Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Nasional  
Nasional
indonesiana-tempoid-default
Dian Basuki 
Senin 17 Juli 2017 22:06 WIB
Dibaca (302)
Komentar (0)

Teperangkap Kekuasaan

 

Bagi sebagian orang, kekuasaan itu penuh pesona. Magis. Ketika pertama kali duduk di atas kursi singgasana, seseorang akan terkejut merasakan sensasinya. Bayangkan, dalam hitungan menit sejak ia duduk di kursi itu, orang-orang sekitar sudah bertanya: “Bapak/Ibu perlu apa? Jika Bapak/Ibu perlu sesuatu, saya tidak jauh dari sini,” ujar seseorang sembari ngapurancang.

Sensasinya sungguh berbeda antara saat berburu kekuasaan dan ketika sudah duduk di atas kursi. Ketika banyak orang berebut berbicara dan berusaha menarik perhatiannya, ia dapat merasakan getar suasana antara nada penuh harap, cemas, dan barangkali ketakutan yang menyelimuti orang-orang itu. Dan ia, yang belum lama duduk di kursi, menikmati benar perannya sebagai orang yang dinanti-nanti apa yang hendak ia ucapkan. Sejurus berdiam diri, ia lalu memandangi sekitar dan menahan diri untuk terlampau cepat berkomentar.

Seorang kawan lama yang sedang berada di situ enggan beranjak lebih dekat. Kawan ini merasa ada garis batas yang tiba-tiba membentang antara dirinya dengan penguasa baru itu, yang dulu teman sebangku di sebuah SMA. Ada keraguan yang membuatnya enggan melangkah lebih dekat. Ia tidak yakin benar apakah respon yang ia terima akan menyenangkan.

Memegang kekuasaan itu tidak ubahnya mengenakan raja-diraja-cincin seperti dalam dongeng The Lord of the Rings karya J.R.R. Tolkien. Bukan si pemakai cincin yang akhirnya berkuasa, melainkan raja-diraja-cincin itulah yang menguasai pemakainya. Dengan cincin di jari, si pemakai akan merasakan kekuatan luar biasa dalam genggamannya, sehingga ia ingin memenuhi apa saja kehendaknya. Tak boleh ada yang menentang.

Kekuasaan memang cenderung memompa egosentrisitas—memandang diri sebagai lebih penting, bila bukan yang terpenting, dibandingkan hal-hal lain. Kekuasaan yang besar, menurut Dacher Keltner, psikolog sosial di University of California, AS, mencabut kemampuan seseorang untuk berempati dan membuatnya merasa paling benar. Itulah yang ditunjukkan karakter Michael begitu diangkat sebagai Don Corleone dalam cerita The Godfather (Mario Puzo, novel; Francis Ford Coppola, film).

Kekuasaan menjadikan seseorang memandang orang lain sebagai instrumen untuk mencapai tujuannya—inilah yang dilakukan Don Corleone ketika meminta anak buahnya membunuh lawan-lawannya dengan risiko mereka terbunuh. Mengapa ini terjadi? Sukhvinder Obhi, seorang ahli saraf di Ontario, Kanada, menawarkan sudut pandangnya: “Kekuasaan mengubah secara mendasar bagaimana otak bekerja.” Menurut Obhi, fungsi mirror system dalam otaknya—yang membuat seseorang mampu berempati pada orang lain—semakin pudar.

Orang-orang sekitar yang terimbas aura kekuasaan pun berpotensi besar ikut berubah. Pengaruh perubahan itu semakin kuat ketika beresonansi dengan kultur masyarakat yang memandang orang-orang terdekat sebagai bagian dari kekuasaan yang harus diperhitungkan. Orang-orang dekat ini pun mulai menikmati keistimewaan dan merasakan sensasi khas kekuasaan.

Kekuasaan bukan hanya mengubah diri seseorang, tapi juga mengubah pola-pola relasi di antara orang-orang yang semula berinteraksi secara leluasa, bahkan tanpa beban. Dihadapkan pada kekuasaan yang melekat pada diri seseorang, sahabat lama pun terpaksa menata diri saat berinteraksi dengannya. Sahabat ini tahu diri ketika dibisiki seseorang: “Bapak perlu istirahat, tidak bisa menerima tamu terlampau malam.” Artinya, ia harus segera berpamitan. Pudar sudah impiannya untuk minum kopi sambil berbincang gayeng.

Saat berpamitan itulah, sahabat ini merasa asing melihat teman sekolahnya itu. Sahabat ini bertanya-tanya: “Aku tidak tahu, apakah ia memang berkuasa, ataukah ia terperangkap kekuasaan dan terpukau olehnya.” ***




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.