Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

indonesiana-meita
Meita Eryanti
Selasa 05 Desember 2017 20:04 WIB
Dibaca (1187)
Komentar (0)

Menjadi Teman yang Baik di Dunia Maya

indonesiana-Tempo-Media-Week-2017.jpg

Tanggal 24 November 2017, aku hadir dalam sebuah seminar bertajuk “Media dan Gemuruh Zaman Digital” di Perpustakaan Nasional RI. Seminar ini adalah salah satu rangkaian acara Tempo Media Week yang diadakan dari tanggal 24 November 2017 sampai 26 November 2017.

Keynote speaker dalam acara ini adalah Ibu Karlina Supelli, seorang dosen yang aktif mengajar di UI dan Universitas Driyarkara. Ibu Karlina menjabarkan 3 pesan Tempo Media Week yaitu ada dimana kita di revolusi digital ini, bagaimana kita bisa meraih manfaat terbaik dari revolusi digital, dan ajakan untuk bergandengan tangan mewujudkan masyarakat digital yang lebih baik.

Bagaimana kita bisa mewujudkan masyarakat digital yang lebih baik? Salah satunya dengan pendidikan. Dalam diskusi yang diadakan setelah keynote speech, Semuel A Pangerapan, dirjen aplikasi informatika menkominfo 2017, mengatakan bahwa Kementerian Komunikasi dan Informatika saat ini sedang menggalakkan edukasi literasi digital yang bertajuk Gerakan Nasional Literasi Digital. Itu adalah langkah yang menarik. Namun ada langkah yang lebih menarik yang ditawarkan oleh Ibu Karlina: peer education.

Peer education dalam bahasa Indonesia sering disebut dengan pendidikan sebaya. Pendidikan sebaya adalah proses pembagian informasi di antara anggota komunitas yang terdiri dari anak muda untuk mencapai tujuan yang positif. Salah satu bentuk peer education yang bisa diterapkan untuk mewujudkan masyarakat digital yang lebih baik adalah dengan menjadi teman yang kritis.

Seorang teman pernah bercerita ada seorang penulis dan selebgram yang tidak tau mana ‘di’ yang merupakan imbuhan dan mana ‘di’ yang merupakan kata depan. Dan follower seseorang tersebut tidak ada yang menegurnya. Sedangkan temanku ini, kadang mengoreksi kesalahanku saat menulis.

Aku juga pernah melihat di lini masa sosial media seorang teman membagikan berita yang tidak benar. Teman yang lain kemudian menegurnya, “Ih, itu hoax ngapain disebar-sebarin sih?

Di suatu saat, aku pernah mengunggah sebuah status yang menyatakan bahwa Museum Sangiran dibangun oleh orang Belanda. Seorang teman kemudian mengoreksinya. Dia mengatakan bahwa Museum Sangiran dibangun oleh orang setempat. Pak Kades di sana lah yang berinisiatif untuk menjadikan rumahnya sebagai balai penyelamatan fosil. Aku kemudian mencari beritanya di internet dan kebanyakan artikel menuliskan hal yang sama seperti yang dikatakan oleh temanku.

Karena dikelilingi oleh teman-teman yang kritis inilah aku jadi berhati-hati untuk membagikan sesuatu di media sosial. Ada berita yang menghebohkan? Coba dicari tahu lagi, siapa tau itu hanya orang yang mencari sensasi. Atau siapa tahu itu hanya berita bohong. Mau menulis tentang sesuatu? Coba dicermati lagi. Apakah ada yang tidak sesuai?

Kalau seperti itu, jadi membatasi kebebasan berekspresi donk.

Apa gunanya kebebasan berekspresi kalau hanya dimanfaatkan untuk menyebarkan kabar yang meresahkan, untuk berkomentar sesuatu yang menyakitkan hati, atau untuk memprovokasi orang melakukan kericuhan?

Dunia maya bukan berarti tidak nyata, dunia maya itu hanya dunia yang tidak ragawi. Namun apapun yang kita lakukan di dunia maya ada efeknya di dunia nyata. Banyak kan pertengkaran-pertengkaran di dunia maya yang terbawa ke dunia nyata? Atau isu-isu di dunia nyata yang diseret ke dunia maya?

Sehingga seharusnya, norma-norma yang ada di dunia nyata pun perlu diterapkan di dunia maya. Teman yang baik di dunia nyata bukan teman yang diam saja ketika ada teman yang melakukan kesalahan kan? Teman yang baik adalah teman yang menegur kita ketika kita melakukan kesalahan. Demikian pula di dunia maya. Teman yang baik akan menegur kita jika kita mengunggah sesuatu yang salah.




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.