Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Gaya  
Karir
indonesiana-tempoid-default
Cheta Nilawaty 
Rabu 17 Mei 2017 15:05 WIB
Dibaca (698)
Komentar (0)

Tunanetra Juga Bisa Jadi Penulis ~ Cerita Cheta

indonesiana-cheta.jpg

Diskusi siang itu dimulai dengan cerita sosok tunanetra bernama Elon. Iya kehilangan penglihatan ketika duduk di bangku sekolah dasar. Setelah  kehilangan penglihatan Elon tetap meneruskan sekolahnya walau dengan tertatih-tatih . Ia dianggap sakti oleh orang orang sekampung karena dapat menebak jenis motor dan warnanya tanpa melihat. Saat ini Ellon pun sudah bekerja mapan, iya menjadi staf ahli Wali Kota Kuningan, Jawa Barat.

Elon adalah teman masa kecil dari Bagja Hidayat, jurnalis Majalah Tempo yang menjadi pembicara dalam kelas menulis tersebut. Dari cerita Elon,  Bagja menggambarkan, tunanetra dapat memberikan deskripsi terhadap suatu obyek berdasarkan persepsi visual yang pernah terekam  dalam ingatannya. "Tidak ada halangan bagi tunanetra untuk bisa menulis karena mereka dapat mendeskripsikan sesuatu dari sudut pandang yang berbeda," ujar Bagja, Selasa 9 Mei 2017.

Berdasarkan persepsi indra yang mereka punya selain indra penglihatan,  beberapa teman tunanetra yang saya temui, dapat membuat resensi. Salah satunya resensi kuliner berdasarkan indra pengecap dan penciuman yang mereka miliki. Tentu resensi itu akan terbatas pada deskripsi warna dan bentuk. Tetapi tunanetra  mendeskripsikan secara lebih detil pada rasa dan tekstur.

Salah satu teman tunanetra juga ada yang  tertarik dengan dunia otomotif. Uniknya teman tunanetra tersebut dapat mendeskripsikan sampai ke jenis mesin   bukan sebatas merek mobil. Tentunya teman tersebut tidak melakukan tes drive terlebih dahulu, tapi ia termasuk yang rajin mengikuti pameran otomotif di Jakarta. Setelah itu pengumpulan informasi dilakukan dengan cara bertanya kemudian menyimpan informasi tersebut di dalam ingatan. Terkadang teman tunanetra saya itu juga meraba seluruh body  mobil, bila ada jenis mobil atau mesin terbaru yang belum pernah ada di dalam data ingatannya.

Tidak sekedar resensi, teman teman tunanetra juga membuat sebuah wadah menulis berupa situs web bernama Kartunet.com yang   sudah eksis sejak 2006. Dalam perkembangannya, Kartunet -  merupakan kepanjangan dari Karya Tunanetra, juga menjadi wadah sosial media dan digital marketing yang cukup baik di komunitas Tunanetra. Karena itu ketika ada diskusi tentang tulis menulis, cukup banyak teman teman tunanetra yang hadir. Sebab kegiatan ini  tidak asing dan terakses bagi mereka.

Beberapa halangan yang dialami tunanetra ketika menulis hampir sama dengan penulis lain. Ide yang mampet, putus asa di tengah jalan ketika menulis, repetitif atau pengulangan informasi dan kata, hingga salah ketik. Halangan  lain yang sering terjadi adalah penggunaan kalimat  bertingkat yang cukup banyak. Penyusunan kalimat menjadi sebuah tantangan tersendiri karena selama ini tunanetra menulis dibantu dengan panduan suara. Bila tidak rajin memeriksa tulisan akan banyak kalimat bertingkat  yang tidak terhubung dengan konteks kalimat sebelumnya.

Dalam diskusi itu Bagja menekankan, langkah pertama yang harus dilakukan tunanetra ketika menulis adalah membuat kalimat yang baik dan benar. Yaitu sebuah kalimat dengan posisi subyek predikat obyek dan keterangan dengan urutan  yang sesuai, serta lengkap keempat unsurnya.  Iya  menekankan,  kalimat  harus disampaikan inti masalahnya secara langsung. Karena itu menurut Bagja, lebih baik menggunakan kalimat aktif daripada kalimat pasif.

Dari semua materi yang  disampaikan hari itu, paling penting adalah tunanetra mau memulai sebuah tulisan dengan konsisten. "Jangan  terlalu lama,  langsung saja ditulis apa yang   ada di dalam pikiran," ujar Bagja.  




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.