Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Dunia  
Afrika
indonesiana-Smith Alhadar
Smith Alhadar 
Kamis 12 Oktober 2017 11:42 WIB
Dibaca (208)
Komentar (0)

Referendum Catalunya dan Kurdistan

indonesiana-catalunya.jpg

 

Smith Alhadar

Penasihat Indonesian Society for Middle East Studies

Peristiwa yang terjadi di Catalunya, Spanyol, dan Kurdistan Irak, Irak, banyak kesamaan dan mungkin kesudahannya juga akan sama. Pada 1 Oktober lalu rakyat Catalunya, wilayah otonomi di timur laut Spanyol, menyelenggarakan referendum kemerdekaan. Seminggu sebelumnya, 25 September, rakyat di wilayah Pemerintahan Regional Kurdistan (KRG) di Irak utara melakukan hajatan yang sama. Hasilnya sama pula: lebih dari 92 persen rakyat di kedua wilayah itu memilih merdeka dari pemerintah pusat.

Namun pemerintah Spanyol dan Irak menolak penyelenggaraan dan hasil referendum itu karena bertentangan dengan konstitusi dan hukum internasional. Toh, baik Catalunya maupun Kurdistan tetap menggelar referendum tanpa kesepakatan dengan pemerintah pusat sebagaimana syarat konstitusi dan hukum internasional. Mahkamah Agung Spanyol dan Irak memandang referendum di kedua wilayah itu ilegal. Penentuan nasib sendiri memang didukung Piagam PBB, tapi pemisahan diri- kendati bukan kejahatan- tidak dibenarkan, kecuali bertolak dari hasil kesepakatan antara pemerintah pusat dan wilayah yang ingin memisahkan diri. Apalagi penentuan nasib sendiri telah diperoleh Catalunya dan Kurdistan Irak.

Pada 10 Oktober, pemimpin Catalunya, Carles Puigdemont, berpidato di parlemen regional. Dia menangguhkan deklarasi kemerdekaan tapi menerima mandat rakyat yang menghendaki kemerdekaan Catalunya, wilayah berpenduduk 7,5 juta jiwa yang menyumbang seperlima dari kekuatan ekonomi Spanyol. Kendati Puigdemont menangguhkan deklarasi kemerdekaan dan meminta dialog dengan pemerintah pusat, Perdana Menteri Spanyol Mariano Rajoy menolak langkah cerdik Puigdemont, yang dipandang telah mendeklarasikan kemerdekaan Catalunya secara diam-diam. Kalau ia menerima tawaran dialog dari Puigdemont, itu sama artinya ia melegitimasi referendum dan hasilnya. Toh, dialog yang dimaksud Puigdemont adalah pembahasan mengenai cara-cara implementasi pemisahan diri Catalunya.

Di Irak, kendati telah menerima mandat rakyat yang menghendaki kemerdekaan, pemimpin KRG, Masoud Barzani, juga menangguhkan deklarasi kemerdekaan dan meminta dialog dengan Bagdad. Sebagaimana Puigdemont, dialog yang dimaksud Barzani adalah pembicaraan mengenai cara-cara menerapkan kemerdekaan Kurdistan Irak, wilayah berpenduduk 6,5 juta jiwa yang juga menyumbang seperlima dari ekonomi Irak. Perdana Menteri Irak Haidar al-Abadi pun menolak tawaran Barzani dengan alasan yang sama dengan Rajoy. Bahkan, Bagdad telah memblokade teritori udara wilayah KRG dan menggelar latihan militer bersama dengan Iran di perbatasan timur KRG-Iran dan Turki di perbatasan utara KRG-Turki.

Yang juga sama antara Catalunya dan Kurdistan Irak adalah referendum dan hasilnya tidak diakui oleh negara-negara regional dan internasional. Tidak ada satu pun negara Eropa yang mendukung separatisme Catalunya yang dipandang ilegal itu. Aksi Puigdemont juga akan melabilkan Eropa. Etnis-etnis di Eropa, yang sudah lama punya aspirasi kemerdekaan, juga akan mengambil langkah yang sama dengan Catalunya, seperti etnis Basque di Spanyol, Skotlandia di Inggris, Flanders di Belgia, Pulau Feroe di Denmark, Lombardy, Veneto, dan Corsica di Italia, serta Kaledonia Baru di Prancis. Semangat Catalunya untuk merdeka juga menghidupkan kembali mimpi kemerdekaan di kantong-kantong etnis di Balkan, dari etnis Albania di selatan Serbia sampai kelompok etnis Serbia di Republik Srpska.

Adapun kemerdekaan Kurdistan Irak akan menambah daya dorong etnis Kurdi di Iran, Turki, dan Suriah untuk juga menuntut kemerdekaan. Di kawasan Timur Tengah, populasi Kurdi yang sekitar 35 juta jiwa telah lama mengalami penindasan politik dan budaya sehingga memiliki aspirasi kemerdekaan sejak seabad lalu.

Bagdad, Teheran, dan Ankara mengancam akan melakukan embargo ekonomi, bahkan tindakan militer, bila Barzani mendeklarasikan kemerdekaan. Di Catalunya, Madrid akan mengambil jalan militer bila Catalunya nekat mengambil langkah serupa. Sebagaimana Catalunya, kemerdekaan Kurdistan Irak juga ditentang Amerika Serikat, Uni Eropa, dan bahkan komunitas internasional. Memang, bila separatisme dilakukan sepihak, ini akan mengacaukan tatanan internasional.

Bagaimanapun, referendum kemerdekaan sudah berlangsung. Apa yang akan terjadi di Catalunya akan menjadi acuan bagi Kurdistan Irak dan sebaliknya. Melihat realitas politik regional dan internasional di atas, kecil kemungkinan Catalunya dan Kurdistan Irak akan merdeka. Yang hampir pasti terjadi adalah tersungkurnya Puigdemont dan Barzani dari panggung politik setelah memakan banyak korban di wilayah masing-masing.




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.