Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Bisnis  
Analisa
indonesiana-tempoid-default
Dian Basuki 
Senin 17 Juli 2017 19:43 WIB
Dibaca (199)
Komentar (0)

Inspirasi Bisnis dari Fiksi Sains

indonesiana-623989

 

Dalam beberapa tahun terakhir, para pengajar manajemen di kampus-kampus terkemuka AS membawa masuk karya-karya fiksi ke dalam kelas mereka. Para mahasiswa diharuskan membaca karya fiksi tertentu dan didorong untuk menemukan ‘sesuatu’—barangkali sejenis pelajaran kearifan—dari karya tersebut. Mereka kemudian diajak menarik garis koneksi antara apa yang mereka serap dari karya fiksi dan praktik manajerial di lingkungan bisnis.

Apa yang ditemukan para mahasiswa itu sungguh menarik. Dari membaca novel, mahasiswa berusaha memahami mengapa dan bagaimana karakter tertentu merupakan sosok yang mudah berempati pada orang lain. Mahasiswa juga belajar tentang bagaimana karakter-karakter yang terlibat konflik berusaha menemukan penyelesaiannya. Fiksi menggambarkan kehidupan manusia dengan watak masing-masing, cara berpikir yang beragam, juga cara bertindak yang berlainan. Situasi serupa dijumpai dalam organisasi perusahaan. Jadi, ada semacam keseiringan antara cerita dalam novel dan kehidupan nyata di dunia bisnis.

Karakter-karakter ini nyaris demikian nyata, sehingga para mahasiswa relatif lebih mudah menangkap emosionalitas karakter dan kisah mereka. Dari karya fiksi ini, mahasiswa memetik pelajaran perihal interaksi antar manusia, sikap empati, mengenal diri sendiri, hingga keluar dari konflik dengan mulus. Apa yang membuat sastra begitu bernilai, kata Joseph Badaracco, guru besar Harvard Business School, ialah karena sastra membantu mahasiwa untuk meresapi karakter-karakter yang membuat keputusan.

Kehidupan batin karakter yang diimajinasikan oleh penulis menjadi sumber inspirasi bagi siapapun yang sering dihadapkan pada momen pengambilan keputusan, termasuk pebisnis. Bagi pebisnis yang berkiprah di wilayah teknologi, karya fiksi-sains dapat menjadi ladang subur untuk mengail ilham. The Diamond Age karya Neal Stephenson, misalnya, diakui oleh tim pengembang ebook reader Kindle sebagai pemantik inspirasi tim.

Pengakuan itu diceritakan Jason Merkoski, yang anggota tim Kindle Amazon, dalam bukunya, Burning the Page: The ebook revolution and the future of reading. Sebutan untuk sandi-sandi ebook reader itu terilhami oleh The Diamond Age. Walaupun Jeff Bezos, pemilik Amazon, lebih menyukai nama-nama sandi yang terilhami Star Trek, tapi timnya lebih memilih novel Stephenson ini sebagai sumber inspirasi. Fiona, salah satunya, adalah karakter utama dalam novel Stephenson yang digambarkan sebagai pemilik buku interaktif. Bahkan, menurut Merkoski, versi pertama Kindle masih disebut Fiona.

Memetik ilham dari fiksi-sains sesungguhnya bukan hanya terkait ‘apa’ yang dipikirkan, tapi juga ‘bagaimana’ dan ‘mengapa’. Lebih dari mengail pengetahuan, langkah ini adalah ihwal menyerap imajinasi, oleh karena fiksi-sains yang bagus (dan jumlahnya sangat banyak) menggambarkan keluasan pengembaran imajinasi pengarangnya. Jules Verne, yang kerap disebut sebagai pelopor fiksi-sains, berkreasi dengan begitu bebas sehingga melahirkan karya seperti Around the World in 80 Days dan From the Earth to the Moon.

Dedengkot Google, Sergey Brin dan Larry Page juga penggemar berat fiksi-sains. Di samping karya fisikawan Richard Feynman, Surely You’re Joking, Mr. Feynman!, yang memacu motivasi mereka, ada karya fiksi-sains yang menginspirasi Brin khususnya, yakni  Snow Crash.

Snow Crash, yang juga karya Stephenson, termasuk dalam daftar favorit Brin. Kisahnya berlangsung dalam waktu dekat, di mana negara AS telah digantikan oleh corporate microstates dan sebuah virus komputer yang digdaya telah membunuh para pemrogram. Dalam jalinan cerita yang menyenangkan, Stephenson ‘meramalkan’ munculnya jejaring sosial online serta apa yang kemudian menjadi Google Earth. “Buku ini benar-benar 10 tahun mendahului masanya,” ujar Brin penuh pujian.

Membaca karya fiksi-sains, bagi para pebisnis teknologi, bagaikan tamasya ke dalam petualangan mengasyikkan ke negeri-negeri yang belum pernah mereka kunjungi. “Karya-karya ini mengantisipasi apa yang akan terjadi, dan bagi saya ini sungguh-sungguh menarik,” kata Brin lagi. Brin membayangkan bagaimana bila kisah fiksi itu dapat diwujudkan, bahkan merekalah yang mewujudkan.

Kekuatan imajinasi, inilah yang ditawarkan oleh karya fiksi sains kepada para pelaku bisnis, khususnya yang menekuni lapangan sains dan teknologi—bidang yang terus berkembang. Para penulis fiksi-sains bukan hanya berkhayal tanpa bekal. Mereka pembaca tekun kemajuan ilmu pengetahuan, dan imajinasilah yang membawa mereka mengembara ke masa depan, melihat berbagai kemungkin yang bisa terjadi. Para pebisnis dapat menyerap kemampuan mereka melihat jauh ke depan. **




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.