yang coba ditawarkan hanya akan mengapung pada permukaan saja, dan tidak mampu membahas sampai ke dalam akar-akar persoalan peradaban. Begitu juga sebaliknya, jika kita benahi sisi epistemis, meskipun terasa rumit dan akan membutuhkan waktu lama, namun akan lebih akurat secara strategi jangka panjangnya. Dan tepat pada titik inilah sebenarnya peluang-peluang persoalan yang memberikan kesempatan sangat luas bagi filsafat Islam untuk menwarkan jawaban alternatif bagi kemanusiaan dan kelangsungan hidup peradaban manusia.

Dampak Krisis Epistemologi Dalam Bidang Pendidikan

            Epistemologi empiris, positivis dan reduksionis memiliki banyak dampak negatif dalam kelangsungan kehidupan umat manusia. Karena epistemologi merupakan semacam soft ware dalam sistem bangunan pemikiran manusia. Maka ia sangat berpengaruh dalam alam  bawah sadar, yang akhirnya juga berdampak terhadap perilaku atau perbuatan keseharian. Berikut akan dijelaskan beberapa dampak negatif dari krisis epistemologi khususnya dalam bidang pendidikan.

            Logika akan membawamu dari A ke B, sedangkan imajinasi mampu membawa kita kemana saja. Kata-lata tersebut merupakan quotes yang cukup sering kita dengar, dan senada dengan quotes tersebut, Albert Einstein, salah satu saintis terbesar di planet bumi ini berkata, imajinasi lebih penting dari ilmu pasti. Namun sayangnya, masyarakat kita mayoritas menganggap Einstein tengah bergurau ketika berkata demikian. Hal ini bisa dilihat dari betapa ilmu pasti atau eksakta lebih popular dan diagung-agungkan oleh para guru dan orang tua. Yang kemudian menurun keapda para siswa atau pelajar. Jika seorang anak mendapatkan nilai 100 dalam pelajaran Matematika, Fisika atau Kimia. Maka orang tua akan gegap gempita menceritakan achievement atau pencapaian anaknya kepada para tetangga dan keluarga. Bahkan tak lupa update status di sosial media. Demikian juga dengan para guru yang akan sangat senang jika nilai MAFIA (matematika, fisika, kimia) anak didiknya mendapatkan nilai maksimal. Namun coba bandingkan dengan orang tua yang anaknya mendapatkan nila 100 untuk pelajaran Bahasa Indonesia. Maka orang tua dan guru akan bersikap biasa saja. Seolah hal tersebut bukan prestasi besar.

            Kenapa hal di atas dapat terjadi, jika kita kaitkan dengan pembahasan epistemologi sebelumnya, karena pelajaran matematika, fisika, kimia memiliki nilai empiris yang sangat besar. Maksudnya di masa depan anak-anak yang jago dalam bidang tersebut akan mudah mendapatkan pekerjaan bergengsi, lalu menjadi professional di perusahaan besar, mendapatkan gaji besar dan dapat hidup mewah berkecukupan, jalan-jalan ke luar negeri dan sebagainya. Intinya tujuan utama dari perndidikan dengan system demikian bukanlah mendidik jiw amanusia agar menyempurna sesuai dengan fitrahnya.  Namun pendidikan telah direduksi menjadi kursus untuk menyiapkan para tukang-tukang berdasi, yang hanya mengerti bagaimana mendapatkan kelimpahan materi dalam hidupnya. Dan mereka tidak diajari seni bagaimana menjadi manusia, apa itu manusia, apa saja kebutuhan hakiki manusia, darimana ia berasal dan kelak kemana akan pergi. Sekolah dan kampus, guru dan dosen tidak ada yang mengajarkan itu. Karena dalam bangunan epistemology mereka memang sebatas pada materi, yang empiris-positivistik, dan tidak lebih dari itu. Imajinasi pun tidak dikembangkan, hanya sebatas pada persoalan materi dan perut saja. Tidak lebih dari itu.

            Namun yang paling mengerikan dari sistem pendidikan yang dekaden secara epistemologi adalah, tidak pernah diajarkannya arti kebahagiaan dalam kehidupan. Padahal kebahagiaan, yang merupakan hal utama yang selalu dikejar oleh manusia, selalu dicari, diburu dan didamba oleh manusia, namun ironisnya tidak pernah menjadi diskursus dalam wacana di sekolah dan kampus. Guru-guru tak pernah mengajarkan. Akibatnya, saat memasuki dunia kerja mereka mereduksi arti kebahagiaan menjadi sebatas kepemilikan benda-benda pemuas kebutuhan sebanyak mungkin. Sehingga segala upaya dilakukan agar dapat memperoleh alat pemuas kebutuhan sebanyak-banyaknya. Tanpa diimbangi dengan meluangkan waktu untuk merefleksikan diri, apa sesungguhnya yang dia cari dalam hidup ini. Apa sebenarnya arti kebahagiaan yang dia kejar tersebut.

            Dalam dunia pendidikan, nilai raport menjadi tujuan utama. Bukan lagi proses pembelajaran dan upaya memanusiawikan diri agar menjadi manusia yang manusiawi yang didamba, tetapi proses sekolah dan kuliah sudah terjebak pada aspek-aspek ukuran yang terlihat semata. Dan kelak saat masuk dalam dunia  kerja, jabatan dan kedudukan menjadi motif utama dalam bekerja, dengan tujuan agar dapat membeli alat pemuas kebutuhan yang paling banyak, yang paling bagus dibandingkan orang lain. Bekerja bukan lagi ajang untuk aktualisasi diri dan berkarya, namun sudah direduksi menjadi upaya segala cara untuk memiliki kemampuan membeli alat pemuas kebutuhan sebagus mungkin. Sehingga jurus katak sikut kiri kanan, injak bawahan, jilat atasan menjadi bukan persoalan, agar karier dapat melesat cepat. Penghasilan meningkat berkali lipat, dan alat pemuas kebutuhan sebanyak mungkin dimiliki. Hal itu semua berakar pada asumsi, bahwa dengan memiliki alat pemuas kebutuhan sebanyak mungkin otomotis akan semakin bahagia. Dan ketika kebahagiaan tak kunjung datang jua, maka alat pemuas kebutuhan akan dibeli lebih banyak, dan lebih banyak lagi. Semacam orang haus, yang mencoba mengobatinya dengan meminum air lautan, semakin diminum justru semakin mendatangkan rasa dahaga.

            Puncak krisis epistemologi yang mewujud dalam krisis paradigma adalah ketika secara masal manusia menganggap kebahagiaan hanya dapat diraih dengan satu jalan saja, yaitu memiliki alat pemuas kebutuhan sebanyak mungkin, dan sebagus mungkin. Dan seolah ketika seseorang berkekurangan secara materi, tidak dapat membeli alat pemuas kebutuhan sebanyak dan sebagus orang lain, lantas dia tidak sanggup mengecap kebahagiaan. Dan inilah salah satu serangan budaya paradigm empiris, positivistic, reduksionis Barat yang secara halus masuk merembes ke dalam tulang sumsum peradaban Islam. Ayatullah Ali Khamenei menyebut hal ini dengan istilah  “perang kebudayaan”. Berbeda dengan perang konvensional yang mana antar lawan saling berhadapan dan berbunuhan, maka dalam “perang kebudayaan” para korban justru akan merasa senang. Ironisnya dalam perang kebudayaan, para korbannya tidak sadar bahwa dia tengah menjadi korban, bahkan sebaliknya para korban menikmatinya.

            “Perang kebudayaan” yang dilancarkan paradigma postivistik, empiris, reduksionis Barat sebenarnya tidak akan efektif seandainya bangunan epistemologi kaum muslim kokoh. Namun sayangnya, yang terjadi justru kaum muslim tak mengenal bangunan epistemologinya. Bukan hanya tak mengenal, lebih jauh malah para akademisinya banyak yang silau dan terpesona dengan corak bangunan epistemologi Barat. Sehingga rapuhnya bangunan epistemologi kaum muslim, memudahkan bagi paradigma postivistik, empiris, reduksionis Barat untuk dengan sangat gampang mewarnai pemikiran kau muslim secara luas. Demikianlah sebagian dampak krisis epistemology yang melanda dunia Islam modern. Dampaknya sudah banyak dirasakan secara missal dan kolosal. Hanya saja kesadaran untuk menengok, mengkaji, meneliti dan mempelajari khazanah intelektual muslim klasik, masih belum membudaya di dalam masyarakat muslim tanah air secara umum. Sehingga potensi paradigma alternatif yang bisa ditawarkan oleh epistemologi Islam, masih belum banyak dieksplore dan diketahui public secara luas. Khususnya publik yang berlatar belakang pendidikan non filsafat Islam.  Hal ini tentu menjadi tantangan tersendiri dan potensi yang besar untuk digarap dengan lebih serius.

 

Rachman-Wellmina

Penikmat Filsafat

Ketua Komunitas Epistemis “PERCIKAN” Jakarta




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.