Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Nasional  
Hukum
indonesiana-Arinta Setia Sari
Arinta Setia Sari 
Minggu 16 Juli 2017 13:51 WIB
Dibaca (1065)
Komentar (0)

Tansgender : Mereka yang Berada dalam Spiral Diskriminasi

indonesiana-ragamgender1.jpg

Bicara bias dan ketidaksetaraan gender memang tiada habisnya untuk dikupas. Isu-isu kekinian mengenai hal tersebut kerapkali menyambangi kita, membombardir isi otak kita melalui geliat suara dan riuh rendah cuitan di media sosial. Perhatikan bagaimana media sosial membingkai lalu lintas informasi dan menyajikannya kepada publik dengan tendensi tertentu yang cenderung bias dan berpihak. Seperti fenomena baru-baru ini yang masih hangat, aksi boikot terhadap kedai kopi yang memiliki belasan ribu gerai di seluruh dunia. Starbucks. Ya, Anda tidak salah dengar. Sebab kedai kopi yang menjadi simbol kaum kelas menengah atas ini mendukung kesetaraan gender para aktivis LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender). Isu ini pun menyeruak. Banyak yang tidak suka dengan fenomena ini. Mereka yang tidak suka angkat bicara. Menyatakan perang di media sosial. Suara netizen pun terpecah menjadi dua kubu. Ada yang pro dan kontra. Ada juga yang memilih diam dan keluar dari arena seraya mengamati isu tersebut dari kejauhan.

Aksi boikot tersebut juga dinilai tebang pilih. Pasalnya ada banyak perusahaan global di luaran sana yang mendukung kebijakan antidiskrimasi gender dan seksualitas. Namun, hantaman telak menggelinding menuju raksasa jaringan kedai kopi asal Seattle Amerika Serikat itu. Tentu saja ada banyak kepentingan menunggangi aksi boikot tersebut. Politik, ekonomi, dan agama misalnya. Suara netizen dan spekulasi saling berkelindan. Menyisakan fragmen-fragmen yang tidak utuh serta pertanyaan-pertanyaan di kepala. Bagaimana perspektif sosial, ekonomi, dan agama memandang fenomena terkait keberagaman gender? Mampukah masyarakat kita menerima apa adanya keberagaman gender dan seksualitas tanpa mendiskriminasi?

Kajian gender sudah semestinya menggema di kampus-kampus tempat pergulatan kaum intelektual dan ruang publik lainnya. Edukasi semacam ini penting agar kita memahami bahwa ternyata jenis kelamin tidak menentukan gender dan orientasi seksual seseorang. Selain itu, menghargai keberagaman gender adalah suatu keniscayaan. 

Jenis kelamin berbeda dengan gender. Jenis kelamin merujuk pada aspek biologis dan fisiologis seseorang. Sedangkan gender lebih mengarah kepada aspek psikologis dan perilaku sosial di masyarakat. Bagaimana seseorang merepresentasikan identitas dirinya sebagai seorang pria atau wanita dalam kehidupan sosial. Seorang yang terlahir sebagai pria, bisa jadi kelak ketika dewasa akan berubah menjadi wanita jika dia menemukan identitas dan eskpresi gendernya tidak sejalan dengan seks biologisnya. Pun berlaku sebaliknya bagi wanita. Banyak faktor yang mempengaruhi perubahan ini. Perubahan ini bisa kita sebut dengan istilah transgender.

Transgender digunakan untuk mendeskripsikan seseorang dengan identitas gender, cara berpikir, dan berperilaku yang tidak sejalan dengan jenis kelamin yang dimiliki sejak lahir. Ada transgender wanita (transwoman) dan transgender pria (transman). Transgender wanita terlahir berjenis kelamin laki-laki, tetapi identitas dan ekspresi gendernya menunjukkan bahwa dirinya adalah seorang wanita. Masyarakat awam menyebut trangender wanita ini  dengan beragam istilah seperti waria, banci, ladyboy, shemale, dan sebagainya. 

Di indonesia sangat sulit menemukan data statistik mengenai berapa jumlah transgender sebenarnya. Akan tetapi, dibandingkan dengan transgender wanita, jumlah transgender pria adalah yang paling sedikit. Berdasarkan data Kementerian kesehatan tahun 2010, jumlah transgender Indonesia mencapai 30.348 jiwa (sumber : suarakita.org). Data tersebut diperoleh berdasarkan survei Program HIV/AIDS Kementerian Kesehatan. Sesungguhnya angka tersebut sangatlah kecil dan tidak mewakili populasi sesungguhnya di Indonesia. Sebab tidak semua transgender menjalani survei tersebut. Itu data 7 tahun yang lalu, sekarang diperkirakan jumlah transgender di Indonesia mencapai angka 2% dari 250 juta jiwa total penduduk Indonesia.

Mendengarkan suara hati dan memutuskan menjadi seorang transgender adalah pilihan yang sulit. Konflik demi konflik menggurat dan terkadang menyisakan keping-keping luka di hati. Sebagian dari mereka memilih diam dan menutup diri karena takut kehilangan banyak hal. Kehilangan keluarga, teman, pekerjaan, dan juga kepercayaan diri. Tidak hanya di dunia nyata, di media sosial pun, mereka yang menjalani kehidupan sebagai transgender kerap menjadi korban perisakan (bullying) yang sangat agresif. Juga kekerasan dan pelecehan baik verbal maupun nonverbal. Entah mengapa spiral diskriminasi itu terus membelenggu.

Kisah nyata berikut barangkali menarik untuk disimak. Bulan Maret 2017 lalu, sebuah kampus di Kota Gudeg mengadakan pagelaran inovasi busana malam, Dimantion. Dimantion merupakan akronim dari “Disoriented of Human Perception,” yang memiliki arti kebingungan akan persepsi manusia dalam menanggapi informasi yang seringkali bersifat manipulatif. Hoax, misalnya. Ya, informasi yang muncul terkadang memanipulasi rasa dan mengubah jalan pikiran manusia dalam waktu sepersekian detik, sehingga tercetus gagasan untuk merepresentasikan kegamangan tersebut dalam pagelaran busana malam. Tema Dimantion dibuat berdasarkan ramalan tren fesyen 2017/2018 yakni greyzone. zona abu-abu diibaratkan sebagai bentuk visualisasi sebuah masa di mana manusia menjadi gamang dan kehilangan kemampuan membedakan hitam dan putih, baik dan buruk serta benar dan salah. 

Sungguh Dimantion merupakan sebuah gagasan yang brilian. Ada 95 inovasi busana malam karya mahasiswa yang lolos dan berhasil melewati beberapa tahap penilaian. Yang menarik, salah satu mahasiswa yang terpilih menampilkan karya dalam pagelaran Dimantion tersebut adalah seorang transgender.

Sandra (bukan nama sebenarnya), demikian sapaan mahasiswa transgender tersebut. Sandra terlahir berjenis kelamin laki-laki. Namun seiring berjalannya waktu, Sandra menemukan panggilan jiwa dan identitas gendernya sebagai perempuan. Pada awalnya Sandra mengalami banyak konflik batin dan tekanan dari lingkungan sosialnya. Waktu pun berlalu. Lambat laun, mahasiswa angkatan 2014 dengan konsentrasi pendidikan teknik busana tersebut berproses hingga akhirnya menerima identitas gender dan dirinya apa adanya.

Sandra merupakan transgender yang beruntung, sebab dia masih berkesempatan menikmati jenjang pendidikan tinggi dan berkreasi sesuai dengan passion yang digelutinya. Di luaran sana ada banyak transgender yang harus berjuang mati-matian, bukan hanya agar diterima di lingkungan sosialnya, tetapi juga bagaimana bertahan hidup demi sesuap nasi. Stereotip yang negatif, pendidikan yang minim, dan keahlian yang tidak memadai menjadikan sebagian transgender bekerja di sektor informal. Kehidupan ekonomi mereka jauh dari kata layak.

Tidak seperti Sandra, Shinta yang memiliki pendidikan minim memilih bekerja sebagai pengamen jalanan. Jika Anda berada di pusat keramaian seperti Malioboro atau Sunmor yang ada tiap hari Minggu di sepanjang Kampus UGM-UNY, Anda barangkali bisa berjumpa dengan Shinta. Dengan busana yang nyentrik dan suara ala kadarnya, Shinta harus berpeluh keringat bersaing dengan riuh rendah suara pedagang asongan, gerombolan pengemis aneka rupa, dan pengamen muda yang memiliki suara aduhai. 

Cerita mengenai Shinta merupakan secuil potret kelam kehidupan transgender. Di ranah ekonomi, para transgender dengan pendidikan minim dan keahlian kurang memadai harus berjuang ekstra keras untuk bertahan hidup. Tidak pula ada jaminan sosial atau asuransi yang melindungi mereka jika sewaktu-waktu mereka mendapat kecelakaan atau membutuhkan biaya berobat dan perawatan di rumah sakit. Mereka yang berada di bawah garis kemiskinan tidak mungkin membayar premi asuransi dan iuran jaminan sosial yang merogoh kocek cukup dalam setiap bulannya. 

Diskriminasi merupa dalam berbagai bentuk. Tidak hanya di ranah ekonomi dan sosial, tetapi juga mampu menyusup ke ranah kehidupan beragama.

Setahun yang lalu, penutupan Pondok Pesantren Al-Fatah di Kotagede Yogyakarta menjadi saksi bisu diskriminasi transgender di ranah kehidupan religius. Kental di ingatan saya bagaimana pro dan kontra mencuat terkait penutupan Pondok Pesantren tempat para transgender wanita menimba ilmu agama tersebut. Bagaimana segelintir orang berupaya menutup dengan paksa tanpa memberi kesempatan untuk bermediasi. Padahal, adalah hak setiap warga negara untuk beribadah menurut agama dan kepercayaan masing-masing. Undang-undang mengatur tentang itu bahkan melindungi umat beragama yang menjalankan peribadatan. Juga ada sanksi tegas bagi siapapun yang berupaya merusak keberagaman dan keberagamaan di Indonesia. Namun, segelintir kelompok fundamentalis menyatakan ketidaksukaan dan penolakan atas berdirinya Ponpes ini.

Didirikan tahun 2008 oleh Maryani, Ponpes Al-Fatah mewadahi mereka yang ingin mendekatkan diri kepada Tuhan. Menjembatani mereka yang mengalami krisis identitas dan kepercayaan diri. Merangkul mereka yang telah menempuh jalan berliku penuh penolakan bahkan dari keluarganya sendiri. Mereka bersatu. Berkumpul di bawah satu atap. Saling menguatkan. Saling mendukung. Berbuat kebaikan. Mereka percaya bahwa Tuhan masih mau mendengarkan pinta dan harap, di saat manusia lain menjaga jarak. Di bawah langit yang sama, dalam sujud mereka bersimpuh. Bersama Al-Fatah, mereka mengaji, sholat berjamaah, membaca kitab suci, belajar Bahasa Arab, tanpa sungkan dan malu.

Beragam kenangan telah tertoreh di Ponpes ini. Para kiai dan ustadz yang diundang berceramah pun datang dengan sukarela. Selain rohaniawan, banyak pegiat LSM, mahasiswa, dan peneliti sosial tertarik mengkaji kehidupan pondok pesantren pertama dan satu-satunya di dunia yang merangkul kaum transgender wanita (transwoman) ini. Sangat menarik.

Transgender bukanlah penyakit atau wabah yang harus ditakuti. Mereka sama seperti kita. Sampai di sini timbul sebuah pertanyaan, adakah yang salah dengan mereka sehingga untuk beribadah pun mereka tidak mendapatkan ruang dan kesempatan?

Dari perspektif sosiokultural, tidak semua lapisan masyarakat menolak keberadaan transgender. Jauh sebelum agama samawi menjejakkan bumi nusantara, beratus tahun lalu masyarakat Bugis di Sulawesi Selatan percaya bahwa para dewata memberikan berkah ke bumi melalui perantara para bissu. Para bissu yang merupakan pendeta atau tokoh sentral agama Bugis kuno tersebut memiliki elemen maskulin dan feminin sekaligus dalam satu tubuh. Sampai saat ini masih ada upacara dan ritual adat yang dipimpin oleh para Bissu. Seperti misalnya Upacara Mappalili yang merupakan upacara penyambutan musim tanam dan upacara Masongka Bala untuk memohon berkah dan keselamatan. Ada juga Tarian Mabissu dan ritual Maggiri yang sangat sakral dan mistis dan hanya Bissu yang boleh membawakannya. Selain Bissu, masyarakat Bugis menerima adanya Cabalai (transwoman) dan Calalai (transman) sebagai bagian dari keberagaman gender dan budaya. Lihatlah, tidak ada diskriminasi gender di Bumi Sawerigading ini.

Percayalah bahwa spiral diskrimininasi ini tak akan berhenti dan masih akan terus ada sampai kita mau memandang jernih, membuka mata, dan menerima diri mereka apa adanya. Tansgender, sebagai gender ketiga merupakan bagian dari warna-warni keberagaman gender dan seksualitas. Berilah kesempatan mereka di ruang publik untuk berekspresi, berkarya, bekerja, beribadah, dan memperoleh pendidikan yang baik. 

Janganlah kita menjadi manusia yang gamang dan mengalami disorientasi persepsi sehingga berada di zona abu-abu. Karena lalu lintas informasi yang memanipulasi pikiran sepersekian detik, membuat kita ragu dan enggan menyatakan sikap. Nyatanya kita bisa memilih sikap tegas untuk mendukung eksistensi mereka dan menolak segala jenis diskriminasi. Bentuk dukungan paling ringan adalah tidak menyebarkan ujaran kebencian terhadap gender ketiga ini di media sosial. Mari rayakan keberagaman gender tanpa mendiskriminasi. Mari mengetuk bukan dengan mengutuk. Mari bergandengan tangan. Karena kita semua masih berada di bumi yang sama. Kita sama di mataNya.

Terakhir, tak apa kan gender ketiga ini menikmati senja di Starbucks sembari bermain facebook?

_________________________________________________________________

Referensi 

1. Hari Transgender Dunia : "Kami Bukanlah Insan yang Harus Ditakuti dan Dianggap Tidak Normal (www.bbc.com)

2. Pesantren waria di Yogyakarta ditutup, LBH protes (www.bbc.com)

3. Gender Ketiga: Sebuah Bentuk Keberagaman (www.aruspelangi.org)

4. Bissu, Pendeta Agama Bugis Kuno yang Kian Terpinggirkan (NatGeo Indonesia)

5. Melacak Jejak Bissu di Tiga Kota Bugis (www.femina.co.id)

6. Gender Ketiga, Seberapa Pentingkah? (www.suarakita.org)




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.