Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Nasional  
Nasional
indonesiana-istiqomatul hayati
Istiqomatul Hayati 
Senin 07 Agustus 2017 21:29 WIB
Dibaca (1986)
Komentar (0)

Hilangnya Kemanusiaan Kita dan Surat untuk Pembakar Zoya

indonesiana-ilustrasi_pembakaran_manusian.jpg

Saya memulai tulisan ini langsung meloncat pada pertanyaan kesimpulan: mengapa keindahan perilaku yang selama ini diagungkan sebagai identitas asli Indonesia makin pudar? Pertanyaan ini berangkat dari berbagai perilaku masyarakat Indonesia yang makin ke sini makin ajaib (kalau merasa ngilu bilang makin mengerikan).  Kasus kemanusiaan terakhir dan paling buruk, Muhammad Alzahra atau Zoya dituduh mencuri amplifier lalu dibakar hidup-hidup.

Hidup Zoya  harus berakhir amat tragis.  Ia dibakar massa yang marah dan kalap lantaran dituduh mencuri amplifier musala Al Hidayah,  Pasar Muara Bakti, Desa Hurip Jaya, Babelan, Kabupaten Bekasi pada Selasa, 1 Agustus 2017 sekitar pukul 16.30.

 Saat itu, Zoya  dalam perjalanan pulang setelah membawa dua amplifier bekas untuk diperbaiki di rumah dan hendak dijual lagi. Ia mampir di musala untuk melaksanakan salat asar. Lantaran takut amplifier bekasnya itu hilang, ia membawanya ke dalam sambil ia sendiri salat. Di saat itulah, ia tiba-tiba dituduh mencuri amplifier musala. Ia sudah berusaha membantah. Tapi massa memilih mengeroyoknya tanpa memberikan dia keadilan.

Lemparan batu dan kayu menderas darah di Zoya. Dalam keadaan kesakitan, ia masih berusaha mengatakan dia bukan maling. Tapi iblis sudah bersemayam di hati ratusan lelaki durjana itu. Tubuhnya yang lemas dan lebam digotong dan digeletakkan di parit. Lalu badannya disiram bensin dan dibakar! Ratusan orang bersorak sorai dan melihatnya tanpa bergidik.  Zoya tewas meninggalkan istri yang tengah hamil tujuh bulan dan seorang balita yang tak paham mengapa ayahnya mati dibakar.

Saya sungguh berharap, tulisan ini sampai di tangan para pelaku. Karenanya, tak perlu tulisan ini dijejali dengan beragam teori kekerasan yang akan membikin rambut di kepala para pelaku makin kusut.

Wahai para pembakar, saya ingin bertanya sederhana: panas api yang melalap badan Zoya, apakah tidak terasa saat amarah membungkus kalian?  Dia manusia, makhluk hidup, yang merasakan kesakitan, bukan sampah yang harus dibakar. Soal benar tidaknya dia mencuri, apakah sepadan dengan kejahatan kalian membakarnya?

Pelaku pembakar Zoya ini jamak. Bukan hanya yang menyiram bensin dan menyulut api lalu dilemparkan ke tubuhnya. Tapi juga para penonton dewasa dan yang paling mengerikan tukang video yang dengan kalem mengambil gambar MA yang merintih kesakitan dan kepanasan tanpa rasa bergidik dan tidak mencegah kebrutalan ini. Bukankah penontonnya juga ada anak-anak? Apakah mereka juga pelaku?

Justru itu. Para penonton dewasa itu tidak saja melakukan kejahatan manusia terhadap MA, tapi juga kepada anak-anak. Mereka membiarkan anak-anak  (mungkin juga disuruh) melihat adegan mengerikan itu dan mengendap menjadi trauma seumur hidup. Jika mereka bisa menggunakan pikiran dan hati mereka, tak mungkin mereka membiarkan anak-anak melihat aksi di depan mata mereka lantaran pembakaran itu terjadi di tengah pasar saat hari masih terang.

Hukum manakah yang kalian pakai?  Saya yakin di antara para pelaku adalah orang yang juga salat di musala itu lantaran melihat dan kemudian menuduh MA mencuri amplifier musala. Hukum Islam? Jelas tidak.  Allah pun sudah berfirman di dalam Q.S Al Maidah ayat 32. “Barang siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu membunuh orang lain atau karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya.”

 Ini artinya, setiap pembunuhan yang dilakukan dengan semena-mena sama saja membunuh semua manusia. Mengapa? Karena korban pasti memiliki keluarga. Zoya, dalam hal ini, punya istri yang tengah hamil tua dan anak balita yang menjadi yatim karena kebiadaban  orang-orang durjana.

Dan Tuhan sudah menyatakan, pembunuhan ini sebagai dosa besar  kedua setelah syirik. Balasannya adalah neraka jahanam (Q.S. An Nisa: 93).

Oke, kalau kalian masih menyangkal, mari kita menggunakan hukum positif yang berlaku di Indonesia.  Sikap main hakim sendiri ini, bisa dalam bentuk pengeroyokan hingga berujung korban tewas,  paling enak dikenakan pasal  351 ayat 1 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP). Bunyinya, “penganiayaan diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.”

Undang-Undang Perlindungan Anak juga bisa dikenakan kepada para pelaku. Pada Pasal 15 butir d dengan jelas menyebutkan, “setiap anak berhak memperoleh perlindungan dari pelibatan dalam peristiwa yang mengandung unsur kekerasan.”  Aksi itu dibiarkan ditonton langsung oleh anak-anak.  

Apakah yang membuat kalian terlecut untuk menampilkan kebengisan dan kebiadaban itu di muka umum. Apakah kemiskinan membuat kesalehan kalian meranggas? Karena miskin lalu berhak mencari pelampiasan dengan mengeroyok dan membakar tubuh yang masih bernyawa. Karena kemiskinan membuat kalian merasa perlu bermain peran sebagai Tuhan? Harga amplifier bekas itu tak sampai Rp 500 ribu harus ditukar dengan jasad hangus?

Sekarang kita bicara soal kemanusiaan. Terpikirkah kalian, wahai para pelaku, kebengisan kalian sudah melenyapkan mimpi anak balita empat tahun bakal bermain dengan bapaknya lebih lama lagi. Kebengisan kalian sudah membuat anak empat tahun dan jabang bayi itu menjadi yatim?  Mereka kehilangan seorang ayah dengan cara amat tragis dan memilukan. Dibakar!

Apakah terlintas meski hanya sebentar, kebiadaban itu membawa perih bukan hanya Zubaidah, bocah empat tahun dan jabang bayi dalam kandungan, tapi juga merobek kemanusiaan kita.  Perilaku itu telah menurunkan derajat kita sebagai makhluk Tuhan paling tinggi. Perilaku barbar kalian telah menurunkan wibawa kita sebagai bangsa yang beradab dan berbudaya. Saya berharap Tuhan masih menyisakan ampunan untuk kalian dan berlutut memohon maaf di depan Zubaidah.

 

 




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.