Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Nasional  
Lingkungan
indonesiana-arjunaputra
Arjunaputra Aldino
Rabu 06 Desember 2017 07:42 WIB
Dibaca (458)
Komentar (0)

Industri Kelapa Sawit dan Butterfly Effect

indonesiana-foto-industri-minyak-kelapa-sawit-kecam-moratorium-pembukaan-lahan2.jpg

Selama ini komoditas kelapa sawit memang banyak memberikan keuntungan ekonomi bagi Indonesia. Perdagangan kelapa sawit menjadi penghasil devisa utama Indonesia dimana pada tahun 2016, devisa yang dihasilkan dari ekspor kelapa sawit sebesar Rp 239,4 triliun dari total volume ekspor sebesar 25,75 juta ton.

Angka ini juga menempatkan Indonesia sebagai negara penghasil dan eksportir minyak sawit (palm oil) terbesar di dunia dengan total produksi 33,23 juta ton. Industri kelapa sawit ini menyumbang di antara 1,5-2,5 persen terhadap total produk domestik bruto (PDB).

Dengan semakin meningkatnya permintaan minyak sawit di pasar global dan keuntungan devisa yang menggiurkan dari industri kelapa sawit membuat pembukaan lahan untuk perkebunan kelapa sawit semakin massif. Luas perkebunan sawit pada 2016 meningkat 5,81 persen menjadi 11,91 juta hektare (ha) dari tahun sebelumya 11,26 juta ha.

Dalam sepuluh tahun terakhir luas lahan perkebunan kelapa sawit rata-rata meningkat 5,9 persen. Bahkan luas lahan perkebunan sawit saat ini tercatat meningkat hampir tiga kali lipat dari luas area di tahun 2000 dimana waktu itu hanya sekitar 4 juta hektar lahan di Indonesia dipergunakan untuk perkebunan kelapa sawit. Luas lahan ini diproyeksikan akan bertambah menjadi 13 juta hektar pada tahun 2020.

Akan tetapi pembukaan lahan untuk perkebunan kelapa sawit memakan lahan hutan alam yang selama ini penyimpan karbon terbesar di dunia. Berdasarkan data Forest Watch Indonesia, dalam kurun waktu 2009-2013 saja, Indonesia telah kehilangan hutan seluas 4,6 juta hektar atau setara dengan seluas Provinsi Sumatera Barat, tujuh kali luas Provinsi DKI Jakarta.

Ekspansi perkebunan kelapa sawit ini membuat laju deforestasi (penggundulan hutan) di Indonesia mencapai 1,13 juta hektare (ha) per tahun. Laju deforestasi Indonesia merupakan yang tercepat di antara negara-negara pemilik hutan di dunia. Setiap tahun Indonesia kehilangan 2% dari hutannya yang tersisa, yang mencatatkan Indonesia dalam Guiness Book of World Records.

Bahkan pembukaan lahan untuk kelapa sawit dengan cara membakar menjadi pemicu terjadinya kebakaran hutan di Indonesia. Sepanjang periode Juni-Oktober 2015, delapan daerah di Indonesia dilanda kebakaran hutan dengan luas lebih dari 100 ribu hektar (Ha). Kebakaran hutan ini sejak awal September 2015 telah memancarkan karbon pada tingkat 15-20 juta ton per hari. Angka ini tercatat lebih dari 14 juta ton yang dipancarkan setiap hari oleh seluruh kegiatan ekonomi Amerika.

Maka tak heran, jika Indonesia sebagai negara yang memiliki hutan tropis ketiga terluas di dunia, juga sekaligus menjadi negara ketiga terbesar penghasil gas rumah kaca setelah Amerika Serikat dan Cina. Emisi Indonesia yang bersumber dari lahan gambut yang rusak berkisar 1.8 giga ton karbon dioksida per tahun, atau setara dengan 4 persen dari total emisi gas rumah kaca, yang bersumber dari 0.1 persen dari permukaan dunia.

Apabila perluasan perkebunan kelapa sawit diteruskan, maka emisi karbon dari emisi lahan gambut diperkirakan akan meningkat hingga 50 persen pada tahun 2030.

Selain itu, hutan Indonesia juga sekaligus menyimpan keragaman hayati paling kaya di Bumi dengan kurang lebih terdapat sekitar 30 juta jenis flora dan fauna. Maka kerusakan hutan di Indonesia juga membuat eksistensi keanekaragaman hayati semakin punah.

Di lain sisi, sebuah studi dari Universitas Göttingen baru-baru ini menemukan industri sawit memicu kenaikan suhu permukaan tanah. Berdasarkan pengamatan ilmuwan antara 2000 hingga 2015 di Jambi, alihfungsi hutan membuat suhu rata-rata meningkat sebanyak 1.05 derajat Celcius, sementara suhu di kawasan hutan hanya meningkat 0.45 derajat Celcius. Perkebunan kelapa sawit memicu kenaikan suhu antara 0.8 derajat Celcius hingga 6 derajat Celcius.

Kondisi ini turut memperparah ketidakseimbangan alam dimana pembakaran hutan banyak menyumbang karbon dioksida ke atmosfir ditambah naiknya suhu permukaan tanah akibat perkebunan kelapa sawit. Di lain sisi, area hutan yang menyerap karbon dioksida semakin berkurang.

Disinilah ancaman terbesar terhadap kehidupan manusia, yakni terkena dampak perubahan iklim akibat pemanasan global yang memicu lumernya lapisan es di kutub dan pemanasan air laut yang membuahkan sejumlah bencana alam, seperti banjir, badai, kekeringan hingga munculnya beberapa penyakit mematikan.

Badan Penanggulangan Bencana Nasional mencatat, selama Januari-September 2016 telah terjadi 1.704 bencana di Indonesia, 584 kali di antaranya adalah banjir dan sebanyak 47 kali banjir disertai tanah longsor. Banjir tersebut mengakibatkan 411 korban meninggal dunia dan hilang. Sebanyak 31,1 persen korban meninggal dan hilang yang diakibatkan oleh bencana banjir. Dan bencana alam di Indonesia menelan kerugian sekitar Rp 30 triliun setiap tahun.

Bahkan laporan Center for Research on the Epidemiology of Disasters (CRED) menyebutkan sejak 1900 hingga 2016 telah terjadi 116 kali bencana gempa bumi di Indonesia. Jumlah itu lebih banyak dari bencana gempa yang terjadi di Jepang dalam periode yang sama, yakni 61 kasus.

Semua ini adalah gambaran dari butterfly effect dari ekspansi perkebunan kelapa sawit yang menyebabkan pemanasan global dan naiknya permukaan laut. Hilangnya hutan dan rusaknya ekosistem membuahkan perubahan iklim yang memicu terjadinya bencana alam yang mengancam kehidupan manusia jangka panjang.

Bumi yang dirusak adalah bumi yang satu, dan lapisan ozon yang rusak karena emisi karbon ada di atas bumi yang satu, maka akibatnya juga mengenai tubuh siapa saja, termasuk mereka orang-orang yang justru tak ikut mengotori cuaca dan mengubah iklim dunia. Ekspansi perkebunan kelapa sawit di Sumatera dan Kalimantan, mungkin dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi dalam beberapa tahun. Namun naiknya permukaan laut akibat pemanasan global dapat menenggelamkan setengah wilayah Indonesia di masa depan.

Untuk itu, pemerintah dan pelaku bisnis kelapa sawit perlu mempertimbangkan butterfly effect dari ekspansi perkebunan kelapa sawit. Jika tidak, suhu bumi akan semakin panas dan kekayaan yang kita peroleh dari industri kelapa sawit hanya akan jadi benda yang sia-sia.




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.