Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Nasional  
Pendidikan
indonesiana-Subagyo
Subagyo 
Senin 19 Juni 2017 06:39 WIB
Dibaca (4066)
Komentar (0)

Gaj Ahmada, Gus Dur dan Cak Nun Soal Majapahit.

indonesiana-gajah_mada.jpg

Hari-hari ini kita membaca banyak gurauan tentang Gajah Mada yang namanya diubah menjadi Gaj Ahmada. Berani-beraninya orang mengubah nama Gajah Mada tanpa selamatan lebih dulu. Lagipula, yang berhak mengubah nama Gajah Mada hanyalah orang tuanya dan Gajah Mada sendiri.

Saya senang juga melihat antusias orang-orang mengorek-ngorek sejarah senikmat mengupil berkali-kali. Tapi kalau mau bicara ilmu, termasuk ilmu sejarah, jangan suka membuli orang. Apalagi jika orang yang dibuli itu hanya orang biasa yang bukan tokoh. Karena orang biasa (bukan ahli atau tokoh), termasuk seperti saya ini, mendapatkan informasi berasal dari ahli atau tokoh. Hanya sekadar periwayat yang mungkin memang kurang terpercaya.

Ayo silahkan buli Gus Dur yang pernah menulis kemungkinan bahwa Raden Wijaya pendiri Majapahit itu adalah muslim. Kata Gus Dur, dalam kumpulan tulisannya yang dibukukan dalam Membaca Sejarah Nusantara: 25 Kolom Sejarah Gus Dur (2010), mungkin nama Desa Tarik tempat didirikannya Majapahit itu berasal dari kata tarekat (thoriqot). Atau silahkan buli Emha Ainun Nadjib yang “sembarangan” (???) bilang di depan jamaah Maiyah bahwa Gajah Mada itu muslim (videonya ada di youtube dan wn.com).  

Saya, Anda, Gus Dur, Cak Nun, dan para ahli sejarah pun tidak bisa memastikan secara absolut tentang fakta ratusan atau ribuan tahun yang lalu. Kehidupan di masa lalu hanya bisa dilihat berdasarkan bukti-bukti masa lalu yang berupa kitab kuno, prasasti, manuskrip atau tutur tinular yang kadang-kadang dibumbui dengan cerita-cerita fiktif dan mitos. Oleh sebab itu, pakailah rumus: “Kesimpulan sejarah itu belumlah final.” Apa yang kita yakini sebagai kebenaran sejarah hari ini, belum tentu benar. Oleh sebab itu, sekiranya ada teori baru, jangan buru-buru divonis sebagai “pengaburan sejarah.”

Kalau ingin ilmu kita maju, dalam filsafat ilmu ada prinsip pengembangan ilmu yang bernama falsifikasi. Ada seorang ilmuwan Islam jaman kekhalifahan Abasyiah yang punya prinsip: “Jika kamu mencari kebenaran, anggaplah buku-bukumu adalah musuhmu!”  Artinya, jangan percayai seratus persen buku atau karya apapun yang kau baca! Jika kamu tak mampu memperoleh sumber kebenaran lainnya yang bisa menaklukkan kebenaran versi isi bukumu itu, mungkin barulah kamu percayai isi bukumu meskipun tetap dengan menjaga pikiran skeptik agar terus berusaha mencari kebenaran yang paling mendekati kebenarannya yang sejati.

Saya ambil salah satu contoh bahwa sejarah pun mengalami keadaan linglung karena sumber-sumber yang isinya tidak sama. Menurut kitab Nagarakertagama, ayah Dyah Wijaya (pendiri Majapahit) adalah Dyah Lembu Tal. Tapi menurut  kitab Pustaka Rajya Rajya I Bhumi Nusantara, ayah Wijaya adalah Rakyan Jayadarma. Rakyan Jayadarma ini anak dari Prabu Darmasiksa, raja Kerajaan Galuh.

Bahkan dalam Babad Tanah Jawi dikatakan bahwa pendiri Majapahit itu adalah Jaka Sesuruh anak dari Prabu Sri Pamekas dari kerajaan Pajajaran. Jaka Sesuruh lari dari peperangan melawan Ciyung Wanara di mana Ciyung Wanara berhasil membunuh raja Pajajaran. Ciyung Wanara ini mempunyai nama lain yakni Arya Banyak Wide. Padahal Arya Banyak Wide itu menurut sumber lainnya adalah Arya Wiraraja, Adipati Songenep (Sumenep).

Arya Wiraraja dalam beberapa sumber lainnya bukanlah Ciyung Wanara. Menurut penulis sejarah Madura, katanya Arya Wiraraja atau Banyak Wide itu adalah kelahiran Desa Karang Nangkan di Sumenep. Tapi  menurut sejarahwan Lumajang, katanya Arya Wiraraja itu kelahiran Dusun Nangkan, Desa Ranu Pakis, Klakah, Lumajang. Keduanya mungkin menafsirkan sumber kitab Pararaton yang menyatakan bahwa Arya Wiraraja itu lahir di Nangka, tapi Pararaton tidak menjelaskan di mana letak Nangka itu. Beda lagi, menurut Babad Manik Angkeran, Arya Wiraraja itu kelahiran Desa Besakih, Karangasem, Bali.

Nanti kalau belajar sejarah Majapahit dari berbagai sumber, misalnya dari Babad Tanah Jawi, kitab Pararaton, Serat Kanda, Nagarakertagama, nama-nama dan urut-urutan raja-raja dan patih Majapahit akan berbeda-beda versi.

Dari berbagai sumber dengan segala perbedaan kisah atau cerita fakta sejarah itu, lalu orang seperti saya yang tidak melihat langsung fakta sejarah ratusan tahun yang lalu itu, lantas saya memilih kisah sejarah yang versi mana?

Kalau dalam ilmu hadits ada penelusuran periwayatan, dengan meneliti secara detil siapa orang-orang yang meriwayatkan hadits itu, ditinjau dari segi akhlak dan ilmunya serta kemampuan hafalannya, sehingga nantinya akan ditentukan apakah hadits itu asli, meragukan atau palsu.

Tapi dalam ilmu sejarah rupanya tidak ada ilmu tracking para perawinya seperti dalam ilmu hadits, sehingga semua sumber sejarah agak sulit ditentukan mana yang lebih valid. Meskipun misalnya sumbernya adalah prasasti, tetapi siapa penulis prasasti itu belum tentu dipastikan obyektivitasnya karena tidak diketahui siapa orangnya.

Oleh sebab itu maka dalam ilmu sejarah ada teori “sejarah ditulis oleh para pemenang.” Para pemenang itu adalah mereka yang berkuasa. Tapi ketika pihak yang berkuasa adalah musuh dari penguasa lama yang berhasil dikalahkannya maka si penguasa baru akan memerintahkan ditulis sejarah sesuai selera penguasa yang baru itu. Artinya, sejarah terkadang ditulis dengan hajat-hajat politik. Bahkan mungkin pula para ilmuwan juga mempunyai hajat primordial dalam menulis sejarah.

Kembali kepada prinsip orang mencari ilmu (kebenaran) sejarah: “Memang siapa saya ini kok bisa memastikan siapa Gajah Mada? Memang siapa saya ini kok bisa memastikan sejarah? Wong saya hanya menerima informasi, katanya katanya katanya….”




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.