Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Metro  
Kriminal
indonesiana-tempoid-default
Jumarni 
Teknik Informatika Universitas Mulawarman Aktivis KAMMI Samarinda Sebatik - Kalimantan utara
Selasa 05 September 2017 22:10 WIB
Dibaca (444)
Komentar (0)

Teror dan Tahun Ajaran Baru

indonesiana-TERORISME1.jpg

Marak fenomena terorisme ditengah realitas sosial dan sangat di-blow up oleh media. Bom terjadi di sana sini, kejahatan teror yang sangat luar biasa menjadi musuh di kalangan masyarakat bahkan dunia. Miris akibat dari kejahatan terorisme tersebut tidak memandang keluarga, lawan, dan sebab akibat yang akan timbul, apapun motifnya terus mengganggu media dengan tindakan negatif yang berdampak kepada masyarakat.

 

Dalam paradigma masyarakat, kini teroris adalah Islam, Google pun demikian, ketika masyarakat ingin lebih bijak dan berpikir kreatif. Teroris merupakan bentuk ketidakpuasan penguasa atau sekelompok orang serakah dan tidak pernah merasa puas yang layak disebut teroris. Bukan karena latar belakang agama Islam.

 

Islam tidak pernah mengajarkan kekerasan kebiadaban, kekejian hak ini pun sudah dijelaskan didalam pedoman umat Islam. Namun, orang-orang tertentu yang kehilangan akal sehatnya sehingga melupakan ajaran agama yang telah diajarkan sehingga tidak mampu untuk mengendalikan diri yang mengakibatkan dirinya berubah dan melakukan pemberontakan pada sistem yang berlaku. Hakikatnya dalam Islam tidaklah mengajarkan hal-hal yang merugikan untuk kemasalahatan seperti yang dicontohkan manusia terbaik baginda Rasulullah SAW.

 

Tak redam ditelinga kasus teror dari beberapa penjuru daerah di Indonesia diantaranya kasus Ledakan Kampung Melayu, penusukan dua anggota Brimob, penyerangan Mapolda Sumut, yang terus di-blow up oleh media seolah di negera ini sangat-sangat tidak aman, seolah perangkat keamanan di Indonesia tidak dapat menangani. Beberapa informasi yang saya dapat ada beberapa kejanggalan, di antaranya setelah kejadian kasus penusukan dua anggota Brimob (30/6/17).

 

    Lokasi yang biasa dijaga ketat 1x24 jam, tetapi pada saat itu tidak ada yang menjaganya.

    Bekas darah polisi yang ditusuk pun terlihat cukup banyak dan langsung dibersihkan oleh pemadam kebakaran. Padahal untuk kebutuhan penyelidikan olah TKP seperti yang sudah-sudah TKP tidak dibersihkan sebelum polisi melakukan olah TKP terlebih dahulu.

    Saat diwawancarai oleh Kompas TV, Pak Setyo terlihat jongkok dan mengambil sesuatu dalam shooting-an kamera Kompas TV terlihat bila yang diambil adalah sebuah peluru atau selongsong peluru dan ditaruh ke saku jaketnya tanpa menggunakan sarung tangan.

    Lokasi penikaman hanya berjarak 500 meter dari ruang kantor Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian.

 

Masih teringat dengan kejadian di Bunderan HI Sarinah, kemudian Densus datang dengan gagah berani kemudian langsung menembak mati, doorrr. Pernah nyasar di Hotel Ritz Cariton dan JW marriot, Densus datang dan langsung menembak mati. Ada lagi kasus nyasar ke masjid, sambil teriak takbir dan thaghut lalu menikam polisi dan ditembak mati pula.

 

Media mem-blow up berita teriakan takbir dan thagut agar terorisnya ada kaitannya dengan Islam, maksa.

 

Polisi dengan intelektualnya pasti mampu membuka mata masyarakat dengan cara menangkap teroris tersebut, terkuak data dan fakta yang ada, ketika telah ketemu jaringan asli yang benar-benar valid lokal atau interlokal, WNI atau WNA, tidak langsung tembak dan menuduh dia golongan A, B, tetapi tanpa data yang benar adanya. Teknologi pun semakin canggih, jangan membodohi masyarakat seperti Upin Ipin yang suka main petak umpet.

 

Toh, dengan transparansi kasus berdasarkan bukti yang ada dengan teknologi sekarang, masyarakat pun tidak akan curiga kepada polisi telah memainkan isu terorisme untuk menyudutkan umat Islam.

 

Juni hingga September tahapan penyeleksian calon mahasiswa baru dan tahun ajaran baru perkuliahan. Beriringan dengan hal tersebut bila diperhatikan begitu banyak kasus-kasus teror yang disajikan oleh negeri ini, tepatnya bulan Mei telah ada beberapa kasus yang lagi-lagi tentang teror bom di kampung melayu.

 

Sebelum kejadian teror bom tersebut, pada 24 Mei sebanyak ratusan mahasiswa dari kesatuan aksi mahasiswa muslim Indonesia melakukan unjuk rasa di depan Istana Negara untuk menuntut penegakan hukum yang berkeadilan di Indonesia. Sempat menjadi tranding topik di Twitter pada saat itu kemudian dikalahkan oleh kejadian teror bom Kampung Melayu, seolah membuat “pengalihan isu” yang media elektronik mem-blow up dengan sangat rapi persoalan teror dibulan Ramadhan tersebut.

 

Propaganda Teror bagi Mahasiswa baru

 

 

Pada 2016 lalu, pasca penerimaan mahasiswa baru tidak begitu lama memijakkan kaki di kampus tercintanya, terdengar pula kabar terjadi kasus teror bom molotov di Gereja Oikumene di Jl. Cipto Mangunkusumo, Kelurahan Sengkotek, Kecamatan Lo Janan Ilir, Samarinda, Kaltim. Yang ketika itu memakan korban.

 

Teknologi seolah kilat yang menyambar ke pelosok negeri untuk memberitakan bahwa terjadi teror bom di gereja tersebut. Kebetulan atau sebuah sinetron si pelaku menggunakan baju bertuliskan “jihad” dibajunya. Setelah melempar bom, pelaku tidak melalui jalan yang dilewati sebelumnya, tetapi malah melompat ke Sungai Mahakam bagaikan ikan yang pasrah untuk ditangkap.

 

Media berhasil mendokumentasikan dan menyebarluaskan ke seluruh penjuru dunia bahwa pelaku pengeboman adalah orang yang menjalankan misi jihadnya. Menurut saya, mengapa mesti Gereja Oikumene, tidak sekalian ke gereja terbesar di Samarinda? Atau di keramaian dan lari sekuat-kuatnya tanpa jejak.

 

Semuanya pun tak sesuai dengan ekspektasi. Beberapa teror bom yang terjadi di Indonesia, ada saja yang meninggalkan jejak, melompat ke sungai, jika tidak ia meninggalkan KTP-nya. Namun, semuanya seolah setting-an yang ingin menyampaikan bahwa Islam adalah agama yang suka membenci perbedaan, organisasi Islam memiliki visi-visi kebencian, dan yang namanya jihad memberantas kebhinekaan. Tahun lalu bom molotov terjadi di gereja, pada tahun ini barangkali akan ada kejutan selanjutnya.

 

Hal ini merupakan propaganda sekelompok orang dalam membentuk paradigma masyarakat, terutama orang tua yang anak-anaknya sedang merantau diperkuliahan ketika masuk wilayah kampus untuk tidak perlu mengikuti organisasi. Apalagi organisasi keislaman karena hanya akan menebar kebencian, bahkan merenggut nyawa orang lain termasuk nyawanya sendiri, tidak mengenal toleransi perbedaan, dan hanya akan mencuci pemikiran ketika bergabung organisasi berbasis Islam.

 

Demikian isu-isu dikemas dengan misi pengebirian dari gerakan mahasiswa Islam yang memiliki tujuan memurnikan kembali ajaran Islam yang benar-benar dan menghilangkan benih-benih kejahiliaan. Islam adalah agama yang dirahmati oleh Allah. Agama yang membawa misi kebaikan, kedamaian, dan kasih sayang antar sesamanya. Rasulullah saw. pun mengajarkan toleransi perbedaan setelah disepakatinya Piagam Madinah oleh kaum nasrani. Oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab yang biasanya.

 

Aparat keamanan seharusnya lebih rasional lagi dalam menangani kasus terorisme yang ada di Indonesia. Terorisme semakin marak seharusnya ditindak tegas tetapi tetap logis tanpa pandang bulu. Pemerintah harus tegas dan lebih memperhatikan kondisi politik bawah tanah yang mengkambing-hitamkan islam.




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.