Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Nasional  
Nasional
indonesiana-SYAHIRUL ALIM
SYAHIRUL ALIM 
Menulis, Mengajar dan Mengaji
Minggu 18 Juni 2017 16:05 WIB
Dibaca (1592)
Komentar (0)

Mudahnya Menjadi Indonesia ala Jokowi

indonesiana-menjadi_indonesia_antara.jpg

Sekian juta pulau yang terbentang di seantero Nusantara, dari sejak Pulau Miangas hingga Pulau Rote, belum lagi ditambah kenyataan ratusan adat dan budaya lengkap dengan perbedaan bahasanya, tetap tak mengubah Indonesia menjadi berbeda. Bangsa ini tetap tumbuh dalam keberagaman dan tak pernah ada persoalan, apakah intoleransi, benturan budaya atau agama, atau konflik apapun yang yang membanggakan keunggulan etnik atau budayanya. Menjadi Indonesia itu mudah, semudah kita larut dalam setiap sekat adat dan budayanya tanpa mempertentangkan ketika bahasa Indonesia yang kita pergunakan. “Bahasa” sepertinya menjadi unsur pemersatu paling penting dalam keragaman kehidupan budaya, adat dan keyakinan. Melalui bahasa, kita semakin mudah menjadi Indonesia dan larut dalam keragaman adat, budaya dan agama.

Mudahnya menjadi Indonesia sepertinya sedang dipromosikan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang sasarannya adalah para pemangku agama Islam, para santri di berbagai pondok pesantren yang belakangan ini sedang gencar dikunjungi oleh Jokowi. Setelah sukses menjalankan serangkaian safari pesantren di wilayah Jawa Barat, Jokowi beberapa hari yang lalu bertandang ke wilayah Jawa Tengah dan hadir bersama-sama dengan santri di Pondok Pesantren Miftahul Huda, Cilacap dan Pondok Pesantren Darussalam Dukuhwaluh, Purwokerto. Ramadhan tahun ini benar-benar dimanfaatkan oleh Jokowi untuk terus berkeliling pesantren mempromosikan mudahnya menjadi Indonesia yang tanpa sekat ditengah keragaman adat, budaya dan agama. Umat Islam—terutama kalangan muslim tradisionalis—nampaknya menjadi target Jokowi memupuk keindonesiaan tanpa harus mempertentangkan dengan keislaman yang selama ini mereka yakini.

Entah apa alasan Jokowi yang hanya menyasar kalangan muslim yang berlatar belakang pesantren, tidak secara umum menyasar kalangan muslim lainnya yang lebih “modern” dan tinggal di pusat-pusat perkotaan. Soal Islam dan Indonesia, nampaknya menjadi isu terpenting dalam kepolitikan Jokowi, sehingga tak tanggung-tanggung, seluruh pesantren menjadi target dan sasaran utama dirinya untuk mempromosikan Islam Indonesia dan bagaimana mudahnya menjadi Indonesia yang pertumbuhannya harus dimulai dari generasi rural, bukan dari generasi central. Jokowi nampaknya memahami, bahwa pesantren adalah “subkultur”—sebagaimana Gus Dur—sehingga wajar jika pesantren dijadikan sasaran soal pengenalan tradisi yang lebih besar, karena sebagai subkultur, pesantren tentu tak akan pernah mempermasalahkannya.

Isu mengenai Islam dan Indonesia seakan bergulir kembali terutama belakangan ini karena terus menjadi perhatian pemerintah melalui serangkaian kunjungan presiden ke berbagai pondok pesantren di seluruh Indonesia. Islam dan Indonesia seperti menjadi isu paling krusial dalam pemerintahan Jokowi-JK, hal ini sangat jelas terlihat tidak hanya serangkaian safari Ramadan Jokowi keberbagai pesantren di Indonesia, termasuk juga lawatan Wakil Presiden Jusuf Kalla ke luar negeri juga mempromosikan Islam Indonesia di kalangan masyarakat internasional. Jokowi nampaknya selalu ingin menepis berbagai anggapan yang mempertentangkan keislaman dan keindonesiaan, padahal keduanya tak pernah bertentangan, bahkan sejauh ini, Islam sebagai agama mayoritas tetap menjunjung tinggi nilai-nilai keindonesiaan yang dimilikinya, karena sesungguhnya mereka adalah “orang Indonesia yang beragama Islam, bukan orang Islam yang tinggal di Indonesia”.

Jokowi tampaknya sedang ingin memperlihatkan bahwa Islam yang selaras dengan Indonesia adalah Islam yang mampu menghargai setiap perbedaan, yang tercermin dari keragaman budaya dan keyakinan. Sejauh ini, dunia pesantren—terutama yang berafiliasi NU—telah melakukan akulturasi dengan beragam adat atau budaya tanpa pernah mempertentangkannya. Oleh karena itu, penyebutan pesantren sebagai “subkultur” dirasa tepat, karena kelahirannya di topang oleh akulturasi adat dan budaya masyarakat Indonesia, tanpa mempertentangkan atau bahkan melawannya. Pesantren adalah cerminan dari “bagian” budaya Indonesia, terutama soal filosofi pendidikan dan pembentukan karakter kemanusiaannya yang khas Indonesia, bukan khas agama.

Keberadaan Jokowi dalam serangkaian kunjungannya ke pesantren, juga sekaligus sebagai kritik dirinya atas upaya sebagian kelompok muslim yang masih terus mempertentangkan dirinya dengan Islam dan dirinya dengan Indonesia. Tuduhan-tuduhan “komunis” bahkan “atheis” tak jarang seringkali dialamatkan kepada dirinya yang membuat seolah-olah, Jokowi adalah “musuh” Islam atau paling tidak “membenci” Islam. Namun, keberadaannya di lingkungan pesantren dan benar-benar diterima sebagai “ulil amri” yang harus ditaati dan dihormati justru menunjukkan bahwa Jokowi tidak seperti yang dicitrakan buruk oleh kalangan muslim lainnya. Saya meyakini, serangkaian kegiatannya mengunjungi pesantren dan membentuk Unit Kerja Presiden tentang pendalaman Pancasila adalah upayanya untuk mewujudkan pesan damai tentang Islam-Indonesia. Isu soal Islam-Indonesia yang seolah-olah saling bertentangan justru ditunjukkan oleh Jokowi sebagai sebuah “sinergi budaya” yang keduanya tak pernah ada persoalan, bahkan sepanjang sejarah kemerdekaan.

Menjadi Indonesia berarti mampu bersinergi dengan setiap kenyataan perbedaan bukan saling berkonfrontasi. Menjadi Indonesia berarti semangat nasionalisme dalam penggunaan bahasa Indonesia yang asli, bukan bahasa asing yang kemudian “diindonesiakan”. Kita ini berbahasa Indonesia, karena kita orang Indonesia bukan keturunan warga asing. Bahasa jelas adalah pemersatu, bukan pemecah-belah, karena dengan bahasa yang sama, bahasa Indonesia, kita akan lebih utuh dan kuat menjadi Indonesia. Inilah barangkali promosi menjadi Indonesia yang selalu digaungkan Jokowi dari setiap rangkaian safarinya berkeliling pesantren di seluruh Indonesia.

Bagi saya, menjadi Islam adalah sekaligus menjadi Indonesia, sebagaimana perkataan KH Musthafa Bisri, bahwa “kita ini orang Indonesia yang beragama Islam, bukan orang Islam yang tinggal di Indonesia”. Sepintas kalimat ini tak ada bedanya, namun jika diperhatikan lebih seksama, memiliki arti implikasi yang berbeda jauh, terlebih ketika kalimat itu justru dibaca secara terbalik. Sebagai orang Indonesia yang beragama Islam, tentu yang lebih didahulukan adalah dimana kita lahir, berinteraksi dan berbudaya dan agama atau keyakinan barulah merupakan “warisan” keluarga. Setiap insan yang lahir di bumi pertiwi, tentunya sudah dikepung oleh beragam adat dan tradisi, bukan oleh keyakinan agama. Cara diperlakukan oleh lingkungan, interaksi dengan masyarakat, dan kenyataan adat yang hidup justru yang membentuk karakter anak bangsa.

Agama dan keyakinan adalah juga warisan dari tradisi turun-temurun yang dibawa dari generasi ke generasi bangsa ini yang sejak dahulu tak pernah ada pertentangan apalagi perlawanan. Islam dan Indonesia, bagi saya merupakan kesatuan yang utuh yang satu sama lainnya tak bisa dipisahkan. Saya seorang Indonesia yang muslim, berarti saya adalah orang Indonesia—dengan berbagai konsekuensi keindonesiaannya—yang kebetulan beragama Islam, karena orang tua dan leluhur saya beragama yang sama. Inilah barangkali pesan yang selalu dibawa Jokowi, selalu ingin menjadi Indonesia tanpa sekat budaya maupun agama. Walaupun, saya kira, promosi Islam Indonesia yang dibawa Jokowi dirasa terlambat, setelah sekian banyak diantara anak bangsa sepertinya “mempertentangkannya”. Inilah pada akhirnya, promosi yang dibawa Jokowi seringkali jatuh hanya dinilai sebagai bagian dari pencitraan dirinya menjelang kontestasi politik di tahun 2019.    




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.