Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Nasional  
Politik
indonesiana-Subagyo
Subagyo 
Sabtu 15 Juli 2017 19:00 WIB
Dibaca (2353)
Komentar (0)

Mengapa Pengusaha Panci Tidak Menggugat Presiden Jokowi?

indonesiana-Jokowi.jpg

Tampaknya ramai berita tentang pemblokiran terhadap website Telegram oleh pemerintah dengan alasan bahwa Telegram banyak memuat konten radikalisme, yakni sekitar 17 ribu halaman. Konon pengguna aplikasi Telegram itu sulit dilacak. Saya membaca berita bahwa pemerintah melalui Kemenkoinfo mengancam akan menutup semua medsos yang tidak patuh kepada aturan Indonesia terutama terkait dengan radikalisme dan terorisme.

Kejayaan Majapahit, Mamluk Mesir dan Mongol

Andai saja semua medsos ditutup oleh pemerintah Indonesia, ya nggak apa-apa kan? Malah zaman Majapahit dulu kerajaan Majapahit bisa jaya karena tanpa medsos.  Zaman Sukarno pemerintah bisa menumpas banyak pemberontakan karena para tentara dan para pemberontak tidak menggunakan medsos. Zaman Suharto negara ini bisa swasembada pangan karena tak ada medsos. Tanpa medosos, negara ini bisa lebih produktif. Tahu nggak, Jengis Khan dan Kubilai Khan bisa menjadi imperium besar di dunia, karena mereka melarang rakyatnya menggunakan medsos.

Imperium Mongol itu tak terkalahkan di dunia. Yang bisa mengalahkan pasukan Mongol di dunia hanya ada dua, yakni pasukan Raden Wijaya di Jawa dan pasukan Islam Mamluk Mesir. Mengapa? Karena Raden Wijaya dan Sultan Mamluk Mesir melarang rakyatnya menggunakan facebook, twitter, instagram, telegram, path dan semacamnya.

Sekarang mengapa kita tidak mampu swasembada pangan, bahkan garam pun impor, padahal 2/3 wilayah Indonesia adalah lautan bahan garam? Itu gara-gara medsos. Bayangkan, para petani jadi tidak produktif gara-gara medsos. Mereka mau menanam padi atau jagung malah selfie dulu, lalu diupload di facebook. Sekitar lima menit mencangkul, istirahat hanya untuk cek facebook membalas komentar-komentar. Yang saya khawatirkan juga pasukan tentara Indonesia, andaikan sewaktu-waktu ada serangan dari luar negeri, mau menembak pesawat tempur musuh kok selfie dulu dan upload foto gaya perangnya di facebook dan instagram. Bahaya itu. Bisa kalah cepat kita lawan musuh.

Nah, apa jadinya? Ya bangsa ini tidak produktif. Ada sekian banyak waktu terbuang dalam kinerja aparatur negara / pemerintah, para karyawan perusahaan, para petani dan nelayan, gara-gara medsos. Coba lihat presiden Jokowi, setiap bertemu dengan para pemimpin negara lainnya sering ngajak nge-vlog! Alamak. Daripada begitu kan lebih baik menggunakan waktu untuk membahas hal-hal penting? Kami menggajimu dan memilihmu bukan untuk narsis ngevlog bro! Tapi untuk kerja! Sadarlah kau man!

Jadi, saya setuju jika seluruh medsos diblokir atau ditutup saja. Medsos adalah racun bagi efesiensi dan efektivitas produksi publik. Kita harus belajar dari sejarah bangsa-bangsa besar yang menjadi jaya karena bangsa mereka tidak menggunakan medsos dan melarang penggunaan medsos demi produktivitas dan ketenangan bangsa.

Lha sekarang rakyat kelas tengah negara ini terpecah-pecah berselisih ribut di medsos hanya untuk membela para elite idola mereka. Malah dengan medsos mereka meyakinkan saya bahwa Indonesia akan menjadi Suriah ke-dua. Dasar omong kosong kelas tengah. Medsos dipakai mereka untuk mengumbar gosip horor, padahal itu hanya karena hati mereka yang galau.

Tapi alasanku untuk setuju seluruh medsos ditutup adalah alasan produktivitas loh ya. Negara yang produktivitasnya rendah hanya akan bisa menjadi pasar. Pasar itu kumuh (jika bukan kumuh tempat ya kumuh akhlak), banyak para pencurangnya dan mafia. Yang jualan orang luar, pembelinya rakyat Indonresia. Rakyat Indonesia tidak memproduksi apa-apa kecuali posting-posting gossip dan berantem di medsos yang itu memperkaya orang luar. Payah! Jalan raya dibuat di mana-mana dengan duit utangan berbunga ditanggung negara, rusaknya jalan-jalan itu karena materialnya dikorupsi dan jalan-jalan itu dipakai mengangkut hasil produksi orang-orang asing yang menjual barangnya di sini.

Dunia pun Harus Ditutup!

Kalau pemblokirannya karena alasan bahwa medsos banyak disalahgunakan para teroris dan pemilik medsosnya tidak reaktif, maka saya usul agar para pengusaha pabrik panci, pisau, parang, clurit (arit), kawat, tampar (tambang), mereka menggugat presiden Jokowi agar pabrik mereka ditutup demi keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Mengapa?

Nah. Coba berapa kali ada peristiwa bom panci dan menimbulkan banyak korban, tapi para pengusaha pabrik panci diam saja. Ada apa dengan mereka? Kalau mereka bertanggung jawab, mereka sudah seharusnya menggugat presiden Jokowi agar mereka menutup pabrik panci milik mereka.

Para pengusaha pabrik panci, pisau, parang, dan bahkan pabrik kain harus ikut bersolidaritas dengan para pemilik website atau aplikasi medsos itu. Lha ternyata para teroris itu saat menjalankan terornya memakai baju terbuat dari kain, menggunakan sepeda motor dan mobil. Kain dan baju serta kendaraan telah disalahgunakan oleh para teroris untuk dipakai dalam melakukan teror.

Bahkan agama-agama harus ditutup dan dibubarkan dengan Perppu. Mengapa? Karena agama-agama telah disalahgunakan menjadi dasar bagi para teroris di dunia ini. Bukan hanya agama Islam. Agama Budha, Hindu, Yahudi dan Kristen telah dipakai dasar untuk melakukan teror. Oleh sebab itu kita harus minta presiden Jokowi untuk mengeluarkan Perppu pembubaran agama-agama dan ideologi yang ada di negara ini!

Ya begini ini tulisan rakyat kopler dari negara yang kekurangan nalar sehat. Di mana saat pisau dipakai untuk mencelakai orang maka pembuat dan penjual pisau dituntut bertanggung jawab. Saat hotel-hotel dipergunakan sebagai tempat perselingkuhan di mana-mana, maka hotel-hotel itu harus dirobohkan dan para pemilik hotel dimintai pertanggungjawaban.

Bahkan presiden Jokowi harus membuat Perppu untuk menutup dan membekukan dunia ini sebab dunia ini telah dijadikan tempat umat manusia melakukan maksiat di sepanjang zaman tanpa henti dan pembuat dunia ini tidak menurut peraturan negara ini dengan membiarkan kemaksiatan itu tetap terjadi! 

Saya hanya berharap, ancaman pemblokiran medsos-medsos itu tidak berakhir dengan win win solution setelah bertemu "angka ekonomi" yang cocok. Karena ini adalah rezim revolusi mental, bukan rezim rekolusi kapital.

Sumber foto: Tempo




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.