Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

indonesiana-Eddi Elison
Eddi Elison 
Kamis 06 Juli 2017 19:32 WIB
Dibaca (2943)
Komentar (0)

Resep Adu Penalti

indonesiana-608893

Menyaksikan di layar kaca adu pinalti dalam Piala Konfederasi di Rusia, di babak semifinal antara Chile vs Portugal yang berakhir 3-0, setelah perpanjangan waktu 120 menit skor masih tetap 0-0, saya terharu melihat langkah Nani “terlentok” meninggalkan lapangan. Digadang-gadang bersama Jerman untuk ketemu di final, karena sejak awal kejuaraan itu, kedua Tim Eropah terseb selalu digjaya mengalahkan lawan-lawannya.

Siapa pun yang menonton pertandingan itu bisa merasakan kesedihan Ronaldo dkk. Yang jelas tersungkurnya Portugal akibat adu pinalti, sungguh merupakan pelampiasan “hukum sepak bola”. Di Kejuaraan Eropa yang lalu di Prancis, Portugal menyisihkan Polandia melalui adu pinalti, akhirnya Ronaldo dkk tampil sebagai Juara Eropa 2015. Polandia sebelumnya menyingkirkan Swiss 6-5, juga via adu pinalti.

Sungguh, kekalahan adu pinalti terasa menyesak dada. Lionel Messi idola Argentina, langsung mundur dari Timnas negaranya, setelah gagal adu pinalti lawan Chile di final Copa Amerika 2016 lalu. Ini kegagalan kedua Tim Tango terhadap Chile. Pada kejuaraan yang sama dua tahun sebelumnya, Chile juga melibas Argentina via adu pinalti di final. Dengan catatan itu agaknya Chile, bisa diberi gelar “Jago Pinalti”, sebuah gelar yang pernah dinobatkan kepada Tim PSMS Medan.

Apa yang terjadi di Rusia dan Perancis, pernah terjadi di Stadion Utama Jakarta 26 Februari 1976, saat Timnas bertarung lawan Korea Utara, menjelang Olympiade Montreal. Tim manapun yang menang, akan mewakili negaranya di Olympiade Montreal. Bisa dibayangkan, betapa pentingnya pertandingan ini. Tak heran, jika Stadion Utama dijubeli massa. Apalagi pelatih Iswadi Idris dkk adalah Wiel Coerver, orang Belanda yang dinilai berhasil mengantar Timnas maju pesat dalam penguasaan pola 4-3-3 atau 4-4-2.

Pola 4-4-2 diterapkan Coerver vs Korut, menghadang Park Jo Hun dkk di lini tengah. Pergumulan luar biasa dan sesekali penyerang Waskito dan Risdianto menyelusup ke daerah pinalti lawan, sementara di garis belakang, Johanes Auri, Oyong Liza, Lukman Setiawan/Suhatman dan Harry Muryanto, merambas siapa pun lawan yang masuk mendekati gawang Ronny Paslah.

Pertarungan berjalan sangat ketat, sehingga skor 0-0 sampai 90 menit berlalu, bahkan ditambah 30 menit perpanjangan waktu. 120 menit usai, akor tetap 0-0. Adu pinalti tak terelakkan. Tiga penendang Timnas Iswadi, Junaedi Abdillah, Waskito berhasil. Penendang An Se Uk = masuk, Park Jo Hun gagal, Ma Jong U = masuk. Sampai penendang ketiga Timnas unggul 3-2. Giliran Yang Song Guk = masuk, stand 3-3, Oyong Liza kena tip, skor 3-3. Pemain kelima Korut Kim Jong Min, tendangannya dapat ditip Ronny, sehingga 3-3 tak berubah, berarti penendang kelima Timnas – Anjas Asmara yang masuk menggantikan Nobon, adalah penentu kemenangan.

Drama pun terjadi, Tendangan Anjas ditangkap kiper. Kemenangan Timnas gugur, apalagi setelah Kim Zung Gon mengubah jadi skor 4-3 dan disamakan Risdianto 4-4, tapi Hong Song Nam menjadikan 5-4 dan “tersungkarlah” Indonesia, setelah tendangan Suaeb Rizal melenceng, mengantar Korut ke Montreal dengan stand 5-4. Sekitar 120 ribu massa Merah Putih, terkulai lemas. Anjas menitikkan air mata bersama semua rekannya. Sampai saat ini setelah jadi pebisnis sukses, Anjas langsung berubah wajahnya, lalu tertunduk , jika diingatkan kegagalannya pada peristiwa 47 tahun lalu.

“Menendang di saat adu pinalti berbeda dengan melaksanakan tendangan pinalti biasa. Bebannya sangat berat, kondisi fisik sudah terkuras selama 120 menit, sehingga detak jantung mungkin belum stabil,” begitu pendapat Wiel Coerver.

Saya menyaksikan berbagai pertandingan yang diakhiri dengan adu pinalti, baik secara langsung di Piala Dunia 1982 di Spanyol, 1986 di Mexico, di beberapa SEA Games maupun Asian Games, atau dalam pertandingan-pertandingan kompetisi di Tanah Air. Hampir semua pelatih mengakui tak punya “resep khusus” untuk bisa memenangkan tim asuhannya dalam adu pinalti. Banyak yang menyebut; “ Ya, tergantung nasib!”.

Terkait “resep khusus” ini saya teringat kejadian pada saat PSMS Medan vs Persib Bandung dalam final Kejuaraan Divisi Utama Perserikatan di Stadion Utama 1983 dan 1985. Dua kali adu pinalti di final antara kedua Tim tersebut, dimenangkan PSMS.

Tahun 1983 PSMS menang 3-2 (0-0), 1985 di depan sekitar 100 ribu penonton, Medan unggul 4-3 (2-2). PSMS memang selalu menang dalam adu pinalti. PON XI mewakili Sumut, Medan juga menjisihkan Irian Jaya (sekarang Papua) 3-2 melalui adu pinalti. Itu sebabnya PSMS dijuluki media sebagai “Jagi Pinalti”. Apa resepnya? Manajer PSMS Amran Ys ketika itu menyatakan: “Pemain biasanya melakukan latihan tendang pinalti, hanya beberapa menit setelah latihan keras, saat mereka sedang kelelahan dan tubuhnya basah berkeringat.”

Namun pemain PSMS bertubuh kecil – Musimin, yang setiap adu pinalti selalu sukses, punya resep tersendiri. Saat final lawan Persib tahun 1983 dan 1985, setiap akan menaruh bola di titik putih, Musimin selalu membungkuk membelakangi gawang/kiper lawan. Bahkan meskipun sudah diletakkan wasit di titik 12 pas itu, pasti diangkat dan diletakkannya kembali dengan gaya khasnya tersebut, baru melakukan tendangan. Hasilnya tak pernah gagal.

Belakangan setelah tidak lagi merumput, Musimin berujar: “Saat membungkuk, aku sengaja kentut (maaf; buang angin)...!”. Mungkinkah magis/sihir Musimin ini pantas disosialisasikan ke semua penjuru dunia?

Siapa tahu! ***

 

Eddi Elison

PENGAMAT SEPAK BOLA NASIONAL

 




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.