Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Nasional  
Nasional
indonesiana-FX Wikan
FX Wikan Indrarto
Kamis 18 Mei 2017 13:26 WIB
Dibaca (506)
Komentar (0)

Peran Kebangsaan Dokter demi NKRI ~ FX Wikan Indrarto

indonesiana-stovia.jpg

Dr. FX. Wikan Indrarto, Sp.A

Setiap tanggal 20 Mei, tidak hanya diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional, tetapi juga sebagai Hari Bakti Dokter Indonesia (HBDI). Mulai tahun 2008, PB IDI (Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia) secara rutin menyelenggarakan HBDI, agar para dokter jaman sekarang meneladan para dokter seniornya dalam berbakti untuk negeri. Apa yang harus dilakukan oleh para dokter ?

Dokter seharusnya tidak hanya melakukan pengobatan (agent of treatment), tetapi juga menjadi agen perubahan (agent of change) dan agen pembangunan (agent of development) bangsa.  Kebangkitan nasional tidak terlepas dari peran besar dokter sebagai agen perubahan dan pembangunan, yaitu dr. Wahidin Soedirohoesodo, dr. Soetomo dan teman-teman dokter dalam pembentukan Boedi Oetomo pada tahun 1908.

Profesi dokter jaman sekarang sangat dipengaruhi oleh program besar JKN (Jaminan Kesehatan Nasional) yang diterapkan mulai 1 Januari 2014. Perubahan drastis dalam sistem pembiayaan pasien pada era JKN ini, diduga telah menyebabkan perubahan besar pada alur pikir dan tindakan medik oleh dokter, bahkan juga pendapatan finansial sebagian besar dokter. Selain itu, pembatasan kebebasan profesi dokter sebagai ‘agent of treatment’ dalam pengambilan keputusan medik pada pelayanan pasien, diduga telah menimbulkan penolakan dalam diam bagi banyak dokter, atas sistem JKN yang dirasakan belum adil. Para dokter seharusnya mewujudkan baktinya untuk negeri, dengan tidak sekedar mengkritik, tetapi juga menyumbangkan pemikiran, niat baik dan kompetensinya, demi terwujudnya sistem JKN di Indonesia yang lebih baik.  

Selain itu, saat ini Indonesia sedang mengalami masalah besar, dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Ancaman terbesar adalah potensi konflik karena kepentingan 2 kelompok besar dalam Pilakada 2017, yang menyebabkan polarisasi hebat dan kita hampir terbelah, bahkan sampai di tingkat terkecil, yaitu keluarga. Keberagaman, kemajemukan dan kebhinekaan kita sebagai sebuah bangsa besar justru terlihat berpotensi sebagai awal perpecahan. Pada hal, dalam semangat dan semboyan Bhineka Tunggal Ika, sebenarnya kita justru berpotensi menjadi negara maju seperti sudah semakin jelas terlihat dalam Program Nawacita dan Hasil awal Kerja Presiden Joko Widodo, meskipun tetap dalam keberagaman. Para dokter Indonesia tentu saja wajib mendukung kebhinekaan kita sebagai sebuah bangsa, sebagaimana telah diteladankan oleh Dr. Wahidin  Soedirohoesodo.

Dokter yang lahir 7 Januari 1852 di Mlati, Sleman, yang waktu itu menjadi wilayah Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, sangat senang bergaul dengan rakyat biasa, sehingga mengetahui benar apa arti penderitaan rakyat. Ia juga sangat menyadari bagaimana terbelakang dan tertindasnya rakyat Hindia Belanda, akibat kekejaman sistem penjajahan Belanda. Menurutnya, salah satu cara untuk membebaskan diri dari penjajahan, rakyat haruslah cerdas. Untuk itu, rakyat harus diberi kesempatan mengikuti pendidikan di sekolah-sekolah resmi. Dua hal pokok yang menjadi perjuangan Dr. Wahidin  dan seharus juga dilakukan para dokter jaman sekarang, ialah memperluas pendidikan dan pengajaran, serta memupuk kesadaran kebangsaan.

Gagasan tersebut juga dikemukakannya pada para pelajar ‘School tot Opleiding van Inlandsche Artsen’ (STOVIA) di Jakarta, yaitu sekolah untuk pendidikan dokter pribumi pada zaman kolonial Hindia Belanda. Gagasan besar tersebut khususnya tentang perlunya mendirikan organisasi yang bertujuan memajukan pendidikan dan meninggikan martabat bangsa. Gagasan ini ternyata disambut baik oleh para pelajar STOVIA tersebut. Pada akhir tahun 1907, dr. Wahidin bertemu dengan Sutomo, seorang pelajar dari STOVIA di Jakarta. Berdasar pertemuan itu, Sutomo menceriterakan kepada teman-temannya di STOVIA maksud dan tujuan dr. Wahidin. Akhirnya pada tanggal 20 Mei 1908, lahirlah Budi Utomo.

Para dokter Indonesia jaman sekarang, memang tidak harus sampai membentuk sebuah organisasi seperti Boedi Outomo, tetapi rasanya lebih pas dengan menyebarluaskan semangat dan paham kebangsaan di seluruh Indonesia. Langkah besar tersebut telah dilakukan dr. Wahidin waktu itu dengan berkeliling ke kota-kota besar di Pulau Jawa, mengunjungi tokoh-tokoh masyarakat, dan kalangan priayi Jawa antara tahun 1906-1907. Pengajaran tentang keberagaman, kemajemukan dan kebhinekaan kita sebagai sebuah bangsa dalam semangat dan semboyan Bhineka Tunggal Ika, seharusnya dilakukan secara aktif oleh dokter.

Dalam Bahasa Latin ‘Duco, Ducere, Duxi, Ductus’ yang merupakan asal kata dokter dan berarti memimpin atau mempertimbangkan, maka wajar saja kalau dokter memiliki kewajiban memimpin warga bangsa. Selain itu, dokter juga wajib mengajak mempertimbangkan hal yang terbaik tentang keberagaman, kemajemukan dan kebhinekaan kita. Tentunya demi terwujudnya Indonesia seperti yang dirumuskan dan cita-citakan oleh segenap pendiri bangsa. Hal ini dapat dimulai dengan ikut serta secara aktif, dalam meredam perpecahan paham dan munculnya pendapat yang sangat keras di sekitar kehidupan para dokter, baik di lingkup keluarga maupun komunitas pekerjaan. Para dokter dapat juga memanfaatkan sebaik mungkin, luasnya pergaulan, mahirnya iptek dan besarnya pengaruh atau kewibawaan profesi. Selain itu, juga menggalang kebersamaan dengan segenap pihak yang memiliki keprihatinan serupa, agar potensi perpecahan dapat diredam.

Momentum 20 Mei 2017 seharusnya memunculkan para dokter dengan peran lain, yaitu peran perubahan (agent of change) dan pembangunan (agent of development) kebangsaan, sebagaimana telah dilakukan oleh dr. Wahidin dalam pembentukan Boedi Oetomo dahulu. Apakah dokter sanggup berbakti untuk negeri?

Sekian

Sandeq Ballroom Grand Clarion Hotel Makassar, 12 Mei 2017.




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.