Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Nasional  
Lingkungan
indonesiana-tempoid-default
Yose Ardhani Farasi 
Jumat 25 Agustus 2017 18:40 WIB
Dibaca (5158)
Komentar (0)

Potensi Hutan Indonesia dalam Cap-and-Trade Carbon Trading

indonesiana-578004

Indonesia menjadi negara ke-enam terbesar penghasil emisi gas rumah kaca dari aktivitas deforestasi. Namun Indonesia juga telah berkomitmen untuk menekan laju perubahan iklim melalui Rencana Aksi Nasional dan Rencana Aksi Daerah Gas Rumah Kaca (RAN/RAD GRK) dengan mengurangi emisi hingga 26% dari kegiatan deforestasi dan penggunaan lahan di tahun 2020.

Kawasan hutan di indonesia mencapai luas 134 juta ha atau sekitar 60 persen dari total indonesia (departemen Kehutanan, 2009). Hutan juga berperan penting dalam perubahan iklim. Indonesia menjadi negara ke-enam terbesar penghasil emisi gas rumah kaca dari aktivitas deforestasi. Namun Indonesia juga telah berkomitmen untuk menekan laju perubahan iklim melalui Rencana Aksi Nasional dan Rencana Aksi Daerah Gas Rumah Kaca (RAN/RAD GRK) dengan mengurangi emisi hingga 26% dari kegiatan deforestasi dan penggunaan lahan di tahun 2020.

 

Potensi Carbon Trading di Indonesia

Dengan keberadaan hutan tropis yang cukup luas di indonesia, seharusnya negara ini mampu untuk mengorek potensi dari carbon trading. Selain bisa menambah devisa negara dari sektor pelestarian lingkungan, carbon trading ini juga secara tidak langsung telah turut berperan dalam menjaga keanekaragaman hayati serta kelestarian hutan tropis di indonesia.

Potensi pendapatan yang akan diperoleh Indonesia dapat digambarkan sebagai berikut. Harga karbon per ton di pasar dunia biasa ditentukan berdasarkan kesepakatan. Biasanya berkisar antara 5-40 dollar AS per ton. Harga itu akan terus berfluktuasi dan meningkat seiring dengan perubahan iklim yang semakin ganas. Kemampuan hutan untuk menyerap karbon per hektarnya berbeda-beda. Jika hutan itu masih alami, penyerapannya akan lebih baik dibanding hutan buatan. Jika diambil rata-rata penyerapan karbon sekitar 150 ton karbon per hektar. Maka, jika diasumsikan harga karbon 5 dollar AS per ton, 1 ha hutan bisa menghasilkan kurang lebih 750 dollar AS. Jika ada 1 juta ha hutan , maka penghasilan total yang akan didapat Indonesia berkisar kurang lebih 750 juta dollar AS, dari sektor lingkungan hidup. Indonesia sendiri mempunyai hutan dengan luas berjuta-juta hektar. Belum lagi ditambah hutan rawa gambut yang kemampuan penyerapan karbonnya mencapai 4000 ton karbon per hektar, sehingga bisa menghasilkan kira-kira 20.000 dollar AS per hektarnya. Maka, bisa dibayangkan berapa besar pendapatan yang akan didapat pemerintah Indonesia jika sukses meletarikan hutannya.

 

Mekanisme Cap-and-Trade

Perdagangan karbon didasari oleh mandatory dan voluntary. Skema mandotary sering disebut dengan cap and trade. Setiap negara atu perusahaan berusaha untuk mengurangi emisi gas rumah kaca mereka. Sedangkan voluntary, suatu negara, perusahaan atau pribadi mereka ingin menurunkan emisi namun tidak perlu syarat syarat resmi dan mengikat secara hukum.

Cap-and- trade didefinisikan sebagai suatu pendekatan kebijakan untuk mengontrol jumlah emisi dari sejumlah sumber. Cap yakni jumlah emisi maksimum per periode untuk semua sumber yang telah disepakati. Capa dipilih agar mendapatkan dampak lingkungan yang diinginkan. Suatu Negara membayar atas emisi yang ditimbulkan dan kemudian akan mempengaruhi emisi yang dihasilkan dari berbagai sumber dan total sumbangan emisi dari berbagai sumber tersebut tidak melebihi perjanjian yang sudah ditandatangani. Pembayaran emisi dari semua sumber emisi yang disepakati dilakukan diakhir periode. Negara penyedia karbon, menentukan sendiri strategi untuk menyediakan jasa karbon. Strategi yang disusun tidak harus disepakati oleh pembeli jasa karbon, namun yang terpenting mampu menyediakan jasa serapan karbon sebagaimana perjanjian.

Agar program cap and trade bisa efektif, terdapat 3 fitur utama yakni 1)cap on emission (menentukan besarnya emisi yang akan diturunkan), 2) akuntability dan 3) rancangan yang simple tapi jalan/operasional.

Dari 3 program utama di atas, cap mengarahkan untuk terciptanya suatu kondisi lingkungan yang sehat dan menjamin kehidupan di masa datang yang baik. Akuntabilita, menghitung secara tepat dan melaporkan emisi yang dapat diserap, teliti dan pelaksanaan yang konsisten dari pinalti akan ketidakakuratan data/informasi yang akan berakibat pada tidak dibayarkannya upaya penciptaan additionality yang ada. 3) Aturan yang dibuat harus jelas dan mudah dilaksanakan. Pasar akan berfungsi lebih baik dan biaya yang lebih rendah ketika aturan yang dibuat jelas dan mudah dipahami oleh semua partisipan. Pelaksanaan program baik itu sumber emisi dan pengaturan kewenangan harus pasti, lebih efektif dan mengurangi biaya serta konsumsi waktu yang efisien, bila aturan yang dibuat tidak mempersulit dan berat untuk dilaksanakan.

 

Bukan hanya dari segi ekonomi. Dengan carbon trading ini, kita dituntut untuk menjaga kelestarian hutan. Apalagi dengan laju deforestasi hutan di Indonesia yang mencapai 6 kali lapangan sepak bola setiap menitnya, seharusnya carbon trading ini menjadi pondasi untuk menghentikan laju deforestasi hutan di Indoensia. Dengan begitu, secara tidak langsung kita juga telah mengembalikan fungsi hutan pada tempatnya yaitu sebagai habitat flora dan fauna, menjaga siklus air, serta mencegah bencana ekologis. Jadi, bukan hanya dari sisi ekonomi saja yang diuntungkan, tetapi hampir di segala sektor terutama lingkungan hidup.

 

                                                                                            animasi tentang cap and trade (sumber:youtube.com)




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.