Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Travel  
Travel Kuliner
indonesiana-tempoid-default
Dian Basuki 
Minggu 10 Desember 2017 19:31 WIB
Dibaca (1902)
Komentar (0)

Lidah yang Terpikat

indonesiana-640153

 

Bagaimana lidah kita terpikat oleh makanan dapat dilihat dari seberapa intens makanan itu menjadi bagian keseharian hidup kita. Intensitas itu ditunjukkan oleh frekuensi kita menikmati makanan atau kapan saja kita menyantap hidangan itu. Bahkan, secara sosial, ada makanan tertentu yang menjadi ciri khas masyarakat daerah tertentu karena begitu intensnya interaksi antara masyarakat dan makanannya.

Sebutan Kota Gudeg menggambarkan betapa intensifnya makanan gudeg sebagai hidangan yang dinikmati penghuni kota Yogyakarta. Jika kita bertandang ke Yogya, kita dapati orang-orang tengah menikmati sarapan nasi gudeg. Siang hari? Jangan ditanya lagi. Malam pun begitu. Bahkan, beberapa warung gudeg baru buka mulai jam 10 malam. Sahur? Bukan, tapi di situlah kenikmatan menyantap gudeg Yogya di larut malam.

Terkesan mengherankan bahwa wong Yogjo menjadikan gudeg santapan pagi, siang, malam bahkan hingga larut malam. Sebenarnya tidak perlu heran, sebab inilah yang disebut lidah yang terpikat—lidah kita menyimpan memori mengenai cita rasa makanan tertentu dan membuat kita selalu ingin menikmatinya. Meskipun setiap hari makan gudeg, kita tetap dapat merasakan sensasinya yang khas. Ada rasa kangen yang tertinggal dan melekat di lidah setiap kali kita usai menyantapnya.

Pengalaman serupa barangkali juga dirasakan sebagian masyarakat Jawa Timur, misalnya Madiun, Mojokerto, dan Kediri yang lidahnya telanjur terpikat oleh nasi pecel—beberapa jenis sayuran yang dipanaskan sejenak, lalu diguyur dengan sambel kacang cair. Rasa sambalnya manis, asin, sedikit asam, dan pedas dengan tekstur kacang yang kasar. Biasanya nasi pecel disajikan dengan rempeyek kacang.

Ketika mengajak keluarga Bandung ke Jawa Timur, mereka terheran-heran melihat orang pagi-pagi antri di depan lapak nasi pecel. Sarapan nasi pecel yang lumayan pedas? Bagaimana perut dapat menerima tamu pertama ini? Apa tidak mules? Bagi sebagian masyarakat ini, nasi pecel sudah tidak terpisahkan: pagi, siang, maupun malam, selalu ada warung nasi pecel yang buka.

Di Bandung, bubur ayam membuat lidah terpikat tidak terkira. Walaupun batagor kerap dianggap sebagai makanan khas Bandung, tapi jarang ada penjual batagor yang membuka lapaknya pagi sekali. Tukang buburlah yang paling banyak, di mana-mana ada bubur ayam. Tidak sulit menemukan tukang bubur ayam dengan beragam harga.

Meskipun tampak serupa, ada beragam rasa bubur bergantung kepada racikan dan pengolahannya. Ada bubur yang rasa dan aromanya seperti diasap, bukan karena tak sengaja gosong, melainkan dimasak sedemikan agar rasa dan aroma asap itu muncul (ya mirip-mirip smoked beef dan smoked fish). Juga ada beragam topping: telor ayam/bebek asin, cakue potong, ayam suwir, ati ampela, ada pula yang menambahkan kuah kari.  

Meskipun tidak sedang sakit gigi atau sakit perut, urang Bandung terbiasa sarapan bubur ayam. Siang pun, bubur ayam tersedia. Sore dan malam hari pun, bubur ayam tetap ada. Lidah yang sudah terpikat bertahun-tahun, bahkan secara sosial, bukan sedikit orang, itulah fenomenanya. Bubur ayam menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, pagi, siang, dan malam. Sekalipun orang Bandung juga sangat menyukai batagor dan bakso, namun jarang orang Bandung yang sarapan batagor maupun bakso.

Di Palembang pun begitu. Pagi, siang, dan malam selalu ada pempek. Tiada hidup tanpa pempek. Bagi orang Palembang, kepala daerah boleh datang dan pergi, tapi pempek tidak tergantikan. Pempek bukan sebuah trend atau makanan yang lagi hits lalu lenyap ditelan waktu, melainkan teman akrab dalam menjalani kehidupan yang menyimpan cita rasa asin, manis, asam, dan pedas seperti cita rasa pempek. **




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.