Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Tekno  
Sains
indonesiana-Indonesiana
Indonesiana 
Jumat 29 September 2017 20:29 WIB
Dibaca (4815)
Komentar (0)

Ancaman terhadap Ilmu Pengetahuan ~ Karlina Supelli

indonesiana-karlina_supelli.jpg

Karlina Supelli**

Ilmu tidak mengajarkan kepastian;

ilmu melatih akal budi untuk berani menyangsikan.

 

Apakah judul kuliah terbuka ini masuk akal? Apakah tersedia cukup alasan untuk mengatakan ada ancaman terhadap ilmu pengetahuan? Bukankah yang terjadi sebaliknya? “Aku menjelma menjadi Kematian [K?la: Waktu], sang penghancur dunia,” kata ahli fisika Robert Oppenheimer (1965) mengutip seloka 32 Bab 11 kitab Bhagavad Gita. Ia sedang mengenang penghancuran Hiroshima dan Nagasaki dengan bom atom, yang penelitian dan pembuatannya ia pimpin. Bom atom adalah contoh konkret bagaimana ilmu pengetahuan murni menyediakan resep bagi tindakan saat berjalin dengan teknologi yang tepat.

Apakah judul di atas menunjuk ke situasi keilmuan di Indonesia yang banyak dikeluhkan karena dana penelitian yang terbatas dan jumlah peneliti yang tidak banyak?[i] Situasinya bahkan lebih memprihatinkan lagi. Rata-rata pendidikan masyarakat berada di tingkat menengah dan rendah. Hanya 18,4% penduduk berusia 19 - 24 tahun yang saat ini sedang mengenyam pendidikan di perguruan tinggi. Hampir 50% angkatan kerja kita adalah lulusan sekolah dasar; sebagian di antaranya bahkan tidak lulus SD.[ii] Sementara itu, sejarah keterlibatan masyarakat Indonesia dengan ilmu pengetahuan relatif masih pendek dan belum menumbuhkan kebiasaan khas yang diperlukan bagi pengembangan ilmu pengetahuan. Situasi ini merupakan kendala serius yang bisa menciutkan nyali orang yang bercita-cita menghadirkan ilmu pengetahuan sebagai salah satu penerang lorong pencarian manusia.

Kendati kedua pertanyaan di atas penting dan perlu dibahas, kuliah ini akan menyampaikan ancaman jenis lain. Sebuah ancaman yang bertolak dari pemujaan kepada diri dan kelompok sendiri. Manusia yang sibuk memuja diri atau kelompoknya menolak pendapat dan pengetahuan yang tidak sejalan dengan pahamnya – pun saat fakta tersedia di depan mata. Sebaliknya, “apa yang aku percayai”, “apa yang kuinginkan” atau “apa yang kusuka” dapat berubah menjadi kebenaran. Bahwa faktanya tidak demikian, adalah perkara belakangan. Tak ada dusta di dunia; hanya ada “fakta alternatif”.[iii] Itu di satu sisi. Di lain sisi, ada yang merayakan anti-tesisnya. Baik atau buruk bergantung pada sudut pandang. Mereka menyangkal kemungkinan manusia untuk mendapatkan pengetahuan obyektif. Segala sesuatu tergantung pada pikiran, seperti Hamlet yang terpenjara dalam pikirannya sendiri.[iv] Bedanya, dalam drama karya Shakespeare itu Hamlet sedang pura-pura gila. Apa implikasinya bagi perkembangan ilmu pengetahuan?

 

Setia kepada fakta

Ilmu pengetahuan bukan urusan percaya atau tidak percaya, suka atau tidak suka. Perkembangan ilmu pengetahuan tentu melibatkan kepercayaan-kepercayaan individual. Akan tetapi, kriteria keberterimaan suatu teori mengacu ke tataran empiris dan logis. Empiris berarti ada kesesuaian antara pernyataan yang dirumuskan oleh pikiran dan fakta yang ada di dunia; logis berarti pernyataan-pernyataannya sederap, tidak saling bertentangan.

Pada mulanya seorang ilmuwan mungkin mencoba menyanggah penemuannya sendiri karena ia tidak senang dengan konsekuensi teoretisnya. Johannes Kepler (1571-1630) sangat kecewa ketika data planet, alih-alih menghasilkan pergerakan melingkar yang indah seperti prediksi Nikolaus Kopernik (1473-1543), justru mirip pipi tembem (Kepler 1609: 575). Berhentilah bermain-main dengan bentuk! Demikian astronom-cum-teolog Denmark Christen Longomontanus (1562-1647) menegur Kepler dengan keras. Ia menganggap Kepler merusak tata langit. Revolusi Kopernikan rupanya belum berhasil membuat para ahli falak zaman itu meninggalkan fisika Aristoteles. Dalam argumen Aristoteles, gerak melingkar adalah gerak paling sempurna. Gerak ini paling sesuai dengan sifat ilahiah benda-benda langit.

Kepler marah besar. Mana mungkin orang seperti dia, yang mempersembahkan Mysterium Cosmographicum (1596) sebagai himne kepada Sang Arsitek Dunia, mau melecehkan Dia dengan membangun astronomi berbau kotoran kuda seperti tuduhan Longomontanus?[1] Kepler mencoba pelbagai teknik matematika untuk menemukan bentuk orbit yang tepat. Akan tetapi, selisih delapan menit busur antara data dan model Kopernikus tidak mau pergi. Seberapa besarkah perbedaan itu bila dilihat dari Bumi? Untuk mendapat jawaban, arahkanlah jari kelingking Anda tegak lurus terhadap kaki langit sejauh rentang lengan. Lebar ujung kelingking kira-kira 1 sampai 1,2 cm. Lebar ini mencakup busur langit sepanjang satu derajat. Jadi, delapan menit busur kira-kira 1,3 mm - 1,6 mm. Itulah sumber kesengsaraan Kepler selama delapan tahun sebelum akhirnya ia menemukan persamaan matematis bagi orbit elips. “Kebenaran yang kutolak dan kubuang jauh-jauh, menyelinap secara sembunyi-sembunyi lewat pintu belakang dengan berkedok,” tulis Kepler dalam Astronomia nova (1609: 575). 

Kepler mengajarkan kesetiaan yang keras kepala kepada fakta. Ia mengerti betul. Keteraturan pergerakan benda-benda langit yang terejawantahkan ke dalam hukum-hukum empiris, tidak selalu teramati langsung dalam gejala. Ia perlu menyimpulkan dari data yang diambil berulang-ulang. Kepler berhutang kepada Tycho Brahe (15546-1601) yang menyediakan data posisi planet dalam rentang waktu 18 tahun. Kepler menemukan hukum-hukum yang memaparkan gejala. Namun demikian, kerja ilmiah tidak berhenti di pemaparan.

Ilmuwan ingin menemukan penyebab gejala. Ilmuwan terlebih-lebih ingin mengetahui apakah ada aspek realitas yang tidak berubah, yang memungkinkan mereka meramal kapan gejala sejenis akan muncul. Untuk itu data saja tidak cukup. Ilmuwan memerlukan bangunan imajinatif yang lebih luas daripada kawasan tempat gejala teramati. Teori bukan melulu abstraksi atas data eksperimen. Di tataran teoretis inilah Isaac Newton (1642–1726) menunjukkan bahwa hukum-hukum Kepler (dan hukum gerak Galileo bagi benda-benda di Bumi) merupakan konsekuensi logis dari seperangkat hukum yang lebih mendasar. Newton membangun teori gravitasi yang menjawab kegelisahan Kepler; ia menjelaskan mengapa planet bergerak dalam orbit elips.

Dalam banyak kasus, ilmuwan dapat merumuskan penjelasannya ke dalam hubungan sebab-akibat. Langkah ini tidak mudah. Gejala bisa muncul karena sebab yang acak, sebagai kebetulan saja. Bagaimanakah ilmuwan melacak kausalitas?[2] Tidak bisa lain kecuali melalui eksperimen berulang-ulang untuk mendapatkan hasil yang ajeg, disertai pemahaman yang mendalam tentang kriteria kausalitas yang spektrumnya cukup lebar. Ada sebab niscaya, sebab cukup, sebab komponen-cukup, dan sebab yang bersifat mentak. Kerancuan membedakan hubungan antara gejala dan penyebabnya tidak jarang menghasilkan penarikan kesimpulan yang keliru.

Pada tanggal 1 April 2016 The Economist memuat sebuah grafik dengan anak judul “korelasi yang lezat”. Lezat, karena dalam grafik tampak hubungan antara kefasihan anak membaca dan jumlah es krim yang dimakan. Makin tinggi konsumsi es krim per kapita di sebuah negara, makin tinggi tingkat kefasihannya. Paparan pendek yang menyertai grafik itu ditutup dengan anjuran agar pedagang es krim memarkir asongannya dekat perpustakaan. Tidak ada keterangan apakah grafik itu merupakan lelucon statistik 1 April (April mop).

Bila diperhatikan lebih seksama, akan kelihatan bahwa banyak peubah yang luput dari anjuran itu. Sebut saja, misalnya, pengaruh ekonomi begara-negara maju terhadap sistem pembelajaran. Intinya, relasi antardata tidak selalu dapat disimpulkan sebagai sebab-akibat. Tampaknya, inilah tujuan The Economist menerbitkan grafik tersebut.

Urusan es krim tidak seserius urusan vaksin saat orang tua panik sesudah media sosial ramai mengabarkan vaksin gondong, campak dan rubela (MMR) sebagai penyebab autisme. Padahal, satu-satunya laporan penelitian yang mengasosiasikan vaksin MMR dengan autisme (Wakefield et al. 1998) sudah lama dicabut dari The Lancet (retracted, 2010), jurnal yang menerbitkannya. Sayangnya, penyebaran informasi ilmiah kalah kencang dan kalah spektakular ketimbang kampanye antivaksin, apalagi sesudah mendapat imbuhan paling mujarab untuk menjawab segala permasalahan: teori konspirasi. Urusan bertambah runyam karena gerakan antivaksin juga muncul dengan alasan agama, termasuk di Indonesia. Pertimbangannya bermacam-macam, mulai dari kecurigaan kandungan zat yang haram, larangan menyakiti diri sendiri, sampai gerakan kembali ke imunisasi alami berdasarkan ayat-ayat suci. Dari segi ilmiah faktanya cukup jelas. Sampai hari ini belum ada peneliti yang berhasil mereplikasi temuan Wakefield.

Kerumitan hubungan sebab-akibat menempatkan replikasi, atau melakukan penelitian yang sama secara berulang-ulang, sebagai syarat metodologis yang tak dapat ditawar dalam kegiatan ilmiah. Experimentum crucis yang mendukung teori (model Newton), atau percobaan penentu yang memfalsifikasi teori (versi Karl Popper), tidak pernah berupa satu eksperimen saja. Ketika ilmuwan Inggris abad ke-18 berhasil mereplikasi experimentum crucis prisma Newton sementara ilmuwan di Venetia dan tempat-tempat lain gagal, sebuah buku berjudul Filsafat Newton bagi para perempuan (Algarotti 1739) menjelaskan kegagalan itu melalui anekdot. Karena orang Inggrislah yang menemukan prisma, barangkali alam memang berpihak dan hanya mau memperlihat kebenarannya melalui prisma buatan Inggris (Dialog IV: 72).

                          

Catatan tentang eksperimen ilmiah

Contoh tentang kerumitan hubungan sebab-akibat mengingatkan saya akan surat dari panitia penyelenggara Kuliah Umum ini. Di dalamnya terdapat kutipan percobaan siswa sekolah menengah yang ingin menguji pengaruh pembacaan Al Quran terhadap pertumbuhan kacang hijau. Ternyata eksperimen itu bukan satu-satunya. Sekurang-kurangnya ada dua kelompok mahasiswa dari dua universitas berbeda di Indonesia yang menjalankan eksperimen serupa. Hasil ketiga eksperimen itu menunjukkan korelasi positif antara laju pertumbuhan kacang hijau dan pembacaan Al Quran. Dari pespektif ilmiah, hasil positif dalam tiga eksperimen yang terpisah pelaksanaannya tentu menggembirakan.

Saran siswa itu dalam laporannya demikian, “… jika kita ingin mendapatkan pertumbuhan yang baik terhadap sebuah tanaman terutama kacang hijau, maka bacakanlah Al-Qur’an”. Kalimat ini adalah kalimat bersyarat yang membutuhkan alasan mengapa terbentuk hubungan jika-maka tersebut.  Jawabannya, “… karena memang Al-Qur’an mampu memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan tanaman sama saja seperti pengaruh Al-Qur’an terhadap manusia. Karena memang Al-Qur’anlah nikmat untuk seluruh makhluk ciptaan-Nya dan alam semesta.”.[3] Langkah dari “jika-maka” ke “karena” itu secara sederhana dapat dilihat sebagai gerak dari perampatan atas fakta eksperimen ke pembentukan teori. Teori menjelaskan mengapa muncul gejala tersebut dalam eksperimen.

Bagi saya, eksperimen siswa ini mengharukan. Kuat kesan bahwa ia betul-betul ingin menjalankan eksperimen yang laik secara ilmiah, didorong oleh motivasi luhur untuk meneguhkan imannya. Perihal yang barangkali belum disampaikan kepadanya adalah bahwa dalam struktur pengetahuan ilmiah, kepercayaan tidak dapat berperan sebagai penjelasan. Lain halnya jika ia ingin mendapat penjelasan religius yang tidak perlu dikenai tuntutan pembenaran berdasarkan langkah induktif-deduktif karena corak pengetahuannya berbeda.

Dalam ilmu pengetahuan, kepercayaan tidak dapat menggantikan penalaran ilmiah. Sebagaimana nalar belaka tidak dapat membuahkan harapan, kepercayaan tidak dapat menghasilkan pengetahuan tentang kementakan gejala-gejala di dunia. Kepercayaan dapat membuahkan nubuat, tetapi kesahihannya didapat dari dalam kepercayaan itu sendiri. Dalam epistemologi (teori pengetahuan) memang ada paham yang mendefinisikan pengetahuan sebagai kepercayaan yang kebenarannya dapat dipertanggung-jawabkan secara rasional (justified true belief). Akan tetapi, filsafat ilmu jarang memakai kriteria ini karena tuntutan bagi kesahihan pengetahuan ilmiah melampaui tuntutan akan rasionalitas. Ada permasalahan pelik menyangkut hubungan antara teori dan dunia, keterujiannya secara intersubyektif, peran pengandaian yang melatarbelakangi suatu teori, dan masih banyak lagi.

Pertimbangan di atas berlebihan untuk menilai praktikum siswa sekolah menengah, tetapi wajar dalam mengevaluasi karya mahasiswa. Pendidikan di tingkat perguruan tinggi punya beberapa tujuan. Salah satu tujuan yang mendasar adalah melatih cara berpikir ilmiah sebagai wahana bagi pengembangan dan penerapan ilmu pengetahuan. Wajarlah bila eksperimen mahasiswa memiliki tingkat kerumitan lebih tinggi, kendati temanya sejenis. Dua kelompok mahasiswa yang disebut di atas membandingkan beberapa jenis suara (musik klasik, langgam Jawa, dangdung, rock dan lantunan ayat Al Quran) untuk mengetahui perbedaan dampaknya terhadap pertumbuhan kacang hijau. Kesimpulannya sama dengan di atas. Lantunan Al Quran dan suara orang mengaji memicu pertumbuhan paling cepat. Musik klasik ada di urutan kedua. Penjelasannya mereka mengacu ke perbedaan frekuensi suara-suara tersebut.

Penjelasan tersebut tidak unik dan dapat kita temukan dalam puluhan eksperimen serupa di pelbagai tempat di dunia, baik dalam lomba ilmiah tingkat sekolah sampai riset di lembaga penelitian. Tanggapan dari ahli botani yang kompeten pun banyak dan beragam, tetapi teknikalitasnya berada di luar kewenangan akademik saya dan tidak penad (relevan) dibahas di sini. Perhatian saya lebih terarah pada ‘pembuktian’ dalam salah satu laporan (2014),[4] bahwa tanaman tanggap terhadap lantunan Al Quran karena memiliki SQ (spiritual quotient; kecerdasan spiritual). “Musik klasik tidak mempunyai peran dalam pembentukan SQ,” demikian tertulis. Sedikit iseng, saya bertanya-tanya dalam batin. Bagaimana kalau yang diperdengarkan adalah komposisi Monteverdi atau Pergolesi?

Karena penasaran, saya pun mencari-cari sumber ilmiah bagi “SQ tumbuhan” yang konon adalah “penemuan tumbuhan bertasbih”. Saya memakai “konon” karena tidak berhasil menelusuri kepustakaan ilmiah bagi temuan tersebut, termasuk dalam perpustakaan digital berbayar bagi jurnal-jurnal ilmiah. Cerita-cerita yang saya temukan di internet sudah beranak-pinak akibat salin-rekat dan tambahan di sana-sini. Tak satu pun dapat ditelusuri asal muasalnya kecuali ke cerita lain, termasuk dalam buku Quranic Quotient (2007).

Laporan mahasiswa itu dapat lebih dipertanggungjawabkan apabila ia mengacu ke, misalnya, penelitian bioakustik tanaman.[5] Usulan ini tentu berlaku hanya jika maksud si mahasiswa adalah menulis suatu laporan ilmiah. Dari segi kandungannya, ini sekaligus berarti ia perlu rela melepas premisnya tentang SQ tanaman, sebelum ia dapat menunjukkan sumber yang sahih bagi kodifikasi kemampuan tanaman untuk tanggap terhadap yang transenden. Bila motivasinya adalah memadukan ilmu pengetahuan dan agama, memadaikah hubungan pelik keduanya dikemukakan melalui pembuktian ilmiah kebenaran suatu ayat?[6] Dalam hal ini, tampaknya akan lebih tepat jika ia menyelidiki sejauh mana pengandaian metafisis ilmu pengetahuan dapat ditemukan akarnya dalam pandangan dunia keagamaan. Jalan ini pernah ditempuh ilmuwan Muslim Mehdi Golshani (2004) dan teolog Kristen John Haught (1995).[7]

 

Ilmu Pengetahuan dan Realitas

Kedua catatan di atas, yang satu tentang teknik penulisan ilmiah dan yang kedua mengenai sifat penjelasan ilmiah, tidak bermaksud melemahkan semangat meneliti di kalangan siswa/mahasiswa. Catatan itu juga tidak mengecilkan arti eksperimen-eksperimen tersebut. Sebaliknya. Mengingat Kuliah Umum ini dihadiri oleh banyak mahasiswa, saya terdorong untuk mengemukakan pedoman tidak tertulis dalam penyelidikan ilmiah. Ilmu pengetahuan mempelajari realitas yang cakupannya cukup terbatas bila dibandingkan dengan realitas metafisis dalam refleksi filosofis dan realitas adiduniawi yang melandasi keyakinan religius dan kepercayaan mitis. Batas pengetahuan ilmiah cukup tegas. Pernyataan-pernyataan ilmiah bukan saja mensyaratkan pengujian empiris (minimal secara prinsip), melainkan juga perlu berada dalam realitas berbingkai ruang-waktu.

Lugasnya, ilmu pengetahuan menelaah gejala di dunia ini dan mencari penjelasannya dalam proses dan mekanisme dunia. Batas ini sering menimbulkan salah paham, seakan-akan ilmuwan tidak mengakui realitas metafisis (religius atau bukan) dan kepercayaan akan yang transenden, adiduniawi/adialamiah (supernatural). Tentu ada ilmuwan yang menolak itu semua. Akan tetapi, sikap ilmuwan tidak sama dengan apa yang diperlukan untuk menjadikan ilmu pengetahuan adalah ilmu pengetahuan. Dalam kegiatan ilmiah, batas antara pernyataan tentang dunia dan adiduniawi bersifat metodologis.

Pada mulanya adalah Galileo Galilei (1564-1642) yang perlu merumuskan sifat-sifat obyek untuk membangun penjelasan tentang alam yang tidak tercampur aduk dengan unsur-unsur subyektif, pertimbangan-pertimbangan antroposentris dan teologis. Ia memilah corak terukur (kualitas primer) dan corak tidak terukur (kualitas sekunder) yang ia andaikan ada dalam gejala-gejala material (Galileo 1623: 309-313). Perkembangan ilmu pengetahuan memungkinkan realitas yang dipelajarinya tidak melulu bercorak material. Realitas itu juga mengandung hal-hal immaterial (pikiran, ingatan, mimpi, dan sebagainya).

Dalam sebuah kuliah umum,[8] saya pernah menegaskan dua hal. Perkenankan saya mengulang lagi keduanya. Pertama, ilmu pengetahuan bersifat sekular. Sekularisasi adalah kesanggupan berpikir pada ranah dunia ini. Corak sekular ilmu pengetahuan berarti bahwa upaya untuk mencari kebenaran ilmiah tidak mengacaukan ranah imanen dengan ranah transenden. Segala perkara yang menjadi tanggung jawab manusia dicari, diselesaikan dan diuji dalam ranah imanen berdasarkan kaidah kerja dunia ini. Kedua, tanpa kesanggupan berpikir sekular, pelbagai kejadian di dunia dengan mudah dinyatakan sebagai tindakan ilahi. Segala macam tafsir dapat dinyatakan sebagai kehendak ilahi. Dialog publik buntu karena nalar terbentur pada pemutlakan metafisis. Akalbudi tumpul terbius bujukan surgawi. 

Dalam kesempatan ini, perkenankan saya menambah satu hal lagi. Ilmu pengetahuan memerlukan sikap agnostik terhadap realitas adiduniawi. Realitas itu ada atau tidak, bukan urusan ilmu pengetahuan (jangan dirancukan dengan kepercayaan ilmuwan pribadi). Ilmu pengetahuan bersikap netral, tidak punya kepentingan atas realitas tersebut. Ilmu pengetahuan dapat dijalankan oleh ilmuwan yang percaya atau tidak percaya akan realitas adiduniawi, beriman atau tidak beriman. Ilmu pengetahuan tidak menyangkal kemungkinan terbentuknya pengetahuan intuitif tentang realitas adiduniawi dan tidak menegasikan pengalaman religius. Ilmu pengetahuan semata-mata berjalan dengan premis seakan-akan dunia yang ditelaahnya ini tertutup, tanpa campur tangan kekuatan-kekuatan adiduniawi. Apakah memang demikian? Ilmu pengetahuan tidak memiliki perangkat untuk menyanggah atau meneguhkan realitas tersebut.

Ilmu pengetahuan terancam mati jika tidak ada pagar yang membatasi cakupan wilayahnya, karena ilmu pengetahuan tidak memiliki sarana untuk mengevaluasi gejala yang tidak dapat diamati,[9] diukur, ditata menurut prosedur keilmuan. Jika pernyataan ilmiah bercampur dengan pernyataan yang mengacu ke wilayah adiduaniawi, bagaimana ilmuwan mengujinya dalam eksperimen yang terkendali? Bagaimana sesama ilmuwan dapat mengoreksi teori yang mengandung terma yang tidak dapat diuji secara intersubyektif? Tanpa proses intersubyektif, kesahihan penjelasan ilmiah tidak lagi dapat diandalkan. Tanpa proses intersubyektif, tidak mungkin ada kritik. Tanpa kritik, tidak ada ilmu pengetahuan.[10]

Pun ketika ilmuwan yang beriman percaya bahwa Tuhan berkuasa atas dunia, dalam pernyataan ilmiahnya ia tidak dapat mengacu ke kehendak Ilahi sebagai penyebab gravitasi. Dalam diskursus hubungan ilmu pengetahuan dengan agama, para filsuf dan agamawan lazim memakai istilah “penyebab kedua”. Dalam teologi istilah ini menunjuk ke kemampuan dunia sebagai ciptaan untuk bertindak secara mandiri berdasarkan hukum-hukum alam. Mempelajari hukum-hukum alam adalah tugas ilmu pengetahuan. Menafsirkan bagaimana hukum-hukum itu bergantung pada penyebab pertama (Tuhan) merupakan tugas teologi. Keduanya dapat bersinggungan dan bahkan beririsan di ruang-ruang penafsiran filosofis yang keluasannya jauh melampaui wilayah kerja ilmu pengetahuan.

 

Kerendahan-hati intelektual

Pembatasan yang terkesan dogmatik ini sering menimbulkan antipati, seperti dialami gerakan Lingkaran Wina. Para filsuf kelompok ini mendeklarasikan pembebasan ilmu pengetahuan dari metafisika dengan kembali ke fakta yang terverifikasi secara indrawi (1929). Cita-cita mereka tidak kesampaian. Fisika abad ke-20 yang begitu berhasil justru bertumpu ke wujud-wujud tidak teramati langsung, yang lebih mungkin difalsifikasi ketimbang dibuktikan benar. Pemrakarsa gerakan ini, Rudolf Carnap (1891-1970), akhirnya menyadari. Pernyataan ilmiah yang bermakna mustahil dialihkan tanpa bersisa ke bahasa yang sepenuhnya mau memaparkan pengalaman indrawi (Carnap 1966: 337).

Cita-cita filsuf Lingkaran Wina terkesan pongah bila kita hanya mempelajari teori pengetahuannya. Apalagi mereka menyusutkan peran filsafat menjadi sekadar analisis atas bahasa ilmiah. Akan tetapi, bila kita mengerti pilihan politis para filsuf analitik ini tampaklah bahwa komitmen terhadap fakta empiris, kejernihan bahasa dan penolakan atas metafisika merupakan reaksi terhadap situasi traumatik Eropa antara perang dunia pertama dan kedua. Mereka yakin bahwa ketiga komitmen ini dapat membantu orang kebanyakan untuk membedakan fakta sejati dari fakta rekaan, serta untuk memeriksa slogan politis dan seruan moral yang dapat menyeret orang ke dalam fanatisme. Otto Neurath (1882-1945) menuangkan komitmen ini ke dalam program pendidikan masyarakat tentang fakta sosial dan informasi historis menggunakan bahasa visual yang mudah dimengerti.[11]

Sesudah perang dunia kedua, filsuf analitik R. M. Hare (1919-2002) memberi kuliah- kuliah umum untuk memperkenalkan tiga siasat politik kebudayaan. Ia yakin ketiga siasat itu dapat mengurangi pengaruh totalitarianisme dan fanatisme. Siasat pertama yang merupakan tugas para filsuf adalah menjernihkan logika bahasa moral yang sering dipakai dalam propaganda politik. Ilmuwan, wartawan dan sejarawan mengemban tugas kedua, yaitu memberi informasi kepada masyarakat tentang fakta-fakta terkait aneka permasalahan yang sedang diperdebatkan. Siasat ketiga, yaitu mengajak masyarakat untuk melatih imajinasinya, adalah tugas para seniman (Hare 1963: 180-181).

Pembatasan metodologis itu juga dapat kita pahami sebagai pengungkapan kerendahan hati intelektual, suatu pengakuan akan keterbatasan ilmu pengetahuan dalam menyingkap keragaman realitas yang berlapis-lapis. Ilmu pengetahuan tidak mampu menelanjangi habis-habisan pengalaman manusia dan pengetahuan ilmiah bukan segala-galanya. Metode ilmiah yang dijalankan dengan ketat juga dapat mencegah penelusupan motivasi pribadi atau kelompok ke dalam penjelasan ilmiah. Kepler didorong oleh motivasi religius, tetapi hukum-hukum pergerakan planet tidak dapat dimanipulasi untuk memuaskan harapannya. Pemerintah Hindia-Belanda membangun observatorium meteorologi di Batavia dengan motivasi untuk melayani kepentingan strategis pemerintah kolonial. Akan tetapi, tidak berarti bahwa isi kognitif klimatologi ikut mengangkut kepentingan kolonial.

Petaka muncul bila motivasi ikut mengarahkan kesimpulan yang menjadi dasar untuk membangun penjelasan. Contoh bukannya tidak ada. Salah satunya adalah rasisme yang melahirkan teori tentang superioritas ras, hipotesis kraniometri (ukuran tulang tengkorak) dan berbagai ilmu-semu (pseudo-science) lainnya. Contoh lain dengan dampak kemanusiaan tidak terlalu mengerikan tetapi mengacaukan perbedaan antara ilmu pengetahuan dan ilmu-semu, adalah Ilmu tentang Penciptaan (Creation Science). Motivasi keagamaan mendorong para pencetusnya menafsirkan narasi penciptaan dalam Kitab Suci secara harafiah.

Sebaliknya juga terjadi. Motivasi untuk membuktikan keistimewaan teks-teks suci dan ajaran-ajaran religius melahirkan agamisasi/spiritualisasi ilmu pengetahuan. Wajahnya aneka rupa, mulai dari Bucailleisme, mistisisme kuantum, sampai baraminologi dan sebagainya. Gerakan ini memukau orang-orang yang punya kerinduan identitas untuk membuktikan bahwa agamanya tidak tertandingi oleh ilmu pengetahuan. Harapan saleh itu, sayangnya, diwujudkan lewat langkah yang tidak tepat.

Dalam ilmu pengetahuan ada konservatisme metodologis yang mencegah teori gugur hanya oleh satu penemuan empiris. Meski demikian, sejarah ilmu bukannya tidak pernah mengubur teori-teori besar. Andaikan pada suatu hari teori-X mengalami perubahan atau bahkan gugur, bagaimanakah orang beriman yang kepalang menyatakan bahwa ayat suci tertentu sudah lebih dulu mewartakan kebenaran teori-X akan menjawab tantangan ini?

Agama dapat menjadi inspirasi bagi ilmuwan, tetapi agama tidak menyediakan pengetahuan terperinci tentang big bang, kode DNA, embriologi, dan sebagainya. Menafsirkan boleh-boleh saja, tetapi mencocokkan secara sewenang-wenang justru menciutkan makna agama.

 

Ancaman terhadap Ilmu Pengetahuan

Sebetulnya, ada ironi dalam gerakan semacam itu bila kita menghubungkannya ke gejala sosio-kultural yang lebih luas. Di satu pihak, tampak orang menempuh pelbagai cara untuk membuktikan kesesuaian teks-teks suci dengan perkembangan ilmu pengetahuan demi menegaskan kewibawaan agama. Di lain pihak, secara gampangan ilmu pengetahuan disingkirkan saat kesimpulannya tidak sesuai dengan tafsir keagamaan yang diharapkan. Gejala ini jauh lebih berbahaya daripada euforia pseudo-science berembel-embel agama. 

Berbeda dengan kebenaran ilmiah yang mengacu ke dunia sebagaimana adanya, kebenaran religius dilengkapi dengan kerangka normatif tentang bagaimana dunia seharusnya. Dalam bingkai pengetahuan religius, tidak dipermasalahkan apakah Adam dan Hawa merupakan fakta sejarah atau bukan. Tidak perlu langkah ilmiah untuk membuktikannya. Kisah Adam dan Hawa adalah kisah tentang umat manusia; kisah asal muasal yang memberi makna pada hidup kita.

Makna melibatkan penafsiran dan penafsiran bukan perihal benar atau salah, juga kala muncul banyak tafsir yang tidak bersesuaian satu sama lain. Melalui proses hermeneutik, kita dapat menjernihkan suatu penafsiran agar makna yang mau disingkapkan memantul semakin bening. Akan tetapi, tidak ada cukup alasan untuk mengatakan bahwa tafsir tertentu adalah satu-satunya makna. Dalam penafsiran selalu ada ketidakpastian, misteri yang tertinggal.

Dari apa yang tertinggal inilah muncul pelbagai konstruksi kebenaran yang saling berebut pengaruh di ruang publik. Tidak jarang, suatu konstruksi digenggam kencang sebagai penanda identitas. Ruang publik adalah ruang terbuka tempat aneka penafsiran, ideologi dan keyakinan yang berbeda-beda bertemu, saling mendengarkan, saling menerima dan saling mengoreksi sehingga terbangun peluang bagi perubahan.

Ruang publik rusak ketika semakin banyak identitas, apakah itu identitas agama, kesukuan atau ras, bertarung untuk memutlakkan konstruksinya masing-masing. Kerusakan terjadi karena pemutlakan membuat orang hanya berkerumun dan berputar-putar sebatas lingkaran identitasnya sendiri-sendiri. Kerusakan juga terjadi ketika perebutan itu membawa orang ke kutub seberangnya: tidak ada acuan obyektif bagi apapun juga. Nilai-nilai, pengetahuan, dan kepercayaan hanya bermakna dan benar relatif terhadap titik pijak tertentu. Titik pijak itu bisa berupa pilihan pribadi, budaya, ideologi, bahasa, dan lain-lain. Setiap orang atau kelompok merumuskan kebenarannya sendiri dan menetapkan nilai-nilainya sendiri tanpa ada pihak yang dapat mengevaluasi kesahihannya atau menimbang baik-buruknya.

 

A. Ancaman dari relativisme

Jika sesuatu senantiasa “relatif terhadap …” tentu tidak ada bingkai penilaian yang tidak bergantung pada pengandaian budaya dan kepentingan ideologis. Dalam sosiologi pengetahuan, relativisme bermula dari kritik terhadap rasionalitas ilmu pengetahuan dan kekuasaannya yang didapat melalui pengorganisasian ilmu pengetahuan secara besar-besaran (Big Science). Pada gilirannya, relativisme menjadikan ilmu pengetahuan sebagai program yang mustahil.

Bagi penganut relativis, tidak ada cara obyektif untuk membedakan mana pernyataan ilmiah yang berterima dan mana yang tidak. Mereka berpendapat bahwa rasionalitas ilmu pengetahuan tidak didukung oleh pertimbangan empiris. Ilmu pengetahuan semata-mata sistem kepercayaan yang diterima berdasarkan kesepakatan komunitas ilmiah, tanpa acuan ke dunia. Telaah tentang cara kerja ilmu pengetahuan menjadi telaah tentang psikologi dan sosiologi sistem kepercayaan di kalangan ilmuwan.

Para relativis memanfaatkan sifat tentatif kebenaran ilmiah. Oleh karena bukti-bukti ilmiah yang menjadi dasar untuk mendukung sebuah teori tidak pernah konklusif dan pernyataan ilmiah selalu terbuka untuk dinyatakan salah, cara terbaik untuk mengevaluasi teori adalah dengan mempertanyakan siapa yang paling diuntungkan jika suatu teori dinyatakan benar. Obyek-obyek yang muncul dalam teori (elektron, atom gravitasi, DNA, dan sebagainya) dipandang sebagai konstruksi tekstual belaka. Padahal pengacuan ke bahasa seperti itu bukannya tidak melahirkan ilusi linguistik tersendiri. Relativisme menenggelamkan materialitas fakta ke bawah onggokan tanda. Itulah saat kata terpenggal dari realitas faktual dan mencari maknanya dalam sesama kata, ad infinitum.

Demikianlah saya mengalami kesulitan untuk membayangkan bagaimana suatu konstruksi tekstual sanggup meluluhlantakkan Hiroshima dan Nagasaki. Saya juga sedikit bingung. Apakah perbedaan antara “tadi pagi Amin sarapan nasi goreng” dan “saya percaya tadi pagi Amin sarapan nasi goreng” sekadar buah kesepakatan saya dan rekan-rekan? Betul bahwa ilmu pengetahuan tidak dapat memastikan kebenaran suatu teori. Akan tetapi, ilmu pengetahuan dapat menunjukkan kesalahan suatu teori dan membedakan fantasi dari fakta. Bagi para relativitis, pengetahuan adalah “segala sesuatu yang dianggap orang sebagai pengetahuan” dan isinya berupa “kepercayaan-kepercayaan yang diyakini secara kolektif” (Barnes & Bloor 1981: 22n).

Relativisme tidak terlalu populer di Indonesia, kecuali di ruang diskusi filsafat, pascamodernisme dan teori-teori kebudayaan. Saya tidak terlalu mengkhawatirkan perkembangannya. Kendati demikian, relativisme yang tampak jinak ini bisa berbahaya bila gagasan-gagasannya mempengaruhi kebijakan publik atau menimbulkan reaksi masyarakat atas nama pluralisme budaya. Martha Nussbaum menceritakan perdebatan panas dalam pertemuan World Institute for Development Economics Research, ketika seorang antropolog menyesalkan program vaksinasi cacar pemerintah kolonial Inggris di India pada abad ke-19. Program itu menggusur ritual pemujaan terhadap Dewi Sittala, penyebab sekaligus penyembuh cacar. Ia mengritik universalisme pengetahuan sebagai warisan Barat yang tidak peka terhadap perbedaan budaya. Protes Nussbaum (1995: 65; bukankah hidup lebih baik daripada mati, sehat lebih baik daripada sakit?) dianggap sebagai cara pandang dikhotomis, atau-A atau-B, yang khas dalam epistem? Barat tetapi tidak dikenal dalam tradisi India.

Apakah penolakan terhadap obyektivitas pengetahuan dan nilai-nilai kemanusiaan universal sedemikian berharganya sampai-sampai kesehatan dan nyawa layak dikalahkan? Jangan-jangan kita gagal membedakan kebudayaan dengan tradisionalisme. Pertimbangan ini mendorong Meera Nanda mengajak masyarakat dunia berkembang untuk menolak tawaran relativisme (1998, 301).

 

B. Ancaman dari fundamentalisme

Fundamentalisme adalah antitesis, beroposisi langsung dengan relativisme. Fundamentalisme menaruh semua urusan kehidupan di bawah satu sistem nilai yang diyakini paling mendasar dan murni, yang tidak tercemar oleh tafsir. Fundamentalisme tidak selalu bersifat keagamaan. Saintisme yang memandang ilmu pengetahuan sebagai satu-satunya pengetahuan yang benar adalah sebentuk fundamentalisme yang mau menyusutkan semua upaya pemerolehan pengetahuan ke asas-asas ilmiah. Dalam lingkup agama, fundamentalisme berpegang ke doktrin untuk kembali ke ajaran agama sebagaimana tersurat dalam teks-teks suci, tanpa penafsiran ulang sesuai konteks zaman, tanpa kesalahan dan tanpa pelunakan sedikit pun.

Sementara relativisme menolak tolok ukur yang andal untuk membandingkan kebenaran isi pengetahuan yang berbeda-beda, fundamentalisme agama hanya menerima teks-teks suci yang ditafsirkan secara literal sebagai satu-satunya sumber pengetahuan. Di luar itu tidak ada pengetahuan yang sahih. Kaum fundamentalis memandang sejarah pewahyuan bukan sebagai perjumpaan dengan yang Ilahi dalam pengalaman religius manusia, melainkan sebagai peristiwa turunnya perintah-perintah. Mereka tidak menafsirkan iman sebagai tanggapan atas pengalaman manusia yang merasa disapa oleh yang Ilahi, tetapi sebagai ketaatan kepada perintah-perintah tersebut. Demikianlah Tuhan dipahami sebagai pengatur segala sesuatu, termasuk tetek bengek kehidupan sehari-hari. Di luar pengaturan itu, semua salah.

Kiranya cukup jelas mengapa kaum fundamentalis agama menolak upaya penafsiran teks-teks suci dan gejala keagamaan melalui perspektif keilmuan, linguistik, hermeneutika teks, fenomenologi dan sebagainya. Sumber epistemik ilmu pengetahuan tidak dianggap sahih, kecuali aspek pengetahuan yang secara literal diangkat dari teks-teks suci. Otoritas mutlak bagi penafsiran diperoleh melalui telaah intratekstual. Kebenaran dan cara membacanya ada di dalam Kitab Suci dan tidak perlu sumber lain sebagai pembanding. Dari paparan di bagian awal kuliah ini, kita dapat menyimpulkan bahwa ilmu pengetahuan tidak memiliki kompetensi metodologis untuk menilai kebenaran religius. Meski demikian, perspektif keilmuan dapat membantu orang beragama untuk membuka dan memperkaya penafsirannya.

Hal yang masih berterima dari fundamentalisme adalah komitmennya terhadap asas-asas moral obyektif yang melampaui pertimbangan terbatas manusia. Hal yang sulit diterima adalah puritanismenya yang melahirkan dakuan mutlak bahwa nalar manusia sanggup menjangkau dan mengerti asas-asas itu secara murni dan utuh, sehingga tidak perlu penafsiran kontekstual dalam rangka menerapkan apa yang tertulis dalam teks. Puritanisme melahirkan sikap intoleran terhadap sudut pandang yang berbeda.

Barangkali saya keliru, tetapi pada hemat saya, kaum fundamentalis terjebak dalam pemujaan terhadap kemampuan penalaran dan penafsirannya sendiri. Mereka memutlakkan satu makna penafsiran dan memaksakan kebenaran pernyataan-pernyataannya. Pemutlakan membuat mereka tidak bersedia memandang situasi faktual yang majemuk dengan jernih. Kemajemukan dianggap sebagai ancaman yang akan mencederai kebenaran agama.

Masalahnya, bagaimana kita mengetahui bahwa pengetahuan kita akan kalam Ilahi itu benar? Bahwa sesuatu itu benar adalah satu hal, tetapi pengetahuan tentang kebenaran adalah hal yang lain sama sekali. Seandainya ‘benar’ sama dengan ‘pengetahuan tentang yang benar’, cara yang paling gampang untuk membebaskan Indonesia dari korupsi tentulah dengan mengikuti saran seorang politisi, bubarkan KPK! Beginilah seorang politisi mencoba mengecoh masyarakat, “kalau tidak ada KPK, tidak ada korupsi,”. Dalam teori pengetahuan, kesesatan penalaran itu terjadi karena ia mengacaubalaukan realitas (ada korupsi) dengan pengetahuan tentang realitas (pernyataan KPK bahwa telah terjadi korupsi).

 

Seberapa nyata ancaman itu?

Relativisme epitemik menggusur kemungkinan realitas obyektif dengan menghapus batas antara yang benar dan yang dipercaya sebagai benar. Fundamentalisme agama membangun realitas yang obyektivitasnya bertopang ke pemutlakan tafsir. Orang yang tidak bergabung ke dalam realitas itu berpotensi merusak kemurnian ajaran-ajaran agama. Baik relativisme maupun fundamentalisme melahirkan cara pandang yang tidak dapat diganggu gugat. Akan tetapi, betulkah keduanya mengancam ilmu pengetahuan?

Kita tidak dapat menyangkal kemungkinan bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi bisa menemukan cara untuk menghancurkan seluruh kehidupan. Ilmu pada dirinya tidak melahirkan kearifan. Kearifan lahir dari pencarian manusia yang tidak kunjung usai untuk menemukan kebenaran. Pendapat ini, yaitu ilmu bertujuan menemukan kebenaran, bersifat normatif, sebuah cita-cita. Melalui cita-cita itulah praktik ilmiah diajarkan kepada calon ilmuwan dan ilmuwan muda dengan ketekunan dan kedisiplinan yang tinggi untuk mengikuti metode yang tepat.[12]

Kebiasaan menerapkan metode ilmiah secara ketat memungkinkan nilai-nilai epistemik ilmu pengetahuan membuahkan kebajikan yang menetap. Kebajikan lahir dari kebiasaan melatih kejujuran ilmiah, kesetiaan kepada fakta, keterbukaan terhadap kritik, kesediaan bekerja sama untuk membangun proses intersubyektif, kebiasaan mencari kebenaran, penghormatan terhadap kemerdekaan berpikir, kebebasan untuk menyelidiki, kemandirian berpendapat dan keberanian untuk meragu-ragukan.

Dengan melatih kebiasaan-kebiasaan itu ilmuwan pelan-pelan mengerti. Ilmu pengetahuan tidak mengajarkan kepastian. Ilmu pengetahuan melatihnya untuk berani meragu-ragukan setiap pernyataan – bahkan yang sudah teruji secara ilmiah; dan meragu-ragukannya dengan cara yang kejam. Bukan untuk terjebak dalam skeptisisme, melainkan untuk membangun kebiasaan menguji pendapat. Di hadapannya berdiri tembok realitas yang ketebalannya tak seorang pun mengetahuinya. Ilmu berkembang karena terus menerus terbentur pada tembok itu melalui pengujian. Dalam ilmu pengetahuan, langkah pengujian berfungsi sebagai kritik.

Filsuf Karl Popper pernah berujar. Persembahan terbesar kepada seorang ilmuwan adalah mengritik gagasannya. Melalui kritik ia, atau orang lain, akan memperbaiki atau mengembangkan gagasannya. Melalui kritik seseorang belajar dari kesalahan. Ia belajar bahwa ilmu pengetahuan tidak memberinya kebenaran mutlak. Ia gemetar seperti ahli fisika-cum-filsuf-ilmu Henri Poincarê (1854-1912) ketika menyadari betapa kebenaran ibarat hantu yang berkelibat, tetapi tak dapat dijerat dan dipenjara dalam pikiran.

Apakah itu berarti ilmu pengetahuan menjadikan harapan akan kebenaran, yang begitu berharga bagi manusia, laksana mimpi menjaring angin? Kendati tumpukan bangkai teori yang usang terus bertambah, Poincaré tidak meratapinya sebagai kemalangan (The Value of Science, 1906). Ia memandangnya sebagai penanda bagi pencarian yang tidak berhenti dan tidak boleh berhenti. Pencarian akan terhenti apabila syarat utamanya, yaitu keberanian untuk menyangsikan aneka perkara dan keterbukaan terhadap kritik tidak lagi mendapat ruang.

Dengan merefleksikan syarat-syarat yang memungkinkan ilmu pengetahuan berkembang dan dengan mempertimbangkan situasi berikut ini:

  1. Tingkat pendidikan rata-rata masyarakat seperti dikutip di muka,
  2. Kurikulum pendidikan yang secara konseptual merancukan kompetensi ilmiah dengan pendidikan karakter dan pendidikan rohani, dengan menetapkan penghayatan dan pengalaman agama sebagai tolok ukur utama (Kompetensi Inti K-1) keberhasilan pendidikan setiap bidang ilmu di semua jenjang pendidikan,
  3. Tradisi ilmiah yg belum tumbuh mantap di tengah meluasnya kecenderungan untuk meremehkan fakta dan memilih pendapat sesuai kepentingan,
  4. Algoritma mesin pencari di Internet yang memanjakan masyarakat pengguna untuk hanya terpapar pada gagasan dan kelompok teman yang sepaham, serta menyaring yang tidak disukai dan tidak penad bagi minatnya,

kiranya pertanyaan di atas dapat terjawab. Ilmu pengetahuan terancam kecuali kita bersama-sama menahan laju pelbagai unsur yang akan menjadikan masyarakat ini sebagai masyarakat tertutup. Masyarakat tertutup mempertahankan keberadaannya melalui ketaatan mutlak kepada perintah yang diyakini benar, terlepas dari apakah kebenaran itu sudah teruji. Pengujian itu mustahil karena masyarakat tertutup tidak menghendaki tafsir. Ilmu pengetahuan juga terancam sejauh masyarakat tidak belajar menjadi dewasa. Kedewasaan ditandai dengan kesanggupan untuk membuat pilihan bukan atas dasar selera dan prasangka, melainkan atas dasar komitmen kepada hal-hal yang secara faktual dan normatif dibutuhkan untuk merawat kebaikan bersama. 

Tujuan masyarakat tertutup hanya satu: membangun jejaring untuk melanggengkan tradisi yang menurut pandangannya paling murni dan benar. Tujuan masyarakat yang kekanak-kanakan sederhana: mendapatkan hal-hal yang memuaskan hasratnya. Keduanya bersiaga menyerang apa dan siapa saja yang mencoba membuka ketertutupan atau merenggut kenyamanannya. Ilmu pengetahuan sebagai proses imajinatif yang merdeka dan setia kepada fakta, tidak mungkin tumbuh dalam masyarakat yang tertutup dan kekanak-kanakan. ***


Kepustakaan:

Akehurst, Thomas L. The cultural politics of analytic philosophy: Britishness and the spectre of Europe. London: Continuum International Publishing Group, 2010.

Algarotti, Francesco. Sir Isaac Newton's Philosophy Explain'd for the Use of the Ladies: In Six Dialogues on Light and Colours, vol. 2 in two volumes. London: 1739. http://www.newtonproject.ox.ac.uk/view/texts/normalized/OTHE00111

Bagir, Zainal Abidin, Jarot Wahyudi, Afnan Anshori. Integrasi Ilmu dan Agama: Interpretasi dan Aksi. Banding: Mizan Pustaka, 2005.

Barnes, Barry, and David Bloor. “Relativism, rationalism and the sociology of knowledge”. In Rationality and Relativism, edited by M. Hollis and S. Lukes. Oxford: Basil Blackwell, 1982.

Carnap, Rudolf. “Theory and Observation [1966].” In Philosophy of science: An historical anthology, edited by Timothy McGrew, M. Alspector-Kelly, and F. Allhoff, 329-343. Chisester: John Wiley & Sons, 2009.

Cartwright, N., Jordi Cat, Lola Fleck, and Thomas Uebel. Otto Neurath: Philosophy between science and politics. Cambridge: Cambridge University Press, 2008.

Caspar, Max. Kepler. Translated and edited by C. Doris Hellman. London; New York: Abelard-Schuman, 1959.

Galilei, Galileo. “The Assayer (Il Saggiatore)” [1623]. In Galileo Galilei, H. Grassi, M. Guiducci, and J. Kepler, The Controversy on the comets of 1618, translated by S. Drake and C. D. Omalley, 131-336. University of Pennsylvania Press, 1960.

Hare, Richard Mervyn. Freedom and reason. Oxford: Clarendon Press, 1965.

Kepler, J. New astronomy. Translated by William H. Donahue. Cambridge: Cambridge University Press, 1992.

Koperski, Jeffrey. The physics of theism: God, physics, and the philosophy of science. Chichester, West Sussex: John Wiley & Sons, 2015.

Nussbaum, Martha C. “Human Capabilities, Female Human Beings,”. In Women, Culture and Development: A Study of Human Capabilities, edited by M. Nussbaum and J. Glover. Oxford: Clarendon Press, 1995.

Nanda, Meera. “The epistemic charity of the social constructivist critics of science and why the third world should refuse the offer.” In A house built on sand: Exposing postmodernist myths about science, edited by Noretta Koertge, 286-311 (Oxford: Oxford University Press, 1998.

Oppenheimer, R. The Decision to Drop the Bomb. Produced by Fred Freed in NBC White Paper. New York: NBC Universal, 1965.

Sarkar, Sahotra, ed. The legacy of the Vienna circle: modern reappraisals. Vol. 6. New York: Garland Publishing, Inc., 1996.

Voelkel, James Robert. The composition of Kepler's Astronomia nova. Princeton: Priceton University Press, 2001. 

Wakefield, Andrew J., Simon H. Murch, Andrew Anthony, John Linnell, D. M. Casson, Mohsin Malik, Mark Berelowitz et al. “RETRACTED: Ileal-lymphoid-nodular hyperplasia, non-specific colitis, and pervasive developmental disorder in children.” The Lancet, Vol. 351, N0. 9103 (1998): 637-641.



[1]    Petikan surat menyurat Kepler dengan Longomontanus dan ahli-ahli astronomi pada zamannya dapat dilihat dalam James R. Voelkel (2001) dan Caspar (1993).

[2]    Di sini saya tidak membahas perdebatan para filsuf tentang kausalitas.

[5]    Bioakustik tanaman adalah cabang baru biologi yang sedang dikembangkan oleh Monica Gagliano, peneliti di University of Western Australia.

[6]    Langkah ini berisiko menimbulkan kecenderungan untuk mencocokkan secara dangkal ayat-ayat Kitab Suci dengan penemuan-penemuan ilmiah [Sudarminta (2003), dikutip dalam Zainar Abidin Baqir, dkk (2005: 19)].

[7]    Lih. Baqir, dkk (2005).

[8]    Karlina Supelli, “Berpikir dan bertindak masuk akal,” Kuliah Umum dalam penyerahan Diversity Award 2016, diselenggarakan oleh Serikat Jurnalis Untuk Keberagaman di Jakarta, 31 Agustus 2016.

[9]    Saya perlu membubuhkan catatan bahwa pengertian “dapat diamati” dalam ilmu pengetahuan sangat pelik dan tidak mengacu begitu saja ke kriteria pengamatan inderawi menurut positivisme. Ilmu pengetahuan bekerja dengan banyak sekali wujud yang tidak teramati langsung. Ada wujud/proses yang takteramati tetapi dapat dilacak melalui efeknya, ada yang hanya dapat disimpulkan melalui metode retrodiktif, dan ada pula yang secara prinsip tidak teramati tetapi muncul sebagai konsekuensi teori. Pada hemat saya, terjadi salah kaprah yang ganjil di kalangan dosen Filsafat Ilmu di Indonesia yang kebanyakan menyamakan begitu saja ilmu-ilmu empiris dengan “ilmu-ilmu positif”. Ilmu-ilmu positif ditafsirkan menurut kriteria positivisme August Comte dan positivisme-logis Lingkaran Wina. Seandainya ilmuwan dari bidang ilmu-ilmu empiris empiris tunduk pada doktrin positivisme, mustahil ada kosmologi dan fisika zarah yang sekarang ini justru berkembang pesat. Tidak jarang, praktik keilmuan bertumpu ke pengandaian metafisis yang tidak mengemuka secara formal dalam teori. Pengandaian itu berfungsi sebagai asas metateoretis yang membentuk pandangan komunitas ilmiah tentang hakikat dunia dan bagaimana dunia itu dapat dipelajari. Pencarian akan “teori segala-galanya” berpegang ke asas metafisis bahwa alam semesta ini ratah (simple) dan ada asas terpadu yang menata interaksi-interaksi fisika. Pembahasan yang cukup lengkap tentang asas metateoretis terdapat dalam Koperski (2015).

[10] Dalam ilmu pengetahuan, eksperimen untuk menguji suatu teori merupakan salah satu bentuk kritik. Kritik dapat pula bersifat mental berupa argumen, argumen-lawan (counter-argument) dan percobaan dalam pikiran (Gedanken-experiment).

[11] Neurath memperkenalkan Isotopy (International System of Typographic Picture Education), program visual sebagai alternatif bahasa tulis, untuk menampilkan fakta sosial dan aneka informasi kuantitatif. Slogannya, “kata memecah belah, gambar mempersatukan” (Sarkar 1996: 723). Telaah atas politik kebudayaan filsuf-filsuf analitik masa itu dapat dilihat dalam Akehurst (2010) dan Cartwright (2008).

[12] Dalam praktik, langkah metodologis tidak serapi seperti yang tertuang dalam makalah-makalah ilmiah. Setiap penemuan umumnya bermula sebagai proses kreatif pembentukan hipotesis, atau perkiraan tentang kebenaran ilmiah yang akan didapat. Perkiraan itu bisa muncul sebagai kilatan tilikan tak terduga, seperti Kekulè mendapat tilikan bagi rumus kimia benzena sesudah mimpi melihat ular melingkar yang menggigit ekornya sendiri. Ilmuwan juga tidak dapat memastikan secara a priori eksperimen mana yang akan membuahkan penemuan. Dengan dipandu hipotesis itu, ia perlu mencoba dan mengulang-ulang pelbagai eksperimen yang penad.

Catatan-catatan:

1    Lih. data peneliti di Pusat Pembinaan Pendidikan dan Pelatihan Peneliti, LIPI.

[ii]     Lih. data Angkatan Kerja Indonesia (Badan Pusat Statistik, 2015).

[iii]    Istilah fakta alternatif berasal dari Kellyane Conway, Penasihat Kepresidenan Donald Trump, saat ditanya mengapa juru bicara Gedung Putih berdusta tentang inaugurasi Presiden Donald Trump.

[iv]    Shakespeare, Hamlet (1600-1601), Scene 2, Act 2.

 
 

* Disampaikan dalam Kuliah Terbuka 22 September 2017 di Aula Pascasarjana Universitas Katolik

  Parahyangan atas kerja sama Qureta, Rumpun Indonesia, GITA dan Universitas Katolik Parahyangan.

** Dosen tetap di Program Pascasarjana Filsafat, Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara.

 




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.