Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Nasional  
Politik
indonesiana-tempoid-default
Adjat  R. Sudradjat
Sabtu 02 Desember 2017 14:24 WIB
Dibaca (1540)
Komentar (0)

Reuni Aksi212 dan Anies Baswedan yang Gamang

indonesiana-Anies_pidato_212.jpg

Pernyataan Anies Baswedan, yang notabene seorang Gubernur DKI Jakarta, dalam sambutannya di depan peserta aksi reuni akbar alumni 212, yang digelar Sabtu (2/12/2017), antara lain menandaskan bahwa pesan utama dalam kegiatan tersebut adalah persatuan. Ia juga menyinggung soal perbedaan yang tidak bisa dihindari dan pasti hadir dalam kehidupan sebagai warga negara.

Suka maupun tidak, pernyataan itu sama sekali tidak berbanding lurus dengan semangat kebangsaan yang menjadi marwah kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Sebab jika melihat kembali asal-muasal munculnya aksi yang dinamai dengan tiga angka berdasarkan tanggal dan bulan pelaksanaannya itu, merupakan sebuah unjuk kekuatan dalam upaya menjatuhkan pemerintahan Jokowi-JK yang dituding telah memihak kepada salah satu  peserta pilkada DKI Jakarta yang dianggap sebagai penista agama, yaitu Ahok, alias Basuki Tjahaja Purnama, yang kala itu menjadi rival Anies Baswedan sendiri.

Bagaimanapun upaya pasangan Anies-Sandi setelah berhasil memenangkan kontes demokrasi yang dinilai paling brutal dalam sejarah pesta demokrasi di Indonesia ini, yaitu untuk kembali mempersatukan warga Jakarta yang terbelah, sepertinya akan sulit dilakukan. Terlebih lagi dengan munculnya kembali kegiatan serupa pada hari ini, di awal bulan terahir tahun 2017 ini. Tidak menutup kemungkinan para Ahokers, juga para ‘kecebong’, yang dicetuskan  Amien Rais terhadap para pendukung Jokowi, akan semakin menjauhi, bahkan menampik uluran tangan Anies-Sandi untuk bergandeng tangan, apabila sikap Anies Baswedan dan pasangannya, Sandiaga Uno, alih-alih bersikap sebagai Bapak yang mengayomi semua anaknya,  justru malah menciptakan banyak distorsi.

Sebagaimana halnya di dalam penyusunan RAPBD 2018, dan belum lama ini sudah disahkan dalam rapat paripurna bersama DPRD, bisa jadi para Ahokers akan terluka manakala Gubernur yang mengantikan kedudukan Gubernur yang didukungnya, dengan tanpa kompromi lagi merubah beberapa rencana yang pernah disusun sebelumnya. Bahkan dalam suatu kesempatan, wakil Gubernur Sandiaga Uno yang melontarkan sebutan rezim terhadap Gubernur sebelumnya, yang notabene sebagai pesaingnya dalam Pilkada, semakin menambah tingginya ketidakpercayaan para Ahokers. Bagaimana pun kata rezim tersebut dianggap sebagai kata yang memiliki konotasi negatif.

Demikian juga dengan yang sedang berlangsung sekarang ini. Aksi Reuni Alumni 212, selain dianggap sebagai unjuk kekuatan dalam upaya menggoyang pemerintahan Jokowi-JK menjelang tahun politik yang akan datang, juga berkumpulnya kembali kelompok yang memuluskan pasangan Anies-Sandi dalam memenangkan Pilkada DKI Jakarta tempo hari, publik pun bertanya-tanya kepada mantan Mendikbud yang dipecat itu. Sudah tepatkah penggunaan kata alumni untuk para peserta suatu aksi,  yang juga hanya berlangsung  hanya dalam tempo sehari?

Secara tekstual, atau menurut KBBI, kata alumni bukankah memiliki makna: bekas pelajar, mahasiswa; lulusan suatu sekolah atau perguruan tinggi. Sehingga publik pun menilai seorang Anies Baswedan, seorang intelektual, dan berlatar belakang akademisi, begitu cerobohnya dalam mengunakan kata yang tidak sesuai pada tempatnya.

Sehingga bila mencermati sikap dan perilaku Anies Baswedan yang konon berambisi hendak maju di ajang Pilpres 2019 mendatang, sepertinya tidak akan seberuntung dalam Pilkada DKI Jakarta tempo hari, dan menjadi Gubernur untuk selama lima tahun, tapi sebaliknya tidak menutup kemungkinan justru hanya akan menuai kekalahan yang terkadang sungguh menyakitkan bagi yang bersangkutan.

Wallahu ‘alam.***

Sumber foto Tempo.co




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.