Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

indonesiana-Handoko
Handoko  Widagdo
Jumat 11 Agustus 2017 07:18 WIB
Dibaca (342)
Komentar (0)

Buku-Buku Harian Vatikan

indonesiana-Buku-buku_Harian_Vatikan.jpg

Judul: Buku-Buku Harian Vatikan

Judul Asli: The Vatican Diaries

Penulis: John Thavis

Penerjemah: Eta Sitepoe

Tahun Terbit: 2014

Penerbit: PT Elex Media Komputindo

Tebal: 466

ISBN: 978-602-02-4021-3

Mungkin kita berpikir bahwa sebuah institusi keagamaan yang besar dan sakral seperti Vatikan berjalan mulus dan terbebas dari segala kekisruhan. Jika kita berpikir demikian, maka kita salah. Sebab institusi apapun di bawah matahari tetap akan mengalami kerumitan dan permasalahan. Sebab organisasi tersebut masih melibatkan manusia-manusia yang tak lepas dari segala kesalahan dan ambisi pribadinya. Buku karya John Thavis menggambarkan segala kesemrawutan dan berbagai intrik di lingkungan Vatikan. Kisah-kisah kesemrawutan, kebocoran informasi rahasia, ketidak-taatan staf dan kelambanan birokrasi serta berbagai intrik di era Paus Yohanes Paulus II dan di era Paus Benediktus XVI ditulis dengan sangat menarik oleh mantan wartawan Catholic News Service yang bertugas di Roma selama 34 tahun.

Semua kisah yang ditulis dalam buku ini adalah berdasarkan kisah-kisah yang pernah bersinggungan langsung dengan Thavis. Ia tidak menulis skandal atau kasus yang dia tidak memiliki informasi yang sangat baik. Misalnya Thavis tidak membahas secara mendalam tentang kasus pastor paedofilia di Boston, ia tidak membahas kasus penyelewengan di Bank Vatikan, dimana dia tidak secara langsung melakukan investigasi terhadap masalah yang sangat memalukan gereja tersebut.

Dalam berbagai topik yang dibahas, Thavis membandingkan kebijakan Paus Yohanes Paulus II yang lebih pro pembaruan dengan Paus Benediktus XVI yang lebih konservatif dan lebih berhati-hati.

Kisah dibuka dengan kekacauan proses sidang konklaf pemilihan Paus baru sepeninggal Paus Yohanes Paulus II. Pemilihan Paus baru adalah sebuah prosesi yang sangat penting dan sakral. Pemilihan dilakukan secara tertutup oleh para kardinal. Jika Paus baru telah terpilih maka cerobong asap di Kapel Sistina akan mengeluarkan asap putih. Jika Paus belum terpilih maka asap hitam hasil pembakaran kertas-kertas pilihan yang keluar. Sidang konklaf pun akan diulang. Bukan hanya tanda asap putih, terpilihnya Paus baru juga ditandai dengan dibunyikannya lonceng campanone. Setelah sidang keempat, yaitu saat Kardinal Ratzinger terpilih menjadi Paus baru, asap yang keluar dari cerobong bukanlah asap putih atau hitam melainkan berwarna abu-abu! Sementara tanda kedua, yaitu bunyi lonceng campanone tak kunjung terdengar. Apakah Paus baru sudah terpilih? Ataukah masih akan diadakan sidang konklaf berikutnya? Kekacauan ini disebabkan karena perencanaan sidang konklaf yang kurang rapi. Asap kelabu keluar karena para kardinal yang bersidang belum berlatih menggunakan peralatan dan bahan kimia untuk menghasilkan asap putih. Sementara lonceng campanone tidak berbunyi meski Fiorucci, petugas yang seharusnya membunyikan lonceng sudah berada di tempat. Fiorucci tidak berani membunyikan lonceng karena yang menelepon bahwa Paus sudang terpilih bukanlah Uskup Agung Marini yang seharusnya memerintah dia. Yang menelepon bahwa Paus baru sudah terpilih adalah salah seorang anggota Garda Swiss yang menjaga Kapel Sistina! Ternyata banyak birokrat dan staf Vatikan yang tidak menjalankan fungsinya, bahkan untuk hal yang sangat penting dan sakral seperti pemilihan Paus baru.

Thavis menceritakan suka duka perjalanannya sebagai wartawan yang sering berada satu pesawat dalam lawatan Paus ke manca negara. Kita menyangka bahwa para wartawan kepausan ini mendapatkan kesempatan istimewa karena bisa mewawancarai Paus secara langsung. Namun kenyataannya mereka sering dikecewakan oleh protokol yang membuat mereka justru tidak bisa mendekati Paus. Thavis menceritakan beda orientasi perjalanan ke luar negeri antara Paus Yohanes Paulus II dan Paus Benediktus XVI. Jika Paus Yohanes Paulus II lebih suka ke negara-negara kecil dan miskin, suka dengan pertunjukan budaya lokal, Paus Benediktus XVI sebaliknya lebih menyukai berkunjung ke negara yang mayoritas penduduknya Katholik dan dalam upacara yang formal. Para wartawan juga sering mengeluh karena pernyataan Paus sering diedit oleh anak buahnya supaya lebih sesuai dengan keinginan dari negara yang dikunjunginya.

Kisah yang juga diceritakan oleh Thavis adalah skandal Pastor Marcial Macial Degollado pendiri sekaligus pemimpin tarekat religius Legion of Christ. Tarekat Legion adalah tarekat baru yang progresif dan memiliki dukungan pendanaan yang luar biasa. Pastor Macial dilaporkan kepada Vatikan pada tahun 1976 karena melakukan pelecehan kepada seminaris yang berada di bawah bimbingannya. Namun kasusnya tak pernah mendapatkan respon yang memadai dari Tahta Suci. Alih-alih kasusnya diproses, Pastor Macial malah mendapatkan promosi sebagai Uskup pada tahun 1998. Namun di era Paus Benediktus XVI, kasus Macial diproses sedemikian rupa, sehingga semua skandalnya terungkap. Kasus pelecehan seksual dan perselingkuhannya sampai memiliki anak terungkap. Penyelewengan keuangan terungkap. Pengungkapan yang cukup tuntas ini terjadi setelah Pastor Macial meninggal dunia. Kasus Macial ini sempat menjadi ganjalan pengangkatan Paus Yohanes Paulus II sebagai seorang santo (beatifikasi).

Kasus beatifikasi lain yang dibahas oleh Thavis adalah beatifikasi Paus Pius XII. Paus yang telah banyak menyelamatkan nyawa orang Yahudi ini dikecam karena dianggap diam saja terhadap pembantaian Yahudi oleh Nazi. Dalam hal beatifikasi Paus Pius XII terjadilah lobi-lobi antar kelompok yang demikian hebat, sehingga proses beatifikasi menjadi sangat lambat. Thavis membandingkan proses beatifikasi Paus Pius XII yang sangat berjasa ini dengan beatifikasi seorang anak kecil yang meninggal yang ternyata bisa memberi kesembuhan banyak orang di sebuah desa.

Thavis juga membahas kasus para pastor homoseksual yang ada di Roma.

Sebagai sebuah kota yang kecil dan banyak dikunjungi oleh para turis, kebutuhan akan lahan parker menjadi sangat mendesak bagi Vatikan. Upaya untuk membangun lahan parkir di bawah tanah adalah salah satu opsinya. Namun saat proyek tersebut dijalankan, secara tidak sengaja para pekerja proyek menemukan makam kuno. Alih-alih menghentikan proyek lahan parkir, para pengembang yang didukung oleh gubernur Vatikan malah berupaya mengecilkan arti peninggalan arkeologi yang sangat penting ini. Thavis melakukan investigasi dan menggambarkan dengan sangat baik bagaimana arkeolog museum Roma melakukan advokasi sehingga akhirnya makam kuno yang ditemukan tersebut bisa dipertahankan dan tidak jadi dijadikan lahan parkir. Dengan meyakinkan bahwa makam tersebut adalah makam orang Kristen dari abad pertama, maka atas campur tangan Vatikan, lahan tersebut tidak jadi digusur untuk tempat parkir.

Tidak semua komunitas Katholik  setuju dengan Konsili Vatikan II. Contohnya kaum Lefebvirs. Kelompok Lefebvirs menolak pembaharuan liturgi dan sikap gereja yang lebih terbuka kepada agama lain dan budaya di luar budaya kristiani yang diamanatkan oleh Konsili Vatikan II. Mereka mempertahankan liturgi lama, yaitu misa tridentina dan meminta Vatikan untuk mengembalikan liturgy lama ke misa tridentina. Kelompok Lefebvirs dangat menentang Paus Yohanes Paulus II yang pro keterbukaan. Namun saat Kardinal Ratzinger menjadi Paus, secara diam-diam kelompok ini membuka kembali dialog dengan Vatikan. Sikap Paus Benedictus yang memegang Konsili Vatikan II tetapi ingin pelaksanaan yang lebih konservatif membuat kelompok ini mau kembali berdialog. Thavis menunjukkan bahwa pejabat di Vatikan yang ditunjuk Paus untuk mengurusi hal ini justru lebih peduli kepada reputasi pribadi daripada benar-benar mencoba menyelesaikan persoalan perbedaan pandangan ini.

Ketidak seriusan para petugas Vatikan diungkapkan oleh Thavis. Petugas yang secara sembunyi-sembunyi merokok di belakang perpustakaan, petugas yang makan saat bertugas dan pastor yang seenaknya membawa tamu ke dekat kediaman Paus, meski hal itu dilarang. Kekacauan birokrasi Vatikan digambarkan secara panjang lebar melalui kisah Pastor Reginal Foster, seorang ahli Bahasa Latin. Pastor Foster adalah pastor yang ceplas-ceplos, tidak taat aturan tetapi keahliannya sangat di Vatikan. Thavis juga menggambarkan ketidak telitian birokrat Vatikan dalam mengatur penampilan Paus dan acara-acara jamuan tamu negara. Mulai dari lengan jubah Paus yang terlalu pendek, kaus kaki yang tidak tertata rapi sampai dengan penyebutan tamu negara secara keliru. Semua ketidak akuratan ini menunjukkan bahwa birokrat Vatikan tidak secara serius menyiapkan acara-acara yang digelar di Vatikan. Bahkan acara yang sangat penting, seperti pertemuan antara Pasu Benediktus dengan Presiden Bush.

Secara khusus Thavis membahas tentang pandangan Vatikan terhadap penggunaan kondom untuk pencegahan HIV dan masalah kaum homoseksual yang masuk menjadi pastor. Bagaimana pandangan Vatikan tentang dua hal ini? Pertimbangan apa saja yang dipakai oleh Vatikan dalam menanggapi dua isu ini? Bagaimana Vatikan mengomunikasikan pandangannya yang berbeda cukup ekstrim dengan pandangan umum? Silakan Anda membaca buku yang sangat menarik ini untuk mengetahuinya. Di bab terakhir buku, kita disuguhi pandangan Thavis tentang sosok Paus Benediktus XVI yang sesungguhnya.

Meski Thavis menunjukkan berbagai kekacauan di Vatikan, namun Thavis tidak berpendapat bahwa Vatikan telah berjalan kea rah yang salah. Ia mengatakan bahwa Vatikan masih berada di jalur yang benar. Yang terjadi, menurut Thavis, adalah bahwa tindakan-tindakan yang tidak terkoordinir dari sebuah niat baik.




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.