Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

indonesiana-tempoid-default
Muhammad Yusuf Yusuf
Senin 13 November 2017 18:17 WIB
Dibaca (97)
Komentar (0)

Pangaha Bunga

indonesiana-15078888_1842188889398490_3903322457959896305_n.jpg

Aminah sedang duduk termenung menunggu pembeli datang menawar kue pangaha bunga yang dijajakannya. Ada dua model pangaha bunga yang dia jajakan pada sore itu, yaitu pangaha bunga yang memiliki tiga buah kembang dan pangaha bunga yang memiliki enam kembang. Masing-masing model pangaha bunga diletakkan dalam wadah yang berbeda.

Tiba-tiba Adi datang dan menyapa Aminah. Adi adalah teman sekolah Aminah di SDN No. 2 Sila.

“Hey!” kata Adi.

“Adi, ayo dong beli pangaha bunganya!” jawab Aminah

“Kalau yang ini berapa harganya?” kata Adi sambil menunjuk pangaha bunga yang memiliki tiga kembang.

Aminah menjawab, “lima seribu.”

“Kalau yang ini?” kata Adi sambil menunjuk pangaha bunga yang memiliki enam kembang.

“Kalau yang itu, tiga seribu kawan” ucap Aminah.

“Aku punya uang lima ribu nih, yang mana ya yang harus kubeli? Ucap Adi.

“Bagaimana rasanya kedua pangaha bunga yang kamu jual Aminah? Tanya Adi lagi.

“Kalau rasanya sih sama saja Adi, karena bahan-bahanya sama” ucap Aminah.

“Kalau kamu membeli yang ini, kamu akan mendapat 25 buah” ucap Aminah lagi sambil menunjuk pangaha bunga yang memiliki tiga kembang.

“Kalau yang ini, kamu dapat 15 buah” lanjut Aminah sambil menunjuk pangaha bunga yang memiliki enam kembang.

“Tapi ibuku berpesan agar aku membeli 19 buah” ujar Adi.

“Gimana ya? ucap Aminah.

“Kalau yang ini seribu, kamu dapat tiga. Terus yang ini empat ribu, kamu dapat 20 buah. Artinya kamu akan mendapat 23 buah” jelas Aminah sambil menunjuk pangaha bunga enam kembang kemudian pangaha bunga tiga kembang.

Aminah berpikir bagaimana caranya agar dapat 19 buah pangaha bunga dengan uang lima ribu milik Adi. Kemudian Adi tiba-tiba mengembukaan idenya.

“Aku dapat, begini, Aku beli yang ini dua ribu dan yang ini tiga ribu” ujar Adi sambil menunjuk pangaha bunga enam kembang kemudian pangaha bunga tiga kembang.

“Kalau yang ini kamu beli dua ribu, maka kamu akan mendapat sepuluh buah. Terus kalau yang ini tiga ribu, kamu akan mendapat 9 buah. Jumlahnya ada 19 buah. Benar Adi, kamu benar” ucap Aminah.

“Pintar kamu Adi” kata Aminah sambil membungkus pangaha bunga yang dibeli Adi.

Adi tidak langsung pulang setelah membeli pangaha bunga yang dijual tenam sekolahnya itu. Mereka masih bercanda tentang kue yang dijual Aminah.

“Sudah laku berapa?” tanya Adi.

“Hari ini sepi sekali Adi, baru kamu yang membeli” jawab Aminah.

“Tiap hari biasanya kamu dapat berapa?” tanya Adi lagi.

“Tidak tentu, kalau lagi ramai, bisa dapat seratus ribu. Tapi kalau sepi, paling cuma terjual dua puluh hingga lima puluh ribu saja” jawab Aminah.

Setiap hari Aminah selalu membantu orang tuanya menjajakan kue buatan orang tuanya. Dia menjajakan kue setiap sore sehabis Ashar hingga menjelang Maghrib. Orang tuanya mengandalkan hasil penjualan kue tersebut untuk membiayai biaya sekolah Aminah dan kakaknya yang kini sedang bersekolah di SMA Negeri 1 Bolo.

“Capek ya? tanya Adi.

“Kalau sepi begini, ya capek Adi” jawab Aminah.

“Kalau ramai pembeli, tidak terasa capeknya” lanjut Aminah.

“Kalau sepi begini, apa yang kamu kerjakan?” tanya Adi lagi.

“Kadang baca buku, kadang cuma duduk-duduk saja sambil menunggu pembeli datang” jelas Aminah.

Aminah juga kadang-kadang membawa buku pelajarannya ketika sedang berjualan. Kalau lagi sepi pembeli dia menyempatkan diri untuk membaca buku pelajaranya, apalagi jika ada tugas yang diberikan di sekolahnya. Tapi pada hari ini dia tidak membawa buku pelajaran.

“Apa kamu selalu membawa buku pelajaran kalau berjualan?” tanya Adi lagi.

“Aku sering membawanya Adi, tapi hari ini aku tidak bawa, kupikir pembelinya ramai seperti hari kemarin” papar Aminah.

Tiba-tiba datang seorang ibu menghampiri mereka.

“Aku beli 38 buah” ujar ibu tersebut sambil menyerahkan satu lembar uang 10 ribu rupiah.

Aminah dan Adi saling berpandangan, seolah saling bertanya.

“Berapa buah bu?” tanya Aminah kepada ibu itu.

“Aku beli 38 buah” ibu itu mengulang perkataanya.

“Gimana nih?” Aminah berbisik pada Adi.

Adi menggeleng-geleng kepalanya tanya tidak tahu. Aminah dan Adi mulai berpikir bagaimana cara mendapatkan pangaha bunga sebanyak 38 buah dengan uang sepuluh ribu yang diberikan ibu tadi.

“Kalau masing-masing lima ribu gimana?” bisik Aminah pada Adi.

Adi kemudian berpikir.

“Nggak bisa, kalau yang ini lima ribu berarti ada 15 buah, sementara yang itu ada 25 buah, jadinya kan 40 buah” papar Adi sambil menunjuk pangaha bunga enam kembang kemudian pangaha bunga tiga kembang.

“Iya, ya” ucap Aminah

Mereka berdua terus berpikir. Tiba-tiba ibu itu mengejutkan mereka.

“Ayo cepat, aku buru-buru nih” kata ibu itu.

Mereka terperanjat, membuayarkan semua pikiran mereka. Suasana pikiran mereka jadi kacau, sempat terpikir oleh Aminah untuk sembarang saja memberi ibu itu yang penting jumlahnya 38 buah.

“Aku kasih saja sembarangan, yang penting jumlahnya 38” bisik Aminah pada Adi.

“Jangan, nanti kamu rugi” ujar Adi.

“Benar juga” kata Aminah.

“Terus bagaimana nih?” tanya Aminah pada Adi.

“Kita berpikir lagi” jawab Adi singkat.

“Tapi ibu itu minta cepat-cepat” tukas Aminah.

“Begini, kita hitung satu-satu mulai dari pangaha bunga yang ini” kata Adi sambil menunjuk pangaha bunga tiga kembang.

“Kalau yang ini seribu ada lima, yang itu 9 ribu ada 27, jumlahnya jadi 32 buah” jelas Adi.

“Kalau yang ini dua ribu ada 10, yang itu 8 ribu ada 24, jumlahnya jadi 34 buah” Adi melanjutkan penjelasannya.

“Kalau yang ini tiga ribu ada 15, yang itu 7 ribu ada 21, jumlahnya jadi 36 buah” jelas Adi selanjutnya.

“Kalau yang ini empat ribu ada 20, yang itu 6 ribu ada 18, jumlahnya jadi 38 buah” jelas Adi kemudian.

“Nah itu yang benar Adi” teriak Aminah kegiarangan.

“Ada apa?” tiba-tiba ibu itu berkata mendengar teriakan Aminah.

“Nggak bu” ujar Aminah tersipu malu.

Segera Aminah membungkus pangaha bunga yang dibeli ibu itu dan menyerahkannya. Lega rasa hati Aminah setelah masalah banyaknya pangaha bunga yang dibeli ibu tersebut. Belum pernah sebelumnya ada masalah seperti itu, karena biasanya pembeli langsung membeli dengan menunjuk salah satu model pangaha bunga yang dia jual. Misalnya ada pembeli yang menyerahkan lima ribu dan menunjuk pangaha bunga tiga kembang, maka tanpa perlu berpikir dia langsung membungkuskan 30 buah pangaha bunga dan memberikannya pada pembeli tersebut.

Sempat terlintas dalam pikiran Aminah untuk meminta ibunya agar tidak usah lagi membuat dua model pangaha bunga seperti itu, tapi dia menyadari bahwa hal itu bisa membantunya untuk belajar lebih giat lagi. Sehingga niat itu dia urungkan, sambil berharap akan ada lagi pembeli yang membeli dengan cara seperti itu.

“Untung ada kamu” kata Aminah sambil tersenyum pada Adi.

“Kalau tidak ada kamu pasti sudah aku beri sembarangan saja, yang penting jumlahnya 38 buah” lanjut Aminah.

“Ternyata enak juga berjualan ya, kita bisa sambil belajar matematika” tukas Adi.

“Betul Adi, aku senang sekali tadi ketika kamu bisa mendapatkan solusinya. Makanya aku berteriak kegirangan tadi” ujar Aminah kegirangan sambil tersenyum pada Adi.

“Aku juga senang kalau begini kawan, kita bisa belajar memecahkan masalah” jelas Adi.

“Tidak pernah ada yang membeli dengan cara seperti itu sebelumnya Adi. Biasanya para pembeli langsung menunjuk salah satu jenis pangaha bunga, sehingg aku tidak kesulitan menentukan jumlahnya” papar Aminah.

“Ternyata matematika itu penting ya?” ucap Aminah lagi.

“Betul” jawab Adi.

“Aku sudah lama nih, aku pulang dulu, ibuku pasti sudah lama menunggu” lanjut Adi.

“Besok aku datang lagi. Siapa tahu besok ada masalah lagi, sehingga kita belajar lagi” kata Adi sambil berlalu meninggalkan Aminah yang masih berjualan.

“Terima kasih ya” ujar Aminah mengiringi kepulangan Adi.




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.