Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

indonesiana-tempoid-default
Dian Basuki 
Jumat 11 Agustus 2017 09:28 WIB
Dibaca (643)
Komentar (0)

Twitter dan Gas Air Mata

indonesiana-twitter-and-tear-gas-social-wide2.jpg

 
Judul Buku: Twitter and Tear Gas: The Power and Fragility of Networked Protest
Penulis: Zeynep Tufekci
Penerbit: Yale University Press
Edisi: 1, Mei 2017
Tebal: 360 halaman

 

Perhatian Ahmed, 22 tahun, tertuju pada #Tahrirneeds. Silih berganti, pesan permintaan bantuan bernada putus asa terkirim dari Alun-alun Tahrir, Kairo, yang dipadati jutaan warga. Dalam protes menentang Presiden Hosni Mubarak, Februari 2011, sejumlah orang menemui ajal dan ratusan terluka. Ahmed melihat kekacauan di sana: pesan-pesan lama bercampur pesan mendesak. Tak ada cara untuk memastikan bantuan mana yang sudah terpenuhi.

Ahmed tidak berada di Kairo, tapi di sebuah negara Teluk. Sejenak mengamati layar gawainya, ia meluncurkan akun baru: @TahrirSupplies. “Test,” Ahmed mengirim tweet pertama. Belum ada follower, tak seorangpun merespon. Lewat akun pribadinya, Ahmed memposting permintaan bantuan atas nama ‘proyek kemanusiaan’. Tiga gadis berusia awal 20, dua di Kairo dan yang ketiga di London, menjawab seruan itu. Mereka segera terkoneksi dan mulai mengorganisasi tugas-tugas krusial.

Mereka bukan aktivis menonjol dan tidak berpengalaman mengelola logistik. Mereka belum pernah kerja bersama, bahkan belum pernah bertemu hingga peristiwa Alun-alun Tahrir berakhir. Pesan berikut yang diposting dari @TahrirSupplies berbunyi: “We have created this account to deliver the needs of the #Tahrirfieldhospital to the world.” Follower mulai bermunculan.

Apa yang tidak biasa bukanlah klaim ambisius untuk menarik perhatian dunia, melainkan bahwa Ahmed dan kawan-kawan memulai misi bantuan dengan memanfaatkan teknologi, nyaris instan. Teknologi digital berjejaring memang mengubah lanskap ruang-waktu dan mengonfigurasi-ulang konektivitas masyarakat, dan kita merasakannya. Perubahan dahsyat ini memompakan hasrat Zeynep Tufekci, associate professor di University of North Carolina, untuk mengeksplorasi interaksi teknologi, kekuasaan dan politik, serta gerakan sosial. Hasilnya: Twitter and Tear Gas.

Sejak bekerja sebagai pemrogram di IBM di masa mudanya, Tufekci telah menaruh minat terhadap isu ini. Terlebih lagi ketika kudeta militer berlangsung di Turki, 1980. Ia menyaksikan betapa efektif sensor pemerintah—seluruh komunikasi massa dalam satu kendali. Keikutsertaan Tufekci dalam pertemuan Encuentro, 1997, yang diadakan Zapatista, menguatkan minatnya.

Sejak itu, ia bersemangat turun ke jalan, bukan sekedar sebagai akademisi-pengamat, tapi sekaligus demonstran. Pengalaman-partisipatifnya dalam pawai antiglobalisasi di Seattle (1999), anti Perang Irak di masa George W. Bush (2003), penggulingan Hosni Mubarak di Lapangan Tahrir (2011), gerakan Occupy Wall Street (2011), maupun protes di Taman Gezi, Istanbul (2013), membawa kita ke dalam suasana aksi: solidaritas warga melintasi keberagaman latar belakang.

Seperti ditunjukkan Tufekci, pemanfaatan teknologi berjejaring—dengan fokus Twitter dan Facebook—memungkinkan mobilisasi massa yang jauh lebih cepat dibandingkan di masa lalu. Tentang hal ini, dalam Here Comes Everybody (2008), Clay Shirky menyebutkan: tidak perlu 6 bulan untuk menggelar pawai besar, sebab tanda tagar # sangat ampuh untuk mengerahkan pemrotes ke jalan-jalan; kompleksitas logistik juga beralih ke crowdfunding.

Dalam penilaian Tufekci, inilah kekuatan sekaligus kerapuhan. Di masa lalu, gerakan hak-hak sipil di AS dipersiapkan dalam waktu lama. Orang-orang belajar bekerja sama, membangun sikap saling percaya, dan mengembangkan kapasitas untuk membuat keputusan kolektif. Protes-protes di Taman Gezi maupun Tahrir tidak melewati proses semacam itu, padahal diperlukan untuk membangkitkan ‘internalitas jejaring aksi’.

Kelemahan ini berjalin dengan kultur partisipatoris dan horisontal dalam gerakan sosial modern yang menekankan ekspresi individual dan mengelak dari organisasi formal. Protes Taman Gezi merupakan gerakan ‘leaderless by design’. Peserta aksi memilih tanpa kepemimpinan terdefinisi untuk melindungi gerakan dari kooptasi dan dekapitasi (‘pemenggalan kepala’).

Situasi itu menimbulkan kesulitan. Ketika pemerintah Turki siap berunding, peserta aksi protes tidak punya mekanisme menyusun tuntutan, membuat keputusan kolektif, dan berunding. Mereka terjebak ‘kebekuan taktis’. Setelah melewati fase awal yang ekspansif, Tufekci menunjukkan bahwa aksi tidak siap mengubah taktik untuk tahap-tahap berikutnya.

Saya kira menarik dan penting bahwa Tufekci memanfaatkan pendekatan Amartya Sen tentang kapasitas (Development as Freedom, 1999). Dengan memilahnya ke dalam kapasitas naratif, disruptif, serta elektoral dan/atau institusional, Tufekci dapat secara efektif mengevaluasi kemampuan gerakan dalam mencapai perubahan sosial yang diinginkan. Keberhasilan atau kegagalan gerakan tidak memadai bila diukur dari jumlah peserta aksi.

Tufekci mencontohkan pawai antiperang di New York, 2003. Pawai ini bagian dari gelombang global yang menggetarkan hampir 600 kota seluruh dunia. “Saya berpikir pemimpin dunia tidak dapat mengabaikan protes global yang lantang dan masif itu,” kata Tufekci. “Ternyata saya salah.” Merespon protes, Presiden AS George W. Bush menyatakan ‘saya tidak akan memutuskan kebijakan berdasarkan focus group’. Barangkali karena menangkap sinyal kapasitas yang lemah, Bush mengerdilkan aksi global itu. Sebulan kemudian, Bush menyerbu Irak.

Sebagaimana aktivis, otoritas pun cepat belajar. Pemerintah menyerang balik dengan memobilisasi pendukung dan orang-orang bayaran untuk membanjiri dunia maya dengan informasi yang meragukan dan membingungkan. Warga sulit menavigasi ruang publik maupun memilah fakta dari fiksi dan kebenaran dari kebohongan. Strategi ini bahkan dianggap lebih bagus ketimbang memblokir internet yang justru menarik atensi lebih besar.

Kekhawatiran saya bahwa Tufekci akan terjebak teknodeterminisme dengan menarik kesimpulan simplistik bahwa kehadiran Twitter dan Facebook mendorong revolusi memperoleh jawaban memuaskan. Tufekci menyadari, teknologi memang memengaruhi hasil tindakan manusia, tapi dengan cara yang kompleks mengingat teknologi bukanlah satu-satunya aktor.

Pengalamannya sebagai pemrogram membuat Tufekci tidak melupakan pengaruh korporat dan platform kreasi mereka. Para aktivis dan akademisi, menurut Tufekci, gundah apakah dalam situasi genting platform seperti Twitter dan Facebook lebih melayani kepentingan pemasang iklan dan pemerintah. “Gerakan sosial hari ini sangat bergantung pada sejumlah sangat kecil platform korporat dan mesin telusur,” tulis  Tufekci, yang berarti gerakan sosial “dapat dibungkam oleh persyaratan keluhan ataupun oleh algoritma.”

Dalam hemat saya, Tufekci berhasil menyatukan dalam dirinya pemahaman tentang cara kerja teknologi, pengalaman peserta aksi, maupun kompetensi seorang sosiolog. Perpaduan ini menjadikan narasi Twitter and Tear Gas terasa bersemangat dan penuh warna, dan dalam beberapa hal demikian personal. Ia membuka diri agar narasinya lebih mudah dibaca publik yang lebih luas tanpa menurunkan standar akademisnya yang patut dipuji berkat riset, partisipasi, wawancara, maupun observasi bertahun-tahun.

Di tengah semangat tinggi dalam riset tentang interaksi teknologi, masyarakat, dan politik di berbagai kampus dan pusat riset, Twitter and Tear Gas menawarkan kajian empiris yang berwarna dengan kerangka konseptual yang kukuh untuk memahami trayektori gerakan sosial di masa depan. Tufekci menyediakan pula nutrisi perenungan yang mencerahkan bagi para aktivis di manapun. Sayangnya, korporasi dan otoritas kekuasaan juga membuka halaman demi halaman buku ini untuk memetik inspirasi. **




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.