Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Gaya  
Keluarga
indonesiana-tempoid-default
Deas Markustianto 
Senin 17 Juli 2017 21:01 WIB
Dibaca (264)
Komentar (0)

Keluarga Sebagai 'Gadget' bagi Anak

indonesiana-624093

Peran keluarga bagi anak di zaman modern ini sangat penting. Keluarga, khususnya orang tua adalah cermin bagi anak untuk berperilaku, berbicara, serta bersosialisasi dengan dunia luar. Disamping itu, seiring berkembangnya kemajuan teknologi peran orang tua dalam mengasuh dan mendidik anak juga terbantu. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya gadget yang meliputi bermacam-macam bentuk yaitu smartphone, laptop, kamera, tablet dan sebagainya. Melalui kecanggihan gadget orang tua menjadi lebih efektif dalam memberikan pembelajaran terhadap anak dalam segala aspek kehidupan.

Tetapi dewasa ini, kebanyakan orang tua realitanya telah keliru menggunakan gadget dalam membantu mereka mendidik anak. Mereka memberikan penguasaan penuh atas gadget kepada anak tanpa adanya batasan dan pengawasan. Secara langsung maupun tidak langsung, orang tua menanggung porsi kesalahan ketika anak mereka terlampau sering menghabiskan waktunya dengan gadget daripada berinteraksi sosial dengan masyarakat.

Walaupun mempunyai dampak positif yang besar khususnya dalam bidang pendidikan dan komunikasi, penggunaan gadget yang berlebihan bagi anak juga menimbulkan beberapa dampak negatif. Dokter anak asal Amerika Serikat, Cris Rowan, dalam tulisannya di Huffington Post, mengatakan perlu ada larangan penggunaan gadget pada usia anak di bawah 12 tahun karena dapat mengakibatkan pertumbuhan otak terlalu cepat, gangguan tidur, obesitas, penyakit mental, agresif serta pikun digital.

Asosiasi dokter anak Amerika dan Kanada menekankan anak usia 0-2 tahun tidak diperbolehkan terpapar gadget. Kemudian anak usia 3-5 tahun dibatasi satu jam per hari dan usia 6-18 tahun yaitu dua jam. Tapi faktanya, anak-anak justru menggunakan gadget 4-5 kali lebih banyak dari jumlah yang direkomendasikan. Lalu kejadian ini diperkuat dengan terus meningkatnya kepemilikan gadget dikalangan anak-anak Sekolah Dasar (SD). Menurut survei yang dilakukan UNICEF dan Kementrian Informasi Indonesia pada tahun 2014 bila dilihat dari komposisi usia, persentase pengguna gadget yang termasuk kategori usia anak-anak dan remaja di Indonesia cukup tinggi, yaitu 79,5 persen dan ini terus meningkat tiap tahunnya.

Tingkat popularitas gadget di kalangan anak-anak tidak terlepas dari karakteristiknya yang memang menarik. Gadget mampu menyajikan dimensi-dimensi gerak, suara, warna, dan lagu sekaligus dalam satu perangkat. Hal ini tentu saja tidak didapatkan anak-anak pada media lain, seperti buku, majalah, dan sebagainya. Selain itu, materi yang disajikan dalam gadget sangat variatif. Anak dapat mengakses informasi beserta hiburan di dalam gadget, yang notabene memiliki akses tak terbatas. Sehingga hal tersebut membuat anak-anak menjadi betah berdiam diri di rumah dan melupakan pentingnya kesehatan dan bersosialisasi dengan dunia luar.

Orang tua juga terkadang terlampau sering berpaling pada ponsel mereka, membaca pesan, sosial media dan menonton video. Sebagian lagi gagal dalam membangun dan memelihara dengan baik aturan-aturan yang mereka buat sendiri bagi anak-anak dalam keluarga, salah satunya penggunaan gadget dan media elektronik. Disamping itu, sesungguhnya anak-anak lebih sering meniru perilaku orang dewasa, terlebih orang tuanya sendiri. Orang tua juga kerap lebih fokus menggunakan gadget-nya daripada berbincang dengan anak mereka.

Kesalahan orang tua lebih fatal lagi, ketika anak telah salah menggunakan gadget mereka sampai jatuh pada masalah cybercrime. Laporan Norton Online Family Report (2010) menyatakan bahwa anak-anak usia 10-17 tahun di beberapa kota di Indonesia menunjukkan bahwa 55 persen anak telah menyaksikan gambar kekerasan dan pornografi, 35 persen anak mengaku dihubungi orang yang tidak dikenal, dan 28 persen anak pernah mengalami penipuan. Tentu saja data ini belum termasuk kasus-kasus penculikan atau perdagangan anak, bullying, dan pornografi pada anak yang muncul akibat penggunaan internet melalui gadget pada anak-anak.

Oleh karena itu, orang tua seharusnya menjadi “gadget” bagi anak mereka. Hal ini dimulai dari usia dini, dimana orang tua harus menjauhkan jangkauan anak dari gadget. Kemudian sampai pada usia yang sewajarnya, orang tua baru dapat memberikan kepercayaan pada mereka untuk menggunakan gadget dalam keadaan dan waktu tertentu, dengan adanya pengawasan dan bimbingan penuh. Jika anak sudah terlanjur dengan gadget-nya, orang tua dapat melakukan pendekatan dengan memberikan hiburan kebersamaan yang sekiranya membuat dia lupa dengan gadgetnya. Orang tua juga harus seperti gadget bagi anakdalam membiasakan diri menjadi jawaban atas semua pertanyaan dan masalah yang dialami anak mereka. Lebih sering berbincang dan menemani anak dalam belajar, berlibur, berolahraga, serta memilihkan permainan dan hiburan yang mendidik tetapi tidak membosankan bagi mereka.

Orang tua harus seperti gadget bagi anakdalam memastikan dan membantu setiap pilihan yang diambil oleh anak mereka dalam bertindak, berperilaku dan bersosialisasi dengan orang lain. Kemudian seperti gadget dalam hal kecermatan yang selalu mengetahui apa yang dibutuhkan anak, bagaimana kondisi anak, serta cepat dalam bertindak menangani anak dan selalu mengetahui keberadaan anak. Selain itu, orang tua juga harus seperti gadget bagi anakdalam kecerdasan mengamankan akses internet bagi anak. Fitur-fitur semacam privacy setting atau filter yang ada di google ataupun youtube dapat digunakan meminimalkan konten yang tidak pantas diakses oleh anak. Jadi orang tua juga sebaiknya perlu melek teknologi supaya tidak menjadikan anak mereka menjadi asuhan gadget.

Oleh : Deas Markustianto




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.