Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Ruangbaca  
Prosa
indonesiana-Robbi Sunarto
Robbi Sunarto 
Sabtu 20 Mei 2017 00:17 WIB
Dibaca (864)
Komentar (0)

Anak Medan Itu, Masih di Gedung Tempo

indonesiana-lo.jpg

Anak Medan itu masih di gedung Tempo, belum bisa pulang. Sebut saja namanya Fajar. Pada tanggal 15 Mei –tengah malam, Fajar sampai, di Bandara Soekarno-Hatta, Tanggerang. Di Jakarta, Fajar tidak punya kenalan. Untuk membunuh malam, Fajar tidur di atas lantai, bandara yang dingin. Matahari telah terbit, ketika fajar membuka mata. Segera, dengan angkutan online, Fajar bergegas, menuju gedung Tempo.

Fajar, mahasiswa semester 6, jurusan ilmu politik, Universitas Sumatera Utara. Berawal dari informasi, yang diumumkan di Facebok Tempo Institute. Dalam pengumuman itu, Tempo Institute membuka kesempatan kepada masyarakat, mendapatkan beasiswa pelatihan menulis opini, dalam kegiatan, Klinik Menulis Opini Tahap II, selama tiga hari di gedung Tempo.

Sebagai mahasiswa, Fajar mencintai dunia tulis menulis. Fajarpun telah mengirimkan tulisan ke berbagai media, dan sebagian dimuat. Selain itu, bersama teman-temannya, ia ikut mendirikan Toba Writters Forum (TWF). Merasa masih memiliki kekurangan di sana-sini, ingin mematangkan, berbagi, dan membesarkan forum yang telah ia dirikan, Fajar tertarik dengan pengumuman Tempo Institute.

Mungkin, kalimat yang tepat menggambarkan reaksi Fajar saat melihat pengumuman dari Tempo Institute, tidak ada kata “nanti”, Ia segera menulis proposal, yang menjadi syarat untuk mendapat-kan beasiswa. Di dalam proposal tersebut, Fajar harus menuliskan alasan kenapa ia  ingin ikut pelatihan menulis.

Selain meminta menuliskan alasan, Tempo Institute juga meminta, calon penerima beasiswa memilih, antara mendapatkan tiket gratis pesawat, pulang-pergi, atau mendapatkan tiket gratis pelatihan menulis. Melihat harga tiket pelatihan, jauh lebih mahal, Fajar akhirnya memilih, mendapatkan beasiswa tiket pelatihan.

Beasiswa pelatihan sudah dalam genggaman, saat Tempo Institute, pada tanggal 14 Mei 2017 mengirimkan email, mengabulkan permohonan proposal Fajar. Tinggal satu persoalan, dana beli tiket pesawat. Sesuai regulasi, kampus tidak bisa memberikan dana di awal kepada mahasiswa. Dana hanya bisa dicairkan ketika kegiatan telah selesai dilaksanakan, dengan melampirkan pengeluaran akomadasi selama kegiatan. Dengan regulasi seperti ini, tidak ada cara lain, Fajar harus mencari dana talangan, hutang ke sana-sini, Fajarpun berangkat malam hari, Medan-Jakarta.

Tidak sia-sia, Klinik Menulis Opini Tempo Institute, diikuti tiga belas peserta. Selain dari berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa, karyawan, lsm, dosen, pegawai negeri, dan umum, para peserta itu juga berasal dari provinsi yang berbeda. Ada peserta yang berasal dari pulau Jawa, ada juga peserta yang berasal dari pulau Sumatera, tepatnya, Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Dengan peserta yang terbatas itu, membuat pelatihan dari Tempo Institute, terasa begitu privat. Para peserta bebas berinteraksi dengan pemateri, dalam persoalan apapun, tanpa ada hambatan.

Tidak tanggung-tanggung, dalam pelatihan itu, Tempo Institute langsung mengirim para Redaktur Tempo, termasuk Redaktur senior. Hari pertama pelatihan, diisi oleh Yos Rizal,  Redaktur Pelaksana Sains dan Sport Tempo, dengan materi: mengenal rubrik opini di berbagai media massa; nilai berita dan etika menulis opini; ide dan angel, dan; praktek dengan tulisan peserta.

Hari kedua, sesi pertama diisi Daru Priyambodo, Redaktur Senior Tempo, dengan materi: review tulisan peserta; fokus dan outline; lead, judul dan membangun argumentasi. Selanjutnya, sesi kedua, diisi Iwan Kurniawan, Redaktur Utama Indonesiana, Tempo, dengan materi: Editing. Pada hari ketiga, kegiatan ditutup dengan mentoring, mengaplikasikan dan mempersentasikan tulisan opini peserta, berdasarkan materi yang diberikan.

Klinik Menulis Opini itu secara resmi di tutup setelah memberikan hadiah kepada dua peserta terbaik, berdasarkan pilihan – dua pemateri. Selain memberikan makan, alat tulis, kaos pelatihan, peserta juga diberikan buku dan sertifikat pelatihan, ditanda-tangani Direktur Eksekutif  Tempo Institute, Mardiyah Camim. Tidak lupa, acara juga diselingi dengan sesi foto bersama.

Sesi foto selesai, suara di ruangan itupun perlahan mengecil. Satu persatu, langkah kaki pemateri, dan peserta, melewati pintu. Tinggal dua orang, seperti bimbang, mereka tidak ikut melangkah keluar, memilih tetap di dalam. Anak Minang dan anak Medan itu, ke Jakarta, hanya bermodal nekat, demi ilmu yang berharga.

Mereka saat berangkat mendapatkan dana talangan, dari teman-temannya, tapi tidak untuk pulang. Kini, anak Medan itu sedang terlelap di gedung Tempo. mulutnya memang diam, tapi, si anak minang yang sedang menulis ini, mendengarkan suara hati si anak Medan, si hati berkata: Ibu, aku ingin segera pulang, doakan aku, semoga esok dapat jalan!

Sumber Foto: mobgenic.com

Jakarta, 20 Mei 2017  

 

Robbi Sunarto

 

 




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.