Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Bisnis  
Analisa
indonesiana-tempoid-default
Dian Basuki 
Jumat 19 Mei 2017 21:58 WIB
Dibaca (481)
Komentar (0)

Mengubah Strategi, Mengubah Cara Berpikir

 

Sebagian pelaku bisnis penerbangan agaknya berpikir bahwa memperbanyak armada pesawat merupakan cara terbaik untuk mendongkrak kinerja bisnis. Mereka berlomba-lomba mendapatkan izin rute yang dianggap punya prospek menjanjikan: akan banyak orang berkunjung ke wilayah tertentu dan memerlukan jasa penerbangan untuk sampai ke sana. Terlebih lagi ketika industri pariwisata tengah digalakkan.

Sepintas tak ada yang keliru dari pandangan itu. Pelaku bisnis ini melihat peluang besar yang berpotensi meningkatkan pendapatan mereka. Cara yang mungkin dilakukan, menurut mereka, adalah memperbanyak rute—untuk ‘rute gemuk’, frekuensi penerbangan ditingkatkan—dan karena itu armada pesawat harus ditambah. Makin banyak pesawat, makin banyak penumpang yang dapat diangkut.

Sayangnya, eksekusi di lapangan kerap kedodoran: pesawat sering terlambat terbang, kru kurang disiplin, pramugari kurang ramah, hingga banyak penumpang mengeluh kehilangan isi bagasi. Apa yang paling tergambar dalam benak para pebisnis ini ialah penghasilan meningkat bila jumlah penumpang meningkat. Apakah ini berarti mutu pelayanan serta merta meningkat? Belum tentu, atau bahkan peningkatan mutu pelayanan tak usah dipikirkan dulu.

Para pebisnis ini mungkin mengabaikan adanya perbedaan di antara dua hal dalam bisnis mereka: menerbangkan pesawat yang membawa orang dan melayani orang dengan memakai pesawat terbang sebagai sarananya.

Yang pertama bertumpu pada pemikiran bahwa bisnis saya adalah menerbangkan pesawat, sedangkan yang kedua bersandar pada pemikiran bahwa bisnis saya adalah melayani orang (yang bepergian). Yang pertama mengukur keberhasilan bisnis dari sebaik apa utilisasi pesawat (misalnya, makin banyak penumpang diangkut, semakin tinggi utilisasi pesawat, dan ini bagus), sedangkan yang kedua mengukur keberhasilan dari sebaik apa layanan mereka di mata penumpang.

Perbedaan di antara dua hal itu bukan semata perbedaan strategi, melainkan perbedaan cara berpikir dan cara memandang tantangan atau persoalan. Keduanya mewakili cara pandang yang berbeda dalam menjalankan bisnis penerbangan. Ketika sebuah strategi bisnis dijalankan, maka itulah wujud dari cara berpikir eksekutif perusahaan. Lantaran itu, jika sebuah strategi bisnis diubah dan diganti dengan yang baru, cara berpikir pun mesti diubah.

Terjadinya kedodoran dalam eksekusi di lapangan menunjukkan bahwa strategi sudah diubah, tapi cara berpikir belum berubah. Pelaku bisnis ini menyangka, jika mereka menambah jumlah pesawat, segala sesuatunya akan berjalan sempurna seperti sebelumnya. Faktanya, beban kerja tim meningkat, terjadi kerepotan dalam mengatur jadwal terbang kru, dan terjadi penundaan keberangkatan penumpang. Pendeknya, mutu layanan menurun.

Bila para eksekutif berpikir bahwa bisnisnya adalah melayani orang (yang bepergian), mereka akan mengutamakan peningkatan mutu layanan—sekurang-kurangnya tidak terjadi penurunan. Jika mereka ingin meraih penumpang potensial di rute-rute baru, mereka akan berpikir dalam kerangka ‘memberi layanan terbaik’. Mereka akan berusaha menemukan cara-cara baru dalam melayani penumpang. Misalnya saja, mengeksplorasi keunggulan jejaring dan platform teknologi digital untuk menopang rencana ekspansi bisnis mereka.

Mereka berusaha berpikir dengan cara yang berbeda karena tantangan sudah berubah. Mereka tidak ingin konsumen dikorbankan hanya demi mendongkrak tingkat utilitas pesawat, sebab bisnis mereka adalah melayani. **




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.