Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Travel  
Travel Trip
indonesiana-tempoid-default
Fahmy Radhi
Pengamat Ekonomi Energi UGM
Minggu 10 Desember 2017 03:31 WIB
Dibaca (2711)
Komentar (0)

Kunjungan Kerja PLN: Tuntutlah Ilmu Hingga Negeri China

indonesiana-637879

Rupanya, Direktur Utama PLN Sofyan Bashir mengamalkan Hadist Nabi Muhammad untuk menuntut ilmu hingga negeri China dalam kunjungan kerja di Shanghai China baru-baru ini. Tidak tanggung-tangung, Sofyan Basyir tidak hanya memboyong seluruh direksi PLN, tetapi juga mengajak rektor ITB, ITS, IPB, UI, Udayana dan sejumlah akademisi, termasuk penulis, anggota DEN, Ketua YLKI, serta sejumlah Media.

Tujuan kunjungan kerja itu adalah untuk melakukan benchmarking pengembangan pembangkit listrik di China dan untuk menjajagi kerjasama dengan China untuk pembangunan proyek listrik 35.000 MW di tanah air.  Selain itu, kunjungan ini juga untuk memastikan bahwa investor asal China memang mampu membangun proyek pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) IPP Jawa 7 dengan kualitas yang sama dengan pembangkit listrik di China

Berbeda dengan kunjungan kerja yang pernah saya ikuti sebelumnya, kali ini benar-benar kunjungan yang sangat serius dan efisien, serta melelahkan. Hampir setiap hari, dalam udara yang amat dingin dengan temperature antara 0-5 derajat, rombongan berangkat dari hotel jam 05.00 pagi dan kembali ke hotel jam 22.00. Seolah tanpa penat, sesampai di hotel masih dilanjutkan dengan diskusi untuk mendiskusikan hasil kunjungan hingga larut malam. Dengan ritme kunjungan semacam itu, tidak ada kesempatan bagi rombongan untuk jalan-jalan di kota Shanghai, bahkan tidak ada kesempatan untuk sekedar membeli oleh-oleh.

Kunjungan kerja diawali dengan mengunjungi Shanghai Jiatong Tong University untuk mempelajari peran Perguruan Tinggi dalam mengintegrasikan R&D Pembangkit Listrik antara Perguruan Tinggi dan Industri. Lalu dilanjutkan mengunjungi ke berbagai lokasi pembangkit listrik, mulai dari PLTU yang menggunakan energi batu bara, hidro, nuklir, hingga energi baru dan terbarukan (EBT)

Shanghai Electric Power Company Limited (SEPC) merupakan salah satu perusahaan energi listrik di Shanghai, yang dikunjungi.  SEPC mengembangkan energi hijau ramah lingkungan, yang fokus pada transformasi dari aplikasi energi tradisional menjadi aplikasi energi bersih dan efektif serta pengembangan EBT. Pada akhir semester pertama tahun 2013, Shanghai Electric Power memiliki sudah kapasitas terpasang sebesar 17.162 MW.

Kunjungan kedua ke Ninghai Power Plant, yang terletak di Provinsi Zhejiang, merupakan pembangkit listrik bertenaga batu bara dengan kapasitas 4.400 MW. PLTU ini dimiliki oleh perusahaan milik China, Shenhua Guohua Electric Power Corporation. Pembangkit listrik Guohua Ninghai Power Plant kapasitas 4x600MW dan 2x1000 MW, yang terletak di kota Ningbo, China. Pembangkit listrik yang menggunakan teknologi amat canggih, ultra super critical, yang merupakan pembangkit listrik paling efisien di dunia. Pembangkit listrik, yang menggunakan 35 persen batu baranya diimpor dari Indonesia, mampu mencapai efisiensi dalam pemakaian batu bara, dengan rata-rata pemakaian batu bara 312 gram per KWH.

Kunjungan ketiga ke Three Gorges Dam, bendungan dan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) terbesar di dunia, yang berlokasi di Hubei Sheng, Yichang Shi, Yiling, China. Bendungan Three Gorges dibangun sepanjang 2,3 km menyeberangi Sungai Yangtze, China. Selain bendungan, Three Gorges Dam juga memiliki Pembangkit Listrik Tenaga Air yang mampu menghasilkan listrik dengan kapasitas 22.500 MW.

Beberapa lesson learning dari hasil kunjungan kerja ini, pertama, China sejak awal telah menetapkan by design untuk melakukan diversifikasi energi bagi pengembangan pembangkit listrik, di antaranya: energi batu bara, energi hidro, energi tenaga mata hari, energi angin, energi panas bumi, dan energi nuklir. Berbeda dengan Indonesia yang lebih banyak mengekspor batu bara, China memasok sebagian besar batu bara yang dibutuhkan pembangkit listrik bersal dari produk batu bara dalam negeri. Meski tidak ada aturan tentang market domestic obligation, hanya hanya sebagian kecil saja produksi batu bara China yang diekspor.

Kedua, sejak awal pula China menetapkan by design untuk menghasilkan listrik yang ramah lingkungan melalui rekayasa teknologi, yang mampu mengubah energi batu bara menjadi energi bersih dan ramah lingkungan sesuai dengan visi "penyajian energi hijau untuk melayani masyarakat".

Ketiga, dalam pengembangan tekonologi pembangkit listrik, dan teknologi lainnya, China bertekat melakukan perebutan teknologi melalui transfer of technology, lalu mengembangkan sendiri secara mandiri. Awalnya, China mengundang investor asing melalui skema turkey project dengan mensyaratkan transfer of technology yang ketat dalam jangka waktu ditetapkan. Menurut Rektor ITS, China memiliki kemampuan reverse engineering yang handal terhadap semua produk teknologi terbaru, dengan strategi: “beli, bongkar, amati, tiru dan modifikasi”, lalu buat secara mandiri. Terungkap, China awalnya mengundang investor dari Jepang, namun Jepang tidak bersedia memenuhi persyaratan transfer of technology ditetapkan. Akhirnya China bekerja sama dengan Jerman dan negara Eropa lainnya untuk mengembangkan teknologi pembangkit listrik. Setelah merasa mampu mengembangkan teknologi pembangkit secara mandiri, China tidak membutuhkan lagi peran dari negara-negara maju dengan tidak memperpanjang kontrak yang sudah berakhir

Keempat, dalam proses pengembangan teknologi melalui R&D, China mengintegrasikan antara Perguruan Tinggi, Industri, dan Pemerintah. Integrasi three partied itu mampu mengembangkan teknologi, tidak hanya reverse engineering, tetapi juga melakukan innovative continues improvement, hingga mampu menghasilkan teknologi baru, yang lebih baik dari teknologi awal yang diperoleh dari negara-negara maju.

Kelima, di awal pengembangan pembangkit listrik, Pemerintah memberikan dukungan penuh dan bantuan serta fasilitas berupa: subsidi, fasilitas pajak dan pembebasan tanah dalam jangka waktu tertentu. Pada saat sudah berkembang, maka semua bantuan subsidi dan fasilitas pajak tidak lagi diberikan, tidak seperti Indonesia yang memberikan subsidi listrik sepanjang masa dalam jumlah yang besar.

Barangkali, kelima lesson learning dari hasil kunjungan kerja itu dapat diadopsi untuk pembangunan listrik di Indonesia, utamanya bagi PLN yang harus menyelesaikan proyek listrik 35.000 MW. Selain itu, Indonesia harus benar-benar serius dan terus menerus untuk mengembangkan EBT untuk pembangkit listrik, yang hingga kini masih tertatih-tatih. Integrasi antara Pemerintah, PLN dan Perguruan Tinggi dalam pengembangan EBT menjadi suatu keniscayaan, seperti yang dilakukan oleh China. (Pengamat Ekonomi Energi UGM dan Mantan Anggota Tim Reformasi Tata Kelola Migas)




Berikan Nilai
TOTAL NILAI : 5

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.