Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Travel  
Travel Alam
indonesiana-SYAHIRUL ALIM
SYAHIRUL ALIM 
Menulis, Mengajar dan Mengaji
Senin 11 September 2017 11:45 WIB
Dibaca (767)
Komentar (0)

Kopi Malabar: Ini Soal Nasionalisme Kopi!

indonesiana-ngopidikebun3-Indonesiana4.jpg

Siapa yang tak kenal kopi? Saya kira hampir setiap orang pernah merasakan kenikmatan bubuk hitam yang diseduh ini, dengan atau tanpa gula, ia tetap menjadi bagian yang tak bisa lepas dari sejarah manusia itu sendiri. Hari Sabtu dan Minggu (9-10/9/2017) merupakan perjalanan paling menarik bagi saya ketika dapat mengunjungi kebun Kopi Malabar di daerah pegunungan Malabar, Pengalengan, Bandung. Acara “ngopidikebun” jilid 3 yang diinisiasi Tempo, jelas membawa pengalaman paling menarik dalam hidup saya. Undangan yang disampaikan kepada blogger yang aktif menulis di blog publik Indonesiana untuk ikut pada acara ini, jelas merupakan apresiasi Tempo kepada para narablog agar terus menulis segala hal yang bermanfaat bagi masyarakat. Saya, mungkin salah satu yang beruntung diantara sekian blogger untuk bergabung dalam kegiatan ini.

Mungkin belum banyak orang mengenal Kopi Malabar asal Bandung, dibanding Kopi Aroma yang telah melegenda dari kota yang sama, Kopi Gayo asal Aceh, atau Kopi Toraja asal Sulawesi. Bagi para penikmat kopi sejati, masing-masing dari jenis kopi ini telah memiliki rasa khas tersendiri yang bisa saja melekat menjadi suatu kenikmatan tersendiri yang sulit tergantikan. Bagi saya, yang juga penikmat kopi meskipun belum sejati, memang dapat merasakan rasa khas dari beragam kopi Nusantara, walaupun tak bisa berteori soal rasa dan filosofi kopi yang umumnya banyak ditulis oleh mereka yang profesional soal ngopi. Kopi Malabar, bagi saya, memiliki nuansa rasa khas, tak kalah dengan rasa kopi-kopi dunia yang dijual di gerai-gerai pusat perbelanjaan di Ibu Kota.

Perkebunan kopi di Malabar Mountain Coffe, berada sekitar 1.600 mpdl dengan luas lahan perkebunan kurang lebih 70 hektar, cukup untuk mendapatkan produksi kopi yang maksimal. Jenis kopi yang ditanam disini adalah Sigarar Utang dan ada juga varietas lain, seperti Ateng Super, sebuah perpaduan menarik dari varietas Arabika dan Robusta. Saya tidak begitu paham soal ini, namun yang jelas, jenis-jenis kopi tersebut memang yang paling banyak ditanam di Indonesia. “Kopi adalah soal bagaimana kita merawatnya, karena kopi jelas untuk seumur hidup”, demikian celoteh pemilik kebun Kopi Malabar, Slamet Prayoga.

Tak perlu begitu lama ia harus beradaptasi dengan tanaman kopi, walaupun sebelumnya ia lebih banyak mengenal tanaman karet atau buah-buahan lainnya. Usahanya yang telah digeluti kurang lebih 7 tahun, membuat Pak Yoga semakin peduli akan arti dan filosofi kopi bahkan jauh melampaui, bahwa kopi bukan sekadar dinikmati, dirawat, dinilai atau dijual, tetapi bagaimana kopi Indonesia lebih melegenda dan sanggup “menasionalisme” dirinya: dinikmati, dibeli, dijual dan diproduksi oleh bangsa sendiri. Nasionalisme Pak Yoga kelihatannya menguat sejak 2013 lalu, ketika ia menghentikan proses ekspor Kopi Malabar karena dengan cara ini, produksi kopinya akan jauh lebih bermanfaat bagi bangsa dan negeri sendiri. “Biarlah saya putuskan untuk tidak ekspor, karena bagi saya, kopi ini harus dinikmati oleh orang kita sendiri,” demikian ungkap sosok sederhana ini.

Perjalanan ke pegunungan Malabar kurang lebih ditempuh sekitar 1,5 jam dari pusat Kota Bandung yang tentu saja selalu disuguhkan pemandangan pegunungan nan hijau yang memanjakan mata. Jalur utama menuju akses perkebunan Kopi Malabar bahkan hanya dapat dilewati oleh satu kendaraan roda empat, sehingga jika ada kendaraan pada arah berlawanan harus ada salah satu yang mengalah. Kendaraan yang membawa tim kami jelas model pickup dengan double cabin yang merajai jalur track licin dan menanjak, yaitu Toyota Hilux. Mobil ini sengaja didatangkan dari Jakarta, sebagai keikutsertaan Toyota menjadi sponsor dalam perjalan “Ngopidikebun” ini. Saya kira, mobil Toyota jenis ini memang selalu menjadi pilihan bagi mereka yang berkutat dengan jalur curam, menanjak atau medan licin yang dipenuhi bebatuan, umumnya jalur-jalur menuju pegunungan atau perbukitan.

Hamparan menghijau berbagai tanaman sayuran yang diapit oleh perkebunan teh, menambah suasana pegunungan yang asri dan sejuk semakin terasa sepanjangan perjalanan menuju perkebunan. Inilah barangkali sebuah “keajaiban” alam yang selalu diburu oleh mereka yang “muak” dengan kehidupan kota yang hiruk-pikuk dengan laju kendaraan, gedung-gedung tinggi yang kesemuanya merusak pemandangan alam. Ditempat seperti ini, saya kira, orang-orang kota justru mendapatkan sedikit kegembiraan dan keceriaan, melupakan sejenak kehidupan kota yang teramat penat. Kegiatan “Ngopidikebun” yang sebelumnya diprakarsai oleh acara “Ngopidikantor” merupakan kegiatan rutin kantor Tempo yang juga barangkali sebuah upaya mencoba “keluar” dari kepenatan rutinitas kerja yang terlampau formal. Dalam hal ini, saya sangat berterimakasih kepada Tempo, karena bukan hanya acara “Ngopidikebun” sebagai sasaran utamanya, tetapi agar para narablog di Indonesiana semakin dekat dengan para “mentor”nya di Tempo.

Dengan menggunakan istilah “ngopi” saja, semakin lekat dengan nuansa kebersamaannya, bahkan hal-hal yang tampak “keras” akan lebih mudah “cair” dengan ngopi ini. Tidak harus mereka yang coffee lover atau paham betul soal rasa bahkan segala filosofinya, bagi saya yang doyan kopi apa saja, justru mendapatkan rasa sensasi dari “Ngopidikebun” ini. Kopi Malabar, menyuguhkan model single origin dalam nuansa tiga rasa: red dan black honey, kopi tubruk dan natural. Saya hanya terbengong-bengong disaat kopi-kopi ini diracik menggunakan alat-alat modern, berbeda dengan kebiasaan saya menyeduh kopi langsung dari gelasnya. Barangkali, inilah rasa sensasi kopi yang berbeda dari biasanya, bahkan saya merasakan khas kopi istimewa pada kopi Malabar dengan tanpa gula menyusuri hampir seluruh rongga mulut bersamaan dengan lidah yang merasakan kekhasannya. Aroma “honey” (manis) yang keluar dari biji kopi yang diolah, seperti sensasi fruity yang kuat disetiap seruputannya.  

Saya justru banyak belajar, bukan sekadar menikmati sensasi kopinya, tetapi belajar nasionalisme kopi yang begitu kuat disuarakan Pak Yoga. Meracik kopi, mulai dari melembutkan bijinya, mengukur sesuai takaran, menaruhnya di atas lembaran filter ampas dan dituang dengan air panas dengan suhu sekian derajat hanyalah sebagian kecil saja dari pelajaran yang dapat saya ambil dari kegiatan ngopi. Namun jauh dari itu, saya banyak belajar dari semangat Pak Yoga yang gigih merawat seluruh kebun kopinya dengan satu tujuan: bangga atas jerih payah bangsa sendiri dan harus bermanfaat dan dinikmati orang-orang kita sendiri. Satu kalimat yang masih terngiang, “Kalau ada petani kopi yang miskin, berarti ada masalah dengan kopinya”. Ini artinya, tidak mungkin bangsa ini jatuh miskin, selama masih ada lahan-lahan subur dan produktif yang bisa diolah dan dimanfaatkan jika kita mau kaya. Hanya baru dari satu jenis tumbuhan kopi saja, kita bisa memperkaya bangsa sendiri.

Indonesia, saya kira merupakan negeri subur yang dapat menghasilkan banyak hal, termasuk kopi yang belakangan mulai dikenal di dunia internasional. Kopi asal Indonesia, tentu saja menjadi komoditas “berkelas” yang selalu saja “dilebeli” produk-produk asing. Lalu, kenapa kita tak mempopulerkan saja kopi ini menjadi produk “berkelas” di negeri sendiri? Rasio petani kopi yang hanya memiliki seratus batang kopi saja, setiap tahunnya pasti akan menghasilkan bahkan jauh melebihi rasio gaji PNS golongan tiga nilainya. Jadi, “semakin banyak ngopi semakin banyak rezeki”, terutama bagi para petani kopi lokal yang gigih “menasionalisasi” kopinya. Lalu, kenapa juga kita harus bangga dengan menjamurnya gerai kopi asing di negeri sendiri, padahal kopi lokal lebih hebat?




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.