Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Nasional  
Nasional
indonesiana-SYAHIRUL ALIM
SYAHIRUL ALIM 
Menulis, Mengajar dan Mengaji
Selasa 05 Desember 2017 12:04 WIB
Dibaca (3301)
Komentar (0)

Duh, Memalukan Seorang “Ustazah” di Metro TV ini!

indonesiana-ustazah-nani-metro.jpg

Sebuah acara kajian keagamaan dengan nama Syair Kemulyaan yang ditayangkan oleh Metro TV sungguh telah mempertontonkan sebuah kebodohan. Bagaimana tidak, penceramah gaetan Metro TV yang bernama Nani Handayani membuat kesalahan fatal dalam penulisan ayat suci Al-Quran yang dipampang dalam sebuah layar elektronik. Surat al-Ankabut ayat 45 yang ditulis oleh sang Ustazah tak hanya salah dalam penulisan, tetapi keluar sangat jauh dari kaidah penulisan bahasa Arab yang benar. Sudah semestinya, setiap stasiun televisi yang hendak menayangkan acara-acara ceramah keagamaan, melakukan verifikasi terlebih dahulu secara lebih ketat, sehingga dapat mengurangi tingkat kesalahan yang justru akan menuai cemoohan publik. Kasus Nani Handayani seharusnya tak lagi terulang, bila perlu segera mendapatkan klarifikasi dari yang bersangkutan agar tidak terjadi kegaduhan publik.

Bagi saya, inilah gambaran sembrono para penceramah agama yang seringkali diangkat oleh banyak stasiun televisi yang tanpa seleksi ketat, yang penting punya retorika bagus, penampilan meyakinkan, dan sedikit dipoles oleh “kefasihan” dalam melafalkan bahasa Arab, sudah cukup untuk dipublikasikan lewat layar kaca. Menyedihkan memang, bahwa pada kenyataannya, media semestinya bertanggung jawab atas pelbagai perubahan cara pandang keagamaan masyarakat yang menggandrungi “ustadz-ustadz seleb” yang dicitrakan lebih banyak oleh mereka. Lihat saja, beberapa hasil survey yang secara telak menempatkan para “ustadz seleb” di hati para pemirsa televisi. Lucunya, masyarakat kemudian meyakini dan membenarkan bahkan mengikuti apa saja yang dikatakan oleh para penceramah ini, bahkan tanpa proses cek dan ricek.

Ruang-ruang agama dalam berbagai acara televisi sangat berpengaruh bagi proliferasi (pembiakan) di ranah publik yang pada akhirnya, masyarakat hanya mengetahui ajaran-ajaran agama sebagai sebuah “hiburan” bukan untuk dipahami atau dihayati dalam ruang lingkup kehidupannya. Hal ini jelas telah menghadirkan agama sekadar “simbolik” yang kemudian semakin banyak dipersepsikan sebagai simbol atas maraknya nuansa agamis dalam sebuah masyarakat. Diakui maupun tidak, beragam acara dakwah keagamaan yang sedemikian marak—terutama dalam media berbasis eletronik—dipandang oleh sebagian orang sebagai bentuk peningkatan ekspresi keagamaan masyarakat, padahal, tanpa sadar, seringkali berdampak pada “pendangkalan” akibat perolehan  pengetahuan agama secara instan.

Lekatnya dunia hiburan dengan media layar kaca, tampaknya tak diambil pusing soal ceramah agama yang sedemikian berdampak luas terhadap cara pandang masyarakat. Bagi para produser acara keagamaan, bisa jadi formula bisnis dan keekonomian akan lebih didahulukan ketimbang sisi edukatif yang dapat memberi manfaat kepada khalayak. Saya kira, media besar sekaliber Metro TV, seharusnya menangguk kerugian akibat kesalahan fatal yang dilakukan oleh Nani Handayani pada saat mengisi acara Syiar Kemulyaan. Tidak hanya itu, bahwa inilah sebuah kenyataan, dimana  rekruitmen para penceramah seringkali justru tanpa selektif, membiarkan kebodohan menjalar di masyarakat dan membiarkan publik dalam suasana kegaduhan.

Penting kiranya kita merujuk pada upaya Kementrian Agama RI yang pernah berinisiatif untuk melakukan sertifikasi para penceramah agar tidak menjadi masalah di tengah masyarakat. Bagi saya, kesalahan fatal Nani Handayani dalam soal penulisan bahasa Arab, tidak saja pada soal kaidah kebahasaan—seperti Nahwu dan Shorof—tetapi juga menunjukkan kesan dirinya tak menguasai bahasa Arab, padahal Al-Quran yang sedang dibicarakan jelas berbahasa Arab. Sulit jika dikatakan, bahwa ini hanya sebuah kealfaan, karena apa yang dituliskan dan ditonton jutaan orang tidak sama sekali memberikan kesan dirinya seorang “ustazah”, tetapi sekadar penghibur yang memiliki keahlian retorik yang teratur.

Setelah kejadian yang saya lihat di acara Metro TV ini, saya semakin berharap, bahwa Kementrian Agama segera memberlakukan secara ketat para penceramah sehingga memiliki kualifikasi pengetahuan keagamaan Islam yang baik, bukan sekadar penampilan gaya retorik. Bisa jadi, kesalahan fatal yang diperlihatkan oleh Nani Handayani ini adalah satu dari sekian banyak kasus yang sejatinya luput dari perhatian publik. Lagi pula, fungsi media—terlebih media elektronik—merupakan ajang edukasi terhadap masyarakat melalui penyebaran informasi yang mendekati kebenaran, bukan sebagai pegiat dalam penyebaran informasi kebohongan. Bagi saya, kajian keagamaan itu sangat sensitif, terlebih ditengah menguatnya polarisasi masyarakat belakangan ini. Membiarkan hal ini terjadi tanpa klarifikasi, justru akan menambah panjang daftar penceramah yang semakin tidak mendapat tempat di hati masyarakat.

Soal ceramah yang dilakukan Nani Handayani di Metro TV, bagi saya sudah cukup baik, hanya saja tak diperlukan visualisasi dalam penulisan ayat-ayat Al-Quran yang ditulis sendiri karena alangkah lebih baik visualisasi langsung dari cetakan ayat-ayat Al-Quran-nya yang sudah pasti terhindar dari kesalahan. Kesalahan tangan dalam penulisan Al-Quran bisa saja terjadi akibat ketidakpahaman soal gramatika bahasa Arab dan semoga ini menjadi pelajaran berharga bagi setiap penceramah agar tidak sembrono menuliskan ayat-ayat suci Al-Quran yang diperlihatkan di depan publik. Setiap stasiun televisi juga seharusnya bertanggungjawab atas semua tayangan yang telah menjadi konsumsi publik, mengoreksinya jika salah dan meminta maaf atas segala ketidaknyamanan sebagai konsekuensi atas sebuah tayangan yang telah dipublikasikan.




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.