Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Dunia  
Asia
indonesiana-Irfantoni
Irfantoni Listiyawan
Selasa 08 Agustus 2017 15:01 WIB
Dibaca (2334)
Komentar (0)

Hiroshima 1945: Ketika Paman Sam Membalas Dendam

indonesiana-03._Hiroshima_were_left_standing_.jpg

Perang adalah suatu hal yang sangat dibenci dan sebisa mungkin dihindari, namun terkadang tak jarang pula peperangan tak dapat dielakkan. Ketika diplomasi berakhir, disitulah genderang perang dimulai. Demikianlah adagium terkenal Adolf Hitler pada era Perang Dunia II. Perang Dunia II pula lah yang menyeret bangsa-bangsa di daratan Eropa dan Asia menuju keterpurukan dan kelesuan baik moril dan materiil. Tragedi kemanusiaan demi ambisi, gengsi dan prestise sebuah bangsa kadang harus dibayar mahal, sebuah tragedi. Tragedi itu pula yang menyeret Jepang ke titik nadir ketika sang Enola Gay, pesawat B-29 pengangkut bom atom militer Amerika Serikat menjatuhkan “malaikat maut”-nya di atas Hiroshima 6 Agustus 1945.

Jepang, negara dimana kota Hiroshima berdiri tegak dibawah kekaisaran Hirohito adalah sebuah negara dengan luas menempati kelima besar, apabila negara ini jadi negara bagian Amerika Serikat setelah Alaska, Texas, California, dan Montana (Vogel : 1982). Namun, Jepang bukanlah negara bagian Amerika Serikat. Bahkan Jepang lebih merupakan negara bagian daripada musuh Amerika Serikat sendiri di dekade 1940-an. Pada masa inilah Jepang menunjukkan taji ketamakannya dengan dalih “Perang Suci” demi menegakkan Hakko Ichiu (Menyatukan Bangsa Dunia dibawah Kuasa Nippon). Ketamakan akan kuasa oleh Jepang ini pula yang pada akhirnya membangunkan sang macan tidur, Amerika Serikat kedalam Perang Pasifik melawan tentara kaisar selama 1.351 hari (Ojong : 2009). Jepang mulai mengusik tidur sang macan dengan serangan fajar di Pearl Harbor  tanggal 8 Desember 1941. Kurang dari lima tahun berikutnya Amerika Serikat membalasnya, Hiroshima menjadi buruan.

 

Perang Modern:  Bom Atom dan Pesawat Terbang

Ketika permulaan abad ke-20 berkembang pesawat terbang dan mulai dimanfaatkan untuk perang sejak Perang Dunia I, seorang perwira Italia bernama Guilio Douhet mengemukakan pandangannya tentang Air Power. Douhet berpandangan bahwa pesawat terbang dapat menyerang secara langsung ke pusat pemerintahan musuh, serta titik vital lainnya secara cepat dan efektif (Suryohadiprojo : 2005). Hal ini pula yang disadari oleh kedua belah pihak, baik Jepang maupun Amerika. Jepang menerapkan teori Douhet dalam menyerbu Pearl Harbor, demikian pula Amerika Serikat dalam serangan balasan ke Hiroshima pada 6 Agustus 1945.

Demikian pula dengan bom atom, partikel atom yang ditemukan oleh Albert Einstein tak pernah terbayangkan sebelumnya akan digunakan sebagai salah satu senjata pemusnah massal dalam mengakhiri Perang Pasifik.  Sebelumnya, pada 2 Agustus 1939 Einstein mengirim surat pada Presiden Amerika Serikat kala itu, F.D Roosevelt yang isinya adalah “Amerika Serikat harus menciptakan bom atom sebelum didahului Jerman”. Surat Einstein kemudian diamini oleh Roosevelt, yang ditindaklanjuti dengan penandatanganan dokumen pengembangan nuklir 19 Oktober 1939. Dua hari berikutnya, Amerika Serikat membentuk “Komite Pengembangan Senjata Atom” dengan kode S-11.

Serangan Jepang terhadap Pearl Harbor pada minggu pertama Desember 1941 membuat Amerika Serikat geram dan mempercepat proyek nuklirnya. Proyek mulai dipercepat sejak tahun 1942 dengan nama “Manhattan Project” karena berkantor pusat di kota Manhattan. Tiga tahun berselang, tiga buah bom atom pula berhasil diciptakan oleh Amerika Serikat pada Juli 1945. Kode bom atom itu diberi kode Big Boy, Little Boy, dan Fatty. Inilah salah satu awal dari sebuah petaka dunia akan bom atom.

 

Paman Sam Membalas

Amerika Serikat semakin geram dalam peperangan Pasifik, setelah dikejutkan serangan fajar Jepang di Pearl Harbor pihak Amerika Serikat kembali kehilangan sebagian besar prajurit mereka dalam pertempuran Okinawa dan Iwo Jima. Melihat keadaan ini militer mendesak untuk digunakannya bom atom untuk membalas keberingasan negeri matahari terbit. Pembalasan Amerika Serikat diawali dengan ultimatum pasukan sekutu dalam Deklarasi Potsdam.

Sebagaimana digambarkan P.K. Ojong dalam buku Perang Pasifik karyanya bahwa dalam deklarasi Potsdam tersebut Presiden Amerika Serikat, Tiongkok, dan Perdana Menteri Inggris mencapai kesepakatan bahwa Jepang harus mengakhiri peperangan. Dengan syarat Jepang harus menyerah tanpa syarat. Semua anggota kabinet Jepang menerimanya, kecuali satu orang. Namun, keberadaan satu orang yang menolak ini sangatlah berarti. Dia adalah Menteri Perang Jenderal Korechika Anami. Tuntutan Sekutu ditolak Jepang, menyerah tanpa syarat berlawanan dengan kehormatan bangsa Jepang (Ojong : 2009).  Sikap bebal sang menteri ini membuat bencana bagi Hiroshima nantinya.

Di sisi lain, kesibukan nampak di Kapal Penjelajah AS Indianapolis. Terdapat sebuah kotak kayu besar dibawa ke kapal tanpa seorang pun anak buah kapal yang tahu isinya. Para ABK hanya mengetahui bahwa kotak itu harus selekas mungkin sampai di Pulau Tinian, pangkalan pesawat pembom raksasa B-29.  Kotak itu berisi bagian-bagian dan suku cadang bom atom untuk hiroshima (Ojong : 2009). Presiden Harry S. Truman menyetujui menggunakannya walaupun ada korban di pihak sipil.

Indianapolis pun tiba di Pulau Tinian menyusul beberapa hari kemudian bagian bom atom lainnya tiba dengan menggunakan pesawat terbang. Dalam sebuah memoar militer Amerika Serikat, ada sebuah catatan yang tertulis dari seorang tentara yang terlibat dalam aksi itu. “Kami mengangkut bom itu sore tanggal 5 Agustus ke Hiroshima. Kami harus sangat berhati-hati. Kalau terbakar maka seluruh isi pesawat akan terbakar beserta bom atom didalamnya...”.

Setelah berputar-putar sekian lamanya, onderdil dan bagian dari bom atom Little Boy yang berbahan Uranium 235 sebagai muatan inti mulai dipasang di pesawat pembom B-29 yang masih mengudara. Ketika tepat berada di kota Hiroshima pada pagi hari tanggal 6 Agustus 1945, sang “malaikat maut” pun dijatuhkan (Oktorino : 2016). B-29 Enola Gay segera kembali ke pangkalan Pulau Tainian guna menghindari gelombang panas. “Kira-kira satu setengah menit kemudian terasa gelombang panas dari jauh, dua terjangan, yang kedua dua detik setelah yang pertama. Tanda bomnya sudah meledak...” ungkap salah satu pengebom sebagaimana dikutip Ojong (Ojong :2009).

Beberapa saat kemudian, hanya hitungan detik Hiroshima luluh lantak ditelan puing, terbakar, dan terkena radiasi nuklir. Diperkirakan menewaskan sedikitnya 78.000 orang (Oktorino : 2016). Namun, dibalik itu masih ada ribuan korban hilang serta mengalami penyakit akibat radiasi. Hiroshima pun lenyap ditelan sang “bocah kecil”.

 

Arti Sebuah Serangan

Hiroshima telah jatuh, dan Kaisar Hirohito tak bergeming. Baru dua hari kemudian Nagasaki digempur. Semakin perih hati sang Kaisar melihat kesengsaraan rakyatnya, disaat itu pula sang Kaisar Hirohito bertekuk lutut kepada pihak Sekutu dan Amerika Serikat.  Tak hanya itu, Hiroshima pun membawa trauma berat dan penyesalan seumur hidup bagi para pelakunya. Konon, Einstein menyesali usulannya terhadap Roosevelt akan proyek Manhattan. Lebih buruk lagi, pilot pesawat pemantau cuaca Amerika Serikat Mayor Claude Issely bunuh diri sebagai bentuk protes ketika mendengar Amerika Serikat akan mengembangkan bom nuklir yang lebih besar pada tahun 1950.

Tanpa kemajuan moral, maka kekuatan teknologi secar mudah akan diarahkan untuk tujuan jahat dan manusia lebih buruk keadaannya dairipada sebelumnya. Begitulah tulis Fukuyama dalam bukunya, The End of History. Dan jika Tuhan memang maha pengasih dan penyayang, mengapa ada banyak kesengsaraan?. Pun demikian Soe Hok Gie, aktivis muda itu menyikapi semua kesengsaraan dan perang di muka bumi. Hiroshima adalah secuplik kesengsaraan yang pernah ada dalam sejarah, dan manusia mengalami kemunduran moral akibat perang.

 

Sumber referensi :

  • Sayidiman Suryohadiprojo. 2005. Si Vis Pacem Para Bellum : Membangun Pertahanan Negara yang Modern dan Efektif. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama.
  • P.K Ojong. 2009. Perang Pasifik. Jakarta : Penerbit Buku Kompas
  • Nino Oktorino. 2016. Dibawah Matahari Terbit. Jakarta : Elex Media Komputindo
  • Ezra Vogel. 1982. Jepang Jempol : Pelajaran untuk Amerika Serikat. Jakarta : Sinar Harapan.




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.