Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Nasional  
Pendidikan
indonesiana-Muchlis R Luddin
Muchlis R Luddin 
Rabu 13 September 2017 10:06 WIB
Dibaca (1046)
Komentar (0)

Media Sosial dan Imajinasi tentang Pendidikan Masa Depan

indonesiana-527750

Oleh: Prof Dr Muchlis R Luddin, MA*

Sungguh sesuatu yang indah kalau kita memperhatikan kehidupan keluarga di dalam masyarakat kita. Kehidupan masyarakat desa tampak masih guyub walaupun dengan variasi baru. Kehidupan masyarakat perkotaan bahkan diwarnai dengan beragam perubahan spektakuler yang juga mengindikasikan kuatnya dominasi varian-varian cara hidup baru.

Pola kehidupan keluarga telah mengalami modifikasi. Jika dahulu keluarga diperlakukan sebagai sebuah unit produksi ekonomi, seperti membuat makanan sendiri, memasak sendiri untuk memenuhi kebutuhannya sendiri, menjahit baju sendiri, membangun rumah sendiri.

Dahulu kita mengenal dan akrab dengan orang tua, tetangga, kerabat, sanak saudara. Anak-anak bekerja bersama orang tuanya untuk mengatur rumah, keladang bersama, memproduksi kebutuhan keluarga secara bersama-sama. Ikatan kekerabatan dan hubungan-hubungan dalam keluarga sangat dekat, kuat. Pendidikan karakter langsung ditangani oleh keluarga. Hari ini, baik di kota maupun di desa, kehidupan keluarga kita telah berubah. Kehidupan keluarga kita telah diwarnai dengan apa yang kita kenal sebagai "typical urban family".

Orang tua, ayah, ibu, bekerja di dalam kantor, di pabrik atau perusahaan-perusahaan, di mal-mal, di kantor pemerintahan, dan di institusi-institusi modern lainnya. Tempat kerja yang mempunyai jarak dengan rumah mereka. Mereka harus menempuh perjalanan panjang untuk mencapainya. Orang tua dan anak-anak tak terlibat langsung dalam satu pekerjaan. Tak lagi membuat baju bersama. Tak lagi ke ladang bersama. Tak lagi membangun rumah bersama. Mereka memproduksi kebutuhannya di luar "family setting."

Mari kita perhatikan gejala umum yang sedang berlangsung sekarang. Pendidikan formal dan informal di dalam masyarakat telah diambil alih -untuk sebagian besar- oleh lembaga-lembaga agensi, lembaga kursus. Kita juga menyaksikan terjadi perluasan spesialisasi-spesialisasi dalam kehidupan masyarakat. Banyak pekerjaan tak bisa dilakukan lagi dengan pola borongan, setiap orang bisa melakukan apa saja. Sekarang, semakin banyak jenis pekerjaan dan semakin banyak pula jenis spesialisasi fungsional. Orang-orang bekerja atas dasar keahlian dan keterampilannya masing-masing.

Anak-anak muda di desa dan di kota telah mulai bekerja dengan pola-pola profesional. Bahkan dalam beberapa tahun belakangan ini, anak-anak muda lebih maju lagi dalam berkarya. Mereka membangun start-up industri yang potensial mengubah banyak gaya hidup kita semua.

Saya melihat bahwa sekarang ini tengah terjadi penurunan fungsi-fungsi keluarga di dalam kehidupan masyarakat kita. Keluarga-keluarga tak lagi “dekat" dengan orang tuanya. Hubungan-hubungan sosial dan emosional sebagian besar sudah diambil alih oleh produk teknologi berupa iPad, iPhone, laptop, handphone. Gadget kemudian secara perlahan-lahan mengambil alih fungsi-fungsi keluarga tersebut, bahkan mengambil alih fungsi orang tua.

Dalam situasi seperti ini, pendidikan keluarga dan karakter telah berpindah. Berpindah dari orang tua ke produk teknologi atau gadget. Apa implikasi dari semua gejala perubahan ini? Mari kita lihat dengan seksama bahwa pendidikan keagamaan dan karakter misalnya tak bisa lagi dilakukan oleh keluarga. Anak-anak muda sekarang belajar agama dari gadget. Sedikit sekali -kalau boleh dikatakan begitu- mereka belajar agama (dari atau pergi) ke pesantren, ke gereja, ke sekolah-sekolah agama. Mereka tak lagi memperoleh pendidikan karakter dari orang tuanya atau dari keluarganya. Mereka membentuk karakter dirinya dari "keteladanan tokoh-tokoh" dalam peristiwa yang dilihat di dalam gadget.

Pembentukan karakter langsung dicontohkan oleh beragama program aplikasi, tontonan yang ada di dalam gadget. Mereka menemukan "tokoh baru", ideal baru di media sosial. Itu sebabnya, janganlah heran jika sekarang ini kita melihat bahwa institusi-institusi sosial kita seperti sekolah, pesantren, mesjid, gereja, pura, pramuka, perkumpulan pemuda, mengalami kemunduran fungsional. Apa yang dilatih, diajarkan oleh institusi-institusi sosial kita, seperti pendidikan karakter, pendidikan agama, mengalami degradasi. Kehidupan corak perkotaan memaksa institusi-institusi sosial kita untuk berubah. Menyesuaikan diri dengan kekuatan penetrasi nilai-nilai dan norma-norma yang dilansir oleh media sosial. Itu sebabnya, sekali lagi, sekarang ini tengah terjadi penurunan fungsi keluarga di dalam kehidupan masyarakat kita.

Oleh karena itu, salah satu jalan penting agar penurunan fungsi-fungsi keluarga ini tak berlanjut terus menerus (karena ia kalah dalam pertarungan memenangkan interaksi dengan anggota keluarganya, khususnya anak-anak mereka) maka yang dibutuhkan adalah penguatan institusi keluarga. Kita harus meningkatkan kembali fungsi keluarga sebagai agen utama dalam pendidikan karakter. Kita harus memberi ruang dan peluang yang cukup untuk keluarga dalam menjalankan tugas utamanya. Kita harus menata ulang, meminjam terminologi yang digunakan oleh Prema Lata Sharma (2008), yaitu gerak "the shift from family to non-family agencies", sehingga fungsi keluarga, fungsi sekolah, fungsi pesantren, fungsi mesjid, fungsi gereja, fungsi vihara, fungsi pura dalam pendidikan karakter dan pendidikan religiusitas tak diambil alih sepenuhnya oleh sosial media.

Itu sebabnya harus ada upaya yang serius mendefinisikan kembali fungsi-fungsi sekolah dan fungsi-fungsi keluarga agar kompatibel dengan perkembangan zaman. Dengan demikian, kehidupan keluarga kita bisa berlangsung dengan baik dan memberi kontribusi signifikan dalam pembentukan karakter anak-anak muda kita. Semoga kehidupan keluarga kita semakin lebih baik dan berkualitas!

 

*Penulis adalah Guru Besar Sosiologi-Wakil Rektor I Universitas Negeri Jakarta




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.